NTT Hari Ini

Jumat, 23 Oktober 2026

Dinkes Kota Kupang Imbau Warga Waspadai Kabut Asap

Dinas Kesehatan Kota Kupang mengingatkan risiko gangguan pernapasan, iritasi mata dan kulit akibat udara kabur. DPRD NTT mendesak pengukuran kualitas udara serta mitigasi.

Oleh

· 2 menit baca

Buka foto ukuran besar. Ilustrasi: Tumpukan masker medis sekali pakai berwarna biru muda terlihat dari atas.
Ilustrasi: Tumpukan masker medis sekali pakai berwarna biru muda terlihat dari atas. · Foto: https://kaboompics.com/ / Pexels

Kota Kupang — Dinas Kesehatan Kota Kupang mengimbau warga mewaspadai udara kabur atau asap yang melanda wilayah Kupang dan sekitarnya pada 22 Oktober 2026.

Mengapa ini penting: Warga Kupang mendapat imbauan menggunakan masker dan kacamata saat beraktivitas di luar ruangan, sementara pemerintah didorong mengukur kualitas udara dan menyiapkan mitigasi.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Kupang Retnowati mengatakan paparan asap dapat memicu infeksi saluran pernapasan akut, gangguan pernapasan berat, serta iritasi mata dan kulit. Warga yang beraktivitas di luar ruangan diminta menggunakan masker dan kacamata jika asap mengganggu.

Menurut laporan Pos Kupang, udara kabur telah berlangsung sekitar dua pekan. Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I El Tari Kupang Sti Nenot'ek mengatakan kondisi itu diduga dipengaruhi sebaran asap kebakaran hutan dan lahan dari wilayah lain, termasuk Papua dan Maluku bagian selatan, serta wilayah di Pulau Timor dan sekitar Nusa Tenggara Timur.

BMKG sebelumnya menjelaskan citra satelit Himawari-9 menunjukkan potensi sebaran partikulat asap hingga Kota Kupang. Data pengamatan udara atas pada 8 Oktober 2026 juga menunjukkan dua lapisan atmosfer stabil pada ketinggian sekitar 2,8 kilometer dan 3,9 kilometer yang dapat memperlambat penyebaran vertikal polutan.

Wakil Ketua Komisi V DPRD Nusa Tenggara Timur Winston Rondo mendesak pemerintah mengukur kualitas udara dan menyiapkan mitigasi. Menurut laporan RRI, ia meminta hasil pengukuran dibuka kepada publik serta mendorong koordinasi Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan dengan BMKG.

Winston juga menyebut sekolah membutuhkan arahan mengenai pembatasan kegiatan luar ruangan, penyesuaian olahraga dan upacara, serta penanganan anak yang mengalami keluhan pernapasan. Penyesuaian kegiatan belajar, menurut dia, perlu mengikuti hasil pengukuran udara dan rekomendasi kesehatan setempat.

Sumber

Baca berikutnya

  1. Lanjutan topik ini

  2. Terbaru di Bencana

  3. Berita utama hari ini

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.