Jaringan Pelabuhan dan Kapal Perintis di NTT Menurut Data Pemerintah
Data Kementerian Perhubungan mencatat 51 pelabuhan laut dalam jaringan angkutan NTT, dari Tenau Kupang hingga pelabuhan kecil di pulau-pulau terpencil.
Oleh Kevin Mikael Januar
Editor: Mursyid Sonsang
· Peristiwa: · 4 menit baca
Kupang — Konektivitas laut di Nusa Tenggara Timur bertumpu pada jaringan pelabuhan utama dan pelabuhan pengumpan yang dilayani kapal perintis dan tol laut. Data pemerintah pusat menunjukkan ratusan trayek perintis dan puluhan pelabuhan di NTT, namun pernyataan resmi mengenai 22 pelabuhan yang terhubung kapal perintis seperti disebut dalam draf belum ditemukan dalam dokumen terbaru.
Menurut Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan, pemetaan pelabuhan laut di NTT dalam Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KP 432 Tahun 2017 tentang Rencana Induk Pelabuhan Nasional mencatat 51 pelabuhan yang menjadi bagian jaringan angkutan laut di provinsi itu. Rinciannya satu pelabuhan utama, 12 pelabuhan pengumpul, dan 38 pelabuhan pengumpan.
Pelabuhan Tenau Kupang ditetapkan sebagai pelabuhan utama. Pelabuhan pengumpul meliputi antara lain Atapupu, Ende, Ippi, Larantuka, Lewoleba, Reo, Labuan Bajo, Ndao, Seba, Lorens Say, Waingapu, dan Wini. Adapun pelabuhan pengumpan mencakup pelabuhan di pulau-pulau kecil dan wilayah pesisir seperti Baranusa, Kalabahi, Maritaing, Maurole, Pulau Ende, Lamakera, Terong, Waiwerang, Waiwadan, Waiwuring, Oepoli, Naikliu, Balauring, Wulandoni, Komodo, Pota, Waiwole, Maumbawa, Riung, Ba’a, Batutua, Raijua, Palue, Wuring, Waikelo, Mamboro, Baing, Pulau Salura, dan Kolbano.
Jaringan pelabuhan di Timor, Flores, Sumba, dan pulau kecil
Di Pulau Timor, pelabuhan Tenau Kupang berperan sebagai simpul utama angkutan laut, dengan pelabuhan Atapupu dan Wini sebagai pelabuhan pengumpul yang menghubungkan kawasan perbatasan dan pesisir. Naikliu dan Oepoli berfungsi sebagai pelabuhan pengumpan yang melayani konektivitas ke desa-desa pesisir.
Di Flores dan sekitarnya, jaringan pelabuhan pengumpul dan pengumpan tersebar di Maumere, Ende, Ippi, Larantuka, Lewoleba, Reo, Labuan Bajo, serta sejumlah pelabuhan kecil seperti Pulau Ende, Maurole, Lamakera, Terong, Waiwerang, Waiwadan, Waiwuring, Balauring, Wulandoni, Komodo, Pota, Waiwole, Maumbawa, Riung, Wuring, dan Palue.
Di Sumba dan pulau-pulau sekitarnya, pelabuhan Waingapu menjadi pelabuhan pengumpul, dengan Waikelo, Mamboro, Baing, serta Pulau Salura dan Kolbano tercatat sebagai pelabuhan pengumpan. Pelabuhan Ba’a, Ndao, Seba, dan Raijua di wilayah Rote Ndao dan Sabu Raijua juga masuk dalam jaringan pelabuhan pengumpul dan pengumpan yang dilayani angkutan laut perintis maupun tol laut.
Peran kapal perintis di NTT
Kementerian Perhubungan mencatat, untuk penyelenggaraan angkutan laut perintis tahun 2018 terdapat 11 trayek perintis yang beroperasi di Provinsi NTT dari total 113 trayek nasional. Trayek tersebut menggunakan pelabuhan pangkal Kupang, Maumere, dan Waingapu, dan menghubungkan pelabuhan utama, pengumpul, serta pengumpan di berbagai pulau.
Dalam keterangan terpisah, Kementerian Perhubungan menyebut empat kapal perintis yang berbasis di Kupang, yakni KM Sabuk Nusantara 38, 55, 90, dan 108. Kapal-kapal tersebut melayani rute perintis yang menjangkau daerah terpencil seperti Ndao, Seba, Raijua, Ende, Pulau Ende, Maumbawa, Waiwole, Mamboro, Waingapu, Naikliu, Mananga, Lewoleba, Balauring, Baranusa, Kalabahi, dan Atapupu.
Media lokal di Kupang memberitakan bahwa pada Januari 2026, kantor cabang perusahaan pelayaran negara di Kupang merilis jadwal kapal perintis yang melayani pelabuhan-pelabuhan tersebut dengan menggunakan KM Sabuk Nusantara 90, 104, dan 108. Jadwal itu menegaskan peran kapal perintis sebagai penopang mobilitas penumpang dan distribusi logistik di daerah tertinggal, terpencil, dan perbatasan.
Konektivitas laut dan tantangan layanan
Struktur jaringan pelabuhan utama, pengumpul, dan pengumpan di NTT menunjukkan tiga lapis konektivitas: simpul utama di kota provinsi, pelabuhan kabupaten di pulau besar, serta pelabuhan kecil di pulau-pulau dan pesisir terpencil. Kapal perintis menghubungkan lapis ketiga ini dengan pelabuhan pangkal, sementara tol laut dan kapal komersial melayani pelabuhan utama dan pengumpul.
Namun, dokumen resmi dan pemberitaan yang tersedia lebih banyak memuat daftar pelabuhan dan rute daripada frekuensi pelayaran, kapasitas kapal, dan keteraturan jadwal untuk masing-masing pelabuhan. Informasi mengenai pembatalan pelayaran, dampak cuaca, atau perubahan rute biasanya muncul dalam laporan terpisah ketika terjadi gangguan layanan.
Tanpa data terbaru yang merinci frekuensi dan ketepatan waktu pelayaran di semua pelabuhan, pernyataan bahwa hampir seluruh wilayah NTT telah terhubung secara memadai masih perlu dikaitkan dengan temuan lapangan dan pemantauan layanan dari pemerintah daerah serta operator kapal.
Sumber
- Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kemenhub - Dorong Pertumbuhan Perekonomian NTT, Pemerintah Sediakan Sarana dan Prasarana Transportasi Laut yang Andal
- Kementerian Perhubungan - Merajut Konektivitas di Provinsi Paling Selatan Indonesia
- RRI Kupang - PELNI Kupang Rilis Jadwal Kapal Perintis Januari 2026
- Detikfinance - Kemenhub Jamin Kapal Perintis di NTT Tak Dihentikan
Berita berikutnya

Satlantas Polres Alor Anjangsana ke Dua Purnawirawan Jelang HUT Lantas
Satlantas Polres Alor mengunjungi dua purnawirawan Polri di Alor pada Rabu, 16 September 2026, sebagai bagian rangkaian menyambut Hari Lalu Lintas Bha…
Baca juga


