Pengembangan Tenau Kupang dalam Jaringan Tol Laut Nasional
Pelabuhan Tenau Kupang sejak pertengahan 2010-an dikembangkan dengan dermaga dan peralatan bongkar muat berstandar terminal peti kemas sebagai bagian dari jaringan tol laut.
Oleh Arsyid Muhamad
Editor: Mursyid Sonsang
· Peristiwa: · 4 menit baca
Kupang — Pelabuhan Tenau Kupang sejak pertengahan 2010-an diproyeksikan menjadi simpul penting jaringan tol laut dan dikembangkan dengan fasilitas berstandar terminal peti kemas, termasuk penambahan dermaga, lapangan penumpukan, serta peralatan bongkar muat seperti container crane dan rubber tyred gantry.
Rencana pengembangan Tenau terkait dengan kebijakan pemerintah pusat menjadikan 24 pelabuhan sebagai pendukung tol laut pada periode pemerintahan Joko Widodo–Jusuf Kalla. Dalam daftar pelabuhan pengumpul (feeder), Tenau/Kupang tercantum sebagai salah satu pelabuhan yang kapasitasnya ditingkatkan untuk mendukung konektivitas maritim nasional menurut kajian Badan Keahlian DPR RI dan Bappenas.
Rencana pengembangan terminal peti kemas
Dokumen perencanaan dan bahan presentasi tentang Tenau mencatat pengembangan fasilitas peti kemas pada 2015–2018. Rencana itu mencakup pembangunan atau peningkatan struktur dermaga peti kemas, pengembangan lapangan penumpukan (container yard), serta pengadaan peralatan bongkar muat seperti satu unit container crane, dua unit rubber tyred gantry, dan sejumlah head truck serta chassis untuk operasional terminal.
Bahan presentasi proyek Pelindo III menyebut bahwa setelah pengembangan terminal peti kemas, Tenau dirancang mampu melayani arus peti kemas sekitar 100.000 TEUs per tahun, dengan lapangan penumpukan sekitar 2,63 hektare. Pengembangan ini menjadi bagian dari paket investasi yang didorong pemerintah untuk mendukung tol laut.
Dalam publikasi internal Pelindo tahun 2018, kapasitas lapangan penumpukan peti kemas di Tenau disebut mampu menampung hingga sekitar 240.000 TEUs per tahun, dengan realisasi arus bongkar muat sekitar 110.000 TEUs per tahun saat itu. Artinya, terdapat kapasitas cadangan yang cukup untuk pertumbuhan arus peti kemas.
Status dan fasilitas Tenau
Informasi terkini yang dapat ditelusuri menyebut Tenau sebagai pelabuhan yang telah memiliki dermaga terminal peti kemas dengan panjang sekitar 240 meter, lebar 45 meter, kedalaman sekitar -12 mLWS, kapasitas 240.000 TEUs, dan throughput sekitar 110.000 TEUs per tahun. Pelabuhan ini telah dilengkapi dua unit container crane bertenaga listrik dan empat unit rubber tyred gantry untuk lapangan penumpukan.
Laporan media lokal pada 2022 menggambarkan Tenau masih berstatus pelabuhan konvensional yang melayani barang domestik, tetapi sudah memiliki peralatan berstandar terminal peti kemas internasional. Narasumber di lingkungan pengelola pelabuhan menyebut tinggal menunggu penetapan resmi status terminal peti kemas, dengan luas keseluruhan pelabuhan sekitar 3,6 hektare dan area khusus peti kemas sekitar 2,6 hektare.
Artikel profil logistik yang terbit pada 2025 menyatakan bahwa operator pelabuhan mendorong Tenau menuju status Terminal Peti Kemas. Dengan penggunaan container crane milik pelabuhan, bongkar muat tidak lagi bergantung pada crane kapal dan waktu sandar dapat dipangkas dari rata-rata sekitar lima hari menjadi tiga sampai empat hari. Informasi ini sejalan dengan tujuan pengembangan fasilitas yang tertuang dalam dokumen perencanaan.
Peran Tenau dalam jaringan tol laut
Dalam kerangka tol laut dan poros maritim dunia, sejumlah kajian kebijakan menyebut Pelabuhan Tenau Kupang sebagai pusat distribusi nasional di kawasan Nusa Tenggara Timur. Tenau menjadi simpul pengiriman barang dari dan ke NTT melalui jalur laut, yang diharapkan mendukung penurunan biaya logistik dan pemerataan distribusi barang ke kota-kota kecil di kawasan timur Indonesia.
Investasi peningkatan kapasitas di 24 pelabuhan tol laut, termasuk Kupang, diperkirakan membutuhkan dana puluhan triliun rupiah dari anggaran negara dan badan usaha pelabuhan. Pengembangan Tenau sebagai pelabuhan strategis di Kota Kupang dipandang sebagai salah satu langkah mendukung kebijakan poros maritim dunia dan penguatan konektivitas antarpulau.
Data yang tersedia dari dokumen teknis dan publikasi resmi belum merinci secara rinci perubahan biaya layanan di Tenau setelah pengembangan fasilitas. Namun, berbagai kajian kebijakan maritim menekankan bahwa peningkatan kapasitas terminal, percepatan bongkar muat, dan penguatan jaringan tol laut merupakan prasyarat untuk menurunkan biaya logistik nasional.
Sumber
- Wikipedia bahasa Indonesia: Pelabuhan Tenau
- Majalah internal Pelindo III edisi Oktober 2018
- Jurnal Politica: Kebijakan Konektivitas Maritim di Indonesia
- IJGD Universitas Mataram: Upaya Diplomasi Ekonomi Pemerintahan Joko Widodo dalam Tol Laut
- Presentasi Pelindo III tentang proyek Kupang
- Repository UMY: Kebijakan Konektivitas Maritim di Indonesia (BAB III)
- Aktual.com: Presiden Tawarkan Investasi 24 Pelabuhan Tol Laut pada Jepang
- KatongNTT: Memotret Kesiapan Pelabuhan Tenau Jadi Terminal Peti Kemas Internasional
- Karya Pratama Cargo: Pelabuhan Tenau Kupang Profil Gerbang Logistik Utama
- Semnaspi 2021: Pengembangan Pesisir Kota Kupang sebagai Pusat Pertumbuhan
Berita berikutnya

Produksi Tambak Malaka 2.664 Ton pada 2016, Bandeng Dominan
Kajian akademik berbasis data Dinas Kelautan dan Perikanan NTT mencatat produksi budidaya perikanan tambak di Kabupaten Malaka mencapai sekitar 2.664…
Baca juga


