Listrik, Jalan, dan Sinyal: Tiga Harapan Pemuda Tenda Ondo
Tiga pemuda Desa Tenda Ondo, Kabupaten Ende, memperbincangkan listrik, jalan, dan sinyal internet sebagai tiga kebutuhan dasar yang belum sepenuhnya hadir di desa terpencil mereka.
Oleh Asyinta Sastra
Editor: Mursyid Sonsang
· 4 menit baca
Ende — Tiga pemuda di Desa Tenda Ondo, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur, memperbincangkan tiga kebutuhan dasar desa mereka—listrik, jalan, dan jaringan internet—pada Kamis malam, 13 Agustus 2026, di bawah sebuah terpal setelah acara peletakan batu pertama sebuah rumah di ujung desa.
Menurut laporan harian lokal Flores Pos, perbincangan itu terjadi seusai kegiatan bersama warga pada siang hari. Sejumlah pemuda dan laki-laki dewasa duduk, makan, minum kopi, bermain kartu, dan berbicara santai setelah acara peletakan batu pertama selesai.
Di tengah suasana itu, muncul perdebatan tentang layanan dasar yang paling dibutuhkan di Tenda Ondo. Bagi para pemuda, urutan kebutuhan listrik, jalan, dan sinyal internet bukan sekadar obrolan ringan, tetapi menyentuh pengalaman panjang menunggu pembangunan di desa yang digolongkan sebagai desa terpencil dalam dokumen perencanaan daerah.
Listrik dipandang sebagai kebutuhan utama
Dalam perbincangan itu, seorang pemuda menempatkan listrik sebagai prioritas utama. Menurut pandangannya, kehadiran listrik akan mengubah berbagai aktivitas warga, mulai dari penerangan rumah hingga kegiatan belajar anak pada malam hari.
Masih menurut Flores Pos, pemuda tersebut mengaitkan listrik dengan kemungkinan penggunaan peralatan rumah tangga seperti kulkas dan televisi yang selama ini belum dapat dimanfaatkan warga karena ketiadaan jaringan listrik negara. Listrik ia pandang sebagai syarat agar rumah tangga di Tenda Ondo dapat menikmati fasilitas yang sudah lazim di banyak desa lain di Kabupaten Ende.
Posisi Desa Tenda Ondo sebagai desa terpencil tercatat dalam Rancangan Akhir RKPD Kabupaten Ende Tahun 2025, yang mengelompokkan Tenda Ondo bersama sejumlah desa pedalaman dan terpencil lain. Kategori ini menunjukkan bahwa akses layanan dasar, termasuk listrik, belum merata di seluruh wilayah kabupaten.
Pada tingkat kabupaten, profil perumahan dan permukiman Ende mencatat bahwa lebih dari tiga perempat rumah tangga sudah terakses listrik, tetapi masih ada desa dan titik permukiman yang belum dijangkau jaringan PLN. Kondisi umum itu menjadi latar bagi harapan warga Tenda Ondo terhadap kehadiran listrik di rumah mereka.
Jalan sebagai akses menuju layanan
Pemuda kedua dalam perbincangan memilih jalan sebagai kebutuhan yang harus didahulukan. Ia memandang jalan bukan sekadar permukaan yang menghubungkan satu lokasi dengan lokasi lain, melainkan akses bagi masyarakat menuju pendidikan, layanan kesehatan, pasar, dan pusat aktivitas ekonomi.
Laporan Flores Pos tidak merinci kondisi fisik jalan yang menghubungkan Tenda Ondo dengan wilayah sekitarnya, tetapi pernyataan pemuda tersebut merefleksikan situasi infrastruktur jalan di banyak bagian Kabupaten Ende. Data profil perumahan dan permukiman Ende menunjukkan sebagian besar jalan kabupaten masih berupa kerikil, tanah, dan jenis permukaan lain, dengan lebih dari tiga perempat ruas jalan masuk kategori rusak atau rusak berat.
Dalam konteks seperti itu, pilihan terhadap jalan menggambarkan bahwa bagi warga Tenda Ondo, pembangunan tidak hanya soal fasilitas di dalam rumah, tetapi juga kemampuan mereka bergerak keluar desa untuk mengakses layanan dasar.
Sinyal internet sebagai kebutuhan komunikasi
Pemuda ketiga dalam perdebatan menempatkan sinyal internet sebagai kebutuhan yang perlu diperjuangkan bersama listrik dan jalan. Flores Pos mencatat bahwa para pemuda itu membandingkan kebutuhan listrik, jalan, dan jaringan telekomunikasi sebagai tiga hal yang belum sepenuhnya hadir di desa mereka.
Kondisi akses internet di Kabupaten Ende masih timpang. Menurut laporan Pos Kupang pada Mei 2024, terdapat puluhan desa di Ende yang belum memiliki jaringan internet sama sekali. Desa-desa tanpa akses itu tersebar di beberapa kecamatan, menunjukkan bahwa konektivitas digital belum merata dengan baik.
Dalam situasi tersebut, percakapan pemuda Tenda Ondo tentang sinyal internet mencerminkan keinginan generasi muda untuk terhubung dengan dunia luar, baik untuk komunikasi, informasi, maupun peluang pendidikan dan ekonomi yang memerlukan akses jaringan.
Perdebatan di bawah terpal itu memperlihatkan bagaimana tiga layanan dasar—listrik, jalan, dan sinyal internet—hadir bersamaan dalam imajinasi warga desa terpencil. Listrik menyangkut penerangan dan peralatan rumah tangga, jalan berkaitan dengan akses fisik, sedangkan sinyal internet menyentuh kebutuhan komunikasi dan informasi.
Suara tiga pemuda Tenda Ondo pada Kamis malam itu menjadi pengingat bahwa di balik data statistik tentang persentase rumah tangga berlistrik atau panjang jalan kabupaten, ada warga yang masih menunggu layanan dasar pertama kali hadir di rumah dan kampung mereka.
Sumber
Berita berikutnya
Tiga Desa di Titehena Gelar Ritual Tolak Bala Usir Hama Tikus
Masyarakat adat dan petani di Desa Konga, Kobasoma, dan Lewolaga, Kecamatan Titehena, Flores Timur, menggelar ritual tolak bala di kampung lama Konga…

