NTT Hari Ini

Senin, 21 September 2026

Tiga Desa di Titehena Gelar Ritual Tolak Bala Usir Hama Tikus

Masyarakat adat dan petani di Desa Konga, Kobasoma, dan Lewolaga, Kecamatan Titehena, Flores Timur, menggelar ritual tolak bala di kampung lama Konga pada 12 Agustus 2026 untuk mengusir hama tikus yang merusak padi.

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· 3 menit baca

Larantuka — Masyarakat adat dan petani dari Desa Konga, Kobasoma, dan Lewolaga, Kecamatan Titehena, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, menggelar ritual adat tolak bala untuk mengusir hama tikus di kampung lama Konga pada Rabu, 12 Agustus 2026.

Serangan tikus dilaporkan menyerang tanaman padi di kawasan irigasi Desa Konga sejak 2025 dan membuat petani kesulitan mempertahankan produksi. Menurut Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Flores Timur, serangan di kawasan irigasi Konga telah mengakibatkan kerusakan lahan dengan total luasan 20,6 hektare.

Ritual adat digelar setelah upaya pencegahan oleh petani, penyuluh pertanian, dan pemerintah setempat belum mampu menghentikan serangan hama. Warga dari tiga desa datang ke kampung lama Konga sebagai pusat pelaksanaan upacara.

Ritual tolak bala di kampung lama Konga

Ketua Lembaga Adat Desa Konga, Martinus Juang Lewar, menjelaskan bahwa ritus yang dilaksanakan merupakan ritual tolak bala, yaitu upacara adat untuk memohon perlindungan dari marabahaya, termasuk serangan hama tikus. Dalam ritual itu, warga menyiapkan sesajen di batu mesbah yang dalam bahasa setempat disebut Merang.

Martinus mengaitkan kemunculan hama dengan keseimbangan hubungan manusia dan alam. Pandangan tersebut menjadi dasar bagi masyarakat adat dan petani untuk menyatukan langkah melalui upacara bersama di kampung lama Konga.

Menurut penjelasan tokoh adat itu, ritual tolak bala di Konga lazim digelar setiap tiga tahun. Namun pelaksanaannya dapat dipercepat bila terjadi keadaan yang dipandang genting, seperti serangan hama yang berkepanjangan.

Setelah seremonial pembuka, warga menangkap tikus di lahan pertanian dan mengurungnya dalam wadah khusus yang disebut Hurung. Tikus-tikus itu kemudian dibawa dengan perahu ke tengah laut untuk dilepaskan, sebagai simbol mengembalikan gangguan jauh dari permukiman dan lahan pertanian.

Warga dari Desa Konga, Kobasoma, dan Lewolaga, termasuk para petani yang terdampak langsung, ikut serta dalam seluruh rangkaian ritual. Upacara berlangsung di ruang terbuka di kampung lama Konga dengan melibatkan tokoh adat dan aparat desa.

Data kerusakan lahan akibat serangan tikus

Ketua Kelompok Tani Peten Lewo Poe Pore di Desa Konga, Yosef Ratu Lewar, mengatakan petani telah berupaya melakukan pengendalian hama secara swadaya, dengan pendampingan penyuluh pertanian lapangan. Namun jumlah tikus masih sulit dikendalikan dan dalam beberapa kasus padi di sawah habis dimakan hama dalam waktu singkat.

Yosef memperkirakan kerusakan sawah di Konga mencapai sekitar 20 hektare. Perkiraan itu sejalan dengan data Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Flores Timur yang memetakan tingkat kerusakan di kawasan irigasi Konga.

Menurut Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Flores Timur, Yoseph Sadi Open, serangan tikus di kawasan irigasi Desa Konga mengakibatkan kerusakan ringan seluas 18 hektare, kerusakan sedang 1,65 hektare, kerusakan berat 0,35 hektare, dan lahan gagal panen atau puso 0,60 hektare. Total kerusakan dari seluruh kategori tersebut mencapai 20,6 hektare.

  • Rusak ringan: 18 hektare.
  • Rusak sedang: 1,65 hektare.
  • Rusak berat: 0,35 hektare.
  • Gagal panen atau puso: 0,60 hektare.

Dinas Pertanian Flores Timur telah mengidentifikasi serangan hama dan menerjunkan personel lapangan untuk mendampingi petani di Desa Konga dan sekitarnya. Sebelumnya, pemerintah kecamatan, Babinsa, penyuluh pertanian, dan pemerintah desa di Titehena telah membahas penanganan hama tikus dalam rapat koordinasi di Balai Penyuluhan Pertanian Desa Konga pada akhir Juli 2026.

Bagi warga Konga, Kobasoma, dan Lewolaga, penanganan hama tikus tidak hanya bergantung pada pengendalian teknis dan penggunaan pestisida. Ritual tolak bala menjadi bagian dari respons budaya untuk menjaga hubungan dengan alam sekaligus menegaskan gotong royong dalam menghadapi ancaman terhadap produksi pangan.

Sumber

Berita berikutnya

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.