NTT Hari Ini

Sabtu, 7 November 2026

Guru Besar Undana Kritik Budaya Mengejar Nilai di Kupang

Prof. Simon Sabon Olla menilai tekanan nilai tinggi membuat pendidikan lebih mengejar hasil administratif. Ia mendorong penilaian yang mengutamakan kemampuan nyata, kejujuran, dan karakter siswa.

Oleh

· 2 menit baca

Buka foto ukuran besar. Ilustrasi: Sebuah pensil dan sudut-sudut buku catatan beraneka warna di atas latar hitam.
Ilustrasi: Sebuah pensil dan sudut-sudut buku catatan beraneka warna di atas latar hitam. · Foto: MART PRODUCTION / Pexels

Kupang — Guru Besar Universitas Nusa Cendana Kupang, Prof. Simon Sabon Olla, mengkritik budaya mengejar angka dalam pendidikan di Nusa Tenggara Timur pada Jumat, 6 November 2026. Ia menilai tekanan untuk menghasilkan nilai tinggi dapat membuat sekolah, orang tua, dan peserta didik lebih mengutamakan hasil administratif daripada kemampuan akademik nyata.

Menurut Simon, mutu lulusan kerap diukur melalui angka rapor dan prestasi sekolah. Ukuran itu belum tentu menggambarkan kompetensi akademik peserta didik secara nyata. Ia juga menyoroti kecenderungan sekolah mengejar pujian melalui capaian administratif, sementara proses belajar dan pembentukan karakter terabaikan.

Simon menyebut tekanan pendidikan di Nusa Tenggara Timur berlangsung berjenjang. Karena itu, hasil ujian seharusnya dipakai untuk mengukur kemampuan, mengenali kekurangan, dan meningkatkan kompetensi diri. Ia meminta orang tua membimbing anak agar mengandalkan kemampuan sendiri, mengikuti ujian secara jujur, serta tekun belajar mandiri.

Karakter dan kemampuan nyata perlu menjadi ukuran pendidikan

Catatan ini relevan bagi pembaca di Kupang dan wilayah Nusa Tenggara Timur karena nilai administratif tidak selalu menunjukkan kemampuan akademik siswa. Orientasi yang terlalu kuat pada angka juga berisiko menggeser pendidikan dari pembentukan karakter menuju pencapaian peringkat dan pujian.

Simon menekankan bahwa setiap peserta didik memiliki kemampuan berbeda. Prestasi tidak perlu dipaksakan melalui cara yang melanggar aturan pendidikan. Menurutnya, kejujuran merupakan modal hidup utama, sedangkan pendidikan perlu dibangun melalui proses yang jujur, bermoral, dan berkelanjutan.

Ia mengajak sekolah, orang tua, peserta didik, dan pemangku kepentingan mengubah orientasi pendidikan. Fokusnya adalah peningkatan kemampuan nyata, bukan sekadar memastikan seluruh peserta didik memperoleh nilai tinggi.

Sumber

Baca berikutnya

  1. Lanjutan topik ini

  2. Terbaru di Pendidikan

  3. Berita utama hari ini

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.