BPBD: 150 Desa di Empat Kabupaten NTT Alami Krisis Air Bersih
BPBD NTT per 22 Agustus 2026 mencatat 150 desa di empat kabupaten mengalami kekeringan ekstrem dan krisis air bersih, dengan lebih dari 80 ribu jiwa kesulitan akses air.
Oleh Kevin Mikael Januar
Editor: Mursyid Sonsang
· Peristiwa: · 4 menit baca
Kupang — Krisis air bersih akibat kemarau panjang melanda sejumlah wilayah di Nusa Tenggara Timur, dengan 150 desa di empat kabupaten tercatat mengalami kekeringan ekstrem menurut Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) provinsi per 22 Agustus 2026.
BPBD NTT, sebagaimana dikutip media lokal, menyebut krisis air itu terjadi di 12 kecamatan yang tersebar di Kabupaten Timor Tengah Selatan, Belu, Malaka, dan Rote Ndao.
Laporan tersebut menyatakan lebih dari 80 ribu jiwa kesulitan memperoleh akses air bersih karena sumber utama seperti sumur, mata air, dan embung mengering.
BMKG: Kemarau dan kekeringan meteorologis
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dalam Analisis Dinamika Atmosfer Dasarian III Agustus 2026 mencatat 92,80 persen wilayah Indonesia mengalami curah hujan rendah, sementara 93,96 persen wilayah berada pada sifat hujan di bawah normal.
NTT termasuk dalam zona musim kemarau pada dasarian ketiga Agustus 2026.
BMKG juga memantau pengaruh El Niño Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD) terhadap kekeringan di Indonesia.
Indeks ENSO rata-rata tiga bulanan untuk Juni–Juli–Agustus 2026 tercatat sebesar 2,2, menunjukkan El Niño dengan intensitas sangat kuat.
Indeks IOD dasarian Agustus 2026 tercatat positif 0,290, menunjukkan pola laut yang mendukung berkurangnya curah hujan di banyak wilayah.
Curah hujan rendah hingga Oktober
BMKG memprakirakan curah hujan kategori rendah, kurang dari 50 milimeter per dasarian, masih dominan di NTT pada September 2026.
Pada Dasarian II September 2026, curah hujan rendah diperkirakan terjadi di Sumatera bagian tengah hingga selatan, Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, NTT, sebagian besar Kalimantan dan Sulawesi, Maluku Utara, Maluku, serta sebagian wilayah Papua.
Prakiraan sepekan BMKG untuk periode 8–14 September 2026 juga menyebut curah hujan kategori rendah kurang dari 50 milimeter per dasarian diprediksi dominan di Jawa, Bali, NTB, NTT, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan sebagian Papua.
Kondisi atmosfer kering itu memperkuat dampak kemarau bagi pasokan air permukaan dan sumber air rumah tangga di wilayah yang sudah mengalami kekeringan.
Wilayah NTT dalam peringatan dini kekeringan
Peringatan dini kekeringan meteorologis BMKG untuk Dasarian I September 2026 menempatkan sejumlah kabupaten dan kota di NTT dalam kategori waspada, siaga, dan awas.
Media nasional yang mengutip peringatan BMKG menyebut 212 kecamatan di NTT berada dalam ancaman kekeringan meteorologis, dengan 25 kecamatan berstatus waspada, 121 siaga, dan 66 awas.
Wilayah terdampak tersebar di 22 kabupaten dan kota, termasuk Alor, Belu, Ende, Flores Timur, Kota Kupang, Kabupaten Kupang, Lembata, Malaka, dan Rote Ndao.
BMKG menjelaskan, klasifikasi waspada, siaga, dan awas didasarkan pada kombinasi hari tanpa hujan dan probabilitas curah hujan rendah.
Dampak krisis air di empat kabupaten
Laporan BPBD yang dikutip media menyebut sebaran desa terdampak krisis air bersih sebagai berikut: 60 desa di Kabupaten Timor Tengah Selatan, 40 desa di Belu, 30 desa di Malaka, dan 20 desa di Rote Ndao.
Desa terdampak berada di wilayah lereng kering dan perbukitan dengan akses distribusi air terbatas, sehingga kemarau panjang cepat memengaruhi cadangan air rumah tangga.
Lebih dari 80 ribu penduduk di 150 desa itu dilaporkan mengalami kesulitan mendapatkan air untuk kebutuhan dasar.
Sumber air seperti sumur gali, mata air pegunungan, dan embung komunal disebut mengalami pengeringan sehingga warga mengandalkan pasokan air dari luar desa.
Sejumlah laporan menyebut pemerintah daerah bersama BPBD menyalurkan bantuan air bersih dengan mobil tangki ke desa-desa terdampak, namun rincian volume distribusi dan frekuensi perjalanan belum dipublikasikan dalam bentuk data terbuka.
Risiko berlanjut dan kebutuhan data rinci
Kombinasi kemarau meteorologis yang kuat dan El Niño intensitas sangat kuat membuat risiko kekurangan air di NTT masih tinggi hingga Oktober 2026.
Tanpa data rinci mengenai volume distribusi air, kapasitas tandon, dan titik pengisian di desa, sulit menilai kecukupan bantuan bagi lebih dari 80 ribu jiwa yang tercatat terdampak.
Informasi teknis itu penting untuk merencanakan penambahan armada, anggaran, dan infrastruktur air bersih di kabupaten-kabupaten yang berulang kali mengalami krisis setiap musim kemarau.
Sumber
Berita berikutnya

Satlantas Polres Alor Anjangsana ke Dua Purnawirawan Jelang HUT Lantas
Satlantas Polres Alor mengunjungi dua purnawirawan Polri di Alor pada Rabu, 16 September 2026, sebagai bagian rangkaian menyambut Hari Lalu Lintas Bha…
Baca juga



