BMKG Catat 15.722 Gempa Susulan Flores, Aktivitas Masuki Fase Peluruhan
BMKG mencatat 15.722 gempa susulan pascagempa M7,7 Flores hingga 15 September 2026, dengan mayoritas bermagnitudo kecil dan aktivitas memasuki fase peluruhan.
Oleh Pandi Muktar
Editor: Mursyid Sonsang
· 4 menit baca
Labuan Bajo — Aktivitas gempa susulan setelah gempa utama berkekuatan M7,7 di Flores pada 15 Agustus 2026 tercatat menurun signifikan dan telah memasuki fase peluruhan, menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) per 15 September 2026.
Plh. Deputi Bidang Geofisika BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menyampaikan bahwa hingga 30 hari pascagempa utama, BMKG mencatat 15.722 gempa susulan dengan magnitudo antara M0,9 hingga M6,2, dan 190 kejadian di antaranya dirasakan masyarakat.
Ardhasena menjelaskan, pola frekuensi gempa susulan harian dan mingguan menunjukkan penurunan dan telah memasuki fase peluruhan. BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan memantau informasi resmi, terutama selama proses rehabilitasi dan rekonstruksi di wilayah terdampak.
Frekuensi gempa susulan meluruh
Menurut paparan BMKG, sebagian besar gempa susulan berada pada kategori magnitudo kecil. Dari 15.722 gempa susulan, gempa dengan magnitudo di bawah M3 tercatat sebanyak 11.993 kejadian atau sekitar 75,9 persen.
BMKG juga merinci kelompok magnitudo lain: gempa M3 hingga di bawah M4 sebanyak 3.308 kejadian, M4 hingga di bawah M5 berjumlah 476 kejadian, dan gempa dengan magnitudo M5 atau lebih tercatat 26 kejadian.
Berdasarkan analisis BMKG, gempa susulan dengan magnitudo M3 hingga di bawah M4 diperkirakan masih bisa terjadi dalam enam hingga tujuh minggu ke depan dengan frekuensi menurun, sementara gempa susulan di bawah M3 berpotensi berlanjut selama beberapa bulan.
BMKG menegaskan, fase peluruhan adalah kecenderungan statistik aktivitas susulan, bukan jaminan bahwa gempa susulan telah berakhir atau bentuk prediksi waktu terjadinya gempa berikutnya. Pemeriksaan kondisi bangunan dan penerapan standar konstruksi tahan gempa tetap ditekankan dalam proses pemulihan.
Survei lapangan pascagempa di tujuh kabupaten
Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu BMKG Teguh Rahayu melaporkan hasil survei lapangan yang dilakukan BMKG pada 15–25 Agustus 2026 di tujuh kabupaten terdampak, yaitu Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, Ngada, Nagekeo, Ende, dan Sikka.
Survei makroseismik mencatat intensitas guncangan maksimum VII MMI di sejumlah lokasi di Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, Nagekeo, dan Sikka. Temuan ini menjadi salah satu dasar kajian teknis untuk mendukung mitigasi dan rekonstruksi di wilayah terdampak.
Dalam survei yang sama, BMKG menemukan indikasi likuefaksi berupa semburan pasir di Desa Waekokak, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo. Teguh Rahayu menyebut fenomena ini sebagai peringatan bagi perencanaan tata ruang dan pembangunan ke depan di kawasan tersebut.
Hasil pemetaan mikrozonasi menunjukkan sebagian besar wilayah survei berada di atas tanah berkategori sedang. Namun, sejumlah kawasan seperti Reok, Mbay, dan Marapokot diidentifikasi memiliki tanah lunak yang dapat memperkuat guncangan gempa. BMKG menyarankan hasil pemetaan ini dimanfaatkan untuk penentuan desain dan lokasi pembangunan kembali.
Jejak tsunami dan kerusakan di pesisir utara Flores
Survei tsunami BMKG menemukan jejak gelombang di sepanjang pantai utara Flores. Run-up atau tinggi gelombang tertinggi tercatat 2,68 meter di Desa Salama (Selama), disusul Tadu Tengah 2,42 meter, Dusun Tompong 2,39 meter, dan Nanga Dero 2,24 meter.
Jangkauan genangan atau inundasi terjauh mencapai 145 meter dari garis pantai di Nampar Sepang. Di Desa Salama, genangan mencapai 136 meter dan di Tadu 60 meter.
Tsunami tersebut menyebabkan kerusakan pada 23 rumah di empat lokasi, dengan dua rumah di Desa Salama dilaporkan tersapu gelombang. Menurut laporan BMKG yang dikutip sejumlah media, tidak ada korban jiwa akibat tsunami karena warga melakukan evakuasi setelah menerima peringatan dini.
Evakuasi mandiri dan peringatan dini
Gempa utama pada 15 Agustus 2026 berpusat di utara Flores dengan kedalaman sekitar 15 kilometer dan mekanisme sesar naik yang berkaitan dengan struktur Flores Back-Arc Thrust, menurut pemodelan BMKG.
BMKG menyebut telah menerbitkan peringatan dini tsunami sekitar dua menit setelah gempa utama. Pemantauan di sejumlah stasiun pengukur muka air laut di Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi Selatan merekam kenaikan permukaan laut, antara lain lebih dari satu meter di beberapa titik pesisir utara.
BMKG mengingatkan masyarakat di pesisir utara NTT agar segera menjauh dari pantai dan menuju tempat lebih tinggi setiap kali merasakan gempa kuat atau menerima informasi resmi tentang potensi tsunami. Evakuasi mandiri yang cepat dinilai berkontribusi mengurangi korban dalam peristiwa ini.
Sumber
- BMKG – Siaran Pers "Gempa Flores Meluruh, BMKG Ungkap Hasil Survei Lapangan sebagai Basis Mitigasi dan Rekonstruksi"
- NU Online – "BMKG Temukan Indikasi Likuefaksi di Nagekeo dan Jejak Tsunami Usai Gempa M7,7 NTT"
- Riwara.id – "30 Hari Pasca Gempa Flores M7,7, BMKG Mencatat Ada 15.722 Gempa Susulan dan Tsunami"
Berita berikutnya
BNPB Tegaskan 94 Kematian di Pengungsian Gempa NTT karena Penyakit Kronis
BNPB menegaskan 94 warga Nusa Tenggara Timur yang meninggal di pengungsian pascagempa 15 Agustus 2026 bukan korban trauma fisik langsung, melainkan ma…

