Gempa M 7,7 Rusak Perahu Nelayan dan Tambak Garam di Nagekeo
Gempa bermagnitudo 7,7 di Mbay, Nagekeo, pada 15 Agustus 2026 merusak 104 perahu nelayan dan hampir 100 hektare tambak garam di Mbay 2. Nelayan dan petani garam menanti pemulihan melalui rencana rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana.
Oleh Pandi Muktar
Editor: Mursyid Sonsang
· Peristiwa: · 4 menit baca
Nagekeo — Gempa bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Mbay, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, pada Sabtu, 15 Agustus 2026, merusak perahu nelayan dan tambak garam di pesisir Aesesa dan sekitarnya. Menurut laporan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Nagekeo yang dikutip media lokal, sebanyak 104 perahu dan alat tangkap nelayan rusak dengan nilai kerugian sementara ditaksir sekitar Rp800 juta.
Kerusakan terjadi setelah gelombang menghantam perahu, mesin, dan alat tangkap nelayan saat gempa dan peringatan dini tsunami diberlakukan. Ratusan pelaku usaha perikanan yang terdampak tersebar di wilayah pesisir Kecamatan Aesesa.
Bagi nelayan, perahu dan alat tangkap merupakan modal utama untuk memperoleh pendapatan harian. Kerusakan sarana membuat sebagian nelayan belum dapat kembali beraktivitas penuh, meskipun pasokan ikan di pasar masih tersedia.
Menurut DKP Nagekeo, data sementara menunjukkan beberapa poin utama kerusakan.
- Perahu dan alat tangkap rusak: 104 unit.
- Perkiraan nilai kerusakan: sekitar Rp800 juta.
- Wilayah pesisir terdampak utama: Kecamatan Aesesa.
Dampak Gempa dan Proses Pemulihan Nelayan
DKP Nagekeo melakukan pendataan di pesisir setelah gempa dan peringatan dini tsunami dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Pendataan mencakup kerusakan perahu, mesin, dan alat tangkap yang digunakan nelayan setempat.
Menurut keterangan DKP yang dimuat media, ratusan nelayan terdampak masih mengalami trauma sehingga belum seluruhnya kembali melaut. Sebagian pasokan ikan di pasar dilaporkan berasal dari nelayan luar daerah.
Pemerintah daerah mulai menyiapkan langkah pemulihan melalui mekanisme rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana. Dokumen rencana rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana (R3P) disusun sebagai dasar pengajuan bantuan reguler kepada pemerintah provinsi dan kementerian terkait.
Usulan pengadaan kembali perahu dan alat tangkap belum dapat dimasukkan ke dalam skema tanggap darurat, sehingga bantuan peralatan tidak bisa langsung disalurkan melalui mekanisme darurat.
Tambak Garam dan Akses Produksi Terganggu
Selain sektor perikanan tangkap, gempa juga merusak sentra tambak garam di Kelurahan Mbay 2, Kecamatan Aesesa. Media lokal yang mengutip pejabat daerah melaporkan bahwa hampir 100 hektare lebih area tambak terdampak, termasuk wadah penjemuran garam dan jalan produksi untuk mobilisasi hasil panen.
Kerusakan jalan produksi membuat garam yang telah diproduksi sulit diangkut keluar tambak. Petani garam terpaksa mengandalkan tenaga manusia, dengan ongkos angkut per karung yang disebutkan memberatkan biaya produksi.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Nagekeo dilaporkan mengalokasikan anggaran bahan bakar untuk mengoperasikan alat berat milik petani garam. Langkah ini ditujukan untuk memperbaiki akses jalan produksi agar distribusi garam dari Mbay 2 dapat kembali lancar.
Hingga sekitar Agustus 2026, produksi garam di Mbay 2 dilaporkan mencapai lebih dari 7.000 ton, dengan rata-rata produksi tahunan sekitar 15.000 ton dan pasar pemasaran yang mencakup kota-kota di luar NTT.
Selain kerusakan fisik tambak dan jalan produksi, petani garam menghadapi tekanan dari penurunan harga jual pada 2026. Pemulihan usaha garam karenanya bergantung pada perbaikan infrastruktur produksi sekaligus pemulihan akses pasar.
Konteks Gempa M 7,7 di Nagekeo
BMKG mencatat gempa bumi tektonik berkekuatan M 7,7 terjadi pada Sabtu, 15 Agustus 2026, pukul 04.58 WIB, dengan pusat gempa sekitar 30–38 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, pada kedalaman sekitar 15 kilometer. BMKG menyatakan gempa tersebut berpotensi tsunami dan mengeluarkan peringatan dini tsunami untuk Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara.
Dalam pemutakhiran informasi, BMKG menyebut peringatan dini tsunami akibat gempa M 7,7 di timur laut Mbay-Nagekeo telah berakhir. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat korban manusia dan kerusakan di beberapa wilayah, sementara pemerintah daerah di Nagekeo mendata kerusakan pada sarana perikanan dan tambak garam.
Sejak pertengahan Agustus hingga awal September 2026, ribuan gempa susulan tercatat di Pulau Flores, memperpanjang masa ketidakpastian dan kekhawatiran warga pesisir. Dalam kondisi ini, upaya rehabilitasi sarana nelayan dan petani garam di Nagekeo menjadi bagian dari proses pemulihan ekonomi lokal setelah gempa.
Sumber
Berita berikutnya
BNPB: 135 Orang Meninggal Akibat Gempa Magnitudo 7,7 di NTT
BNPB melaporkan 135 orang meninggal akibat gempa magnitudo 7,7 di Nusa Tenggara Timur per Selasa, 8 September 2026.
Baca juga



