BMKG Ingatkan Angin Kencang di NTT pada 18–20 September 2026
BMKG memperkirakan sebagian besar Indonesia masih berada dalam curah hujan rendah hingga menengah pada 18–24 September 2026.
Oleh Arsyid Muhamad
Editor: Mursyid Sonsang
· 2 menit baca
Kupang — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan sebagian besar wilayah Indonesia masih berada dalam kondisi curah hujan rendah hingga menengah pada periode 18–24 September 2026. Untuk Nusa Tenggara Timur, BMKG mencantumkan potensi angin kencang pada 18–20 September di sejumlah wilayah, termasuk Kota Kupang, Kabupaten Kupang, Rote Ndao, Sabu Raijua, Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, dan Ngada.
Dalam prakiraan cuaca NTT yang dirilis media lokal, angin kencang juga dipantau pada wilayah-wilayah tersebut dengan kecepatan angin yang dapat mengganggu aktivitas warga di ruang terbuka. BMKG menempatkan NTT dalam wilayah yang perlu waspada pada masa peralihan menuju akhir musim kemarau, ketika udara kering masih dominan.
Prakiraan BMKG menyebut kondisi kering dipengaruhi musim kemarau yang masih berlangsung dan anomali atmosfer di sejumlah wilayah Indonesia bagian selatan. Pada saat yang sama, BMKG memperingatkan potensi kekeringan dan kebakaran lahan karena kelembapan udara rendah dan vegetasi mudah terbakar.
Hujan tetap mungkin turun lokal
Meski kering mendominasi, hujan lokal masih mungkin terjadi karena dinamika atmosfer. BMKG menyebut ada pengaruh gelombang Kelvin yang melintas di pesisir utara Jawa Timur hingga NTT pada periode tersebut, sehingga dapat mendukung pembentukan awan hujan di wilayah tertentu.
Namun, peluang hujan itu tidak merata. Dalam prakiraan sepekan BMKG, wilayah dengan potensi hujan lebih menonjol berada di Sumatra bagian utara hingga tengah, Kalimantan, Sulawesi, Papua Pegunungan, dan Papua.
Bagi warga NTT, kondisi ini berarti kewaspadaan tetap perlu dijaga. Aktivitas di luar ruangan pada siang hari sebaiknya disesuaikan dengan kondisi cuaca, sementara penggunaan air perlu dihemat ketika pasokan terbatas.
Waspada kekeringan dan karhutla
BMKG juga mengingatkan risiko kebakaran hutan dan lahan di tengah udara kering dan angin yang menguat. Titik panas masih terpantau di beberapa wilayah Indonesia, menandakan perlunya pengawasan terhadap lahan kering, semak belukar, dan kawasan hutan.
Warga diminta tidak membakar sampah atau membuka lahan dengan api. Pemerintah daerah dan pelaku pertanian juga perlu menyesuaikan pengelolaan air dan kegiatan budidaya dengan ketersediaan kelembapan tanah yang masih terbatas.
Untuk Timor dan wilayah lain di NTT, peringatan utama pada periode ini tetap tertuju pada angin kencang dan kondisi kering. Di tengah musim kemarau yang masih berlangsung, pemantauan cuaca harian menjadi penting agar aktivitas masyarakat tidak terdampak oleh perubahan angin yang cepat.
Sumber
Berita berikutnya

PLN Kupang Ingatkan 4 Risiko Instalasi Listrik Rumah Saat Kemarau
Menjelang puncak musim kemarau, PLN ULP Kupang mengimbau warga lebih waspada terhadap instalasi listrik rumah.
Baca juga




