Lomba Bertutur Cerita Rakyat Lembata Tanamkan Karakter Sejak Dini
Yayasan Lembaga Abdi Masyarakat menggelar Lomba Bertutur Cerita Rakyat Lembata bagi 37 siswa SD dan MI di Lewoleba.
Oleh Kevin Mikael Januar
Editor: Mursyid Sonsang
· 3 menit baca
Lewoleba — Yayasan Lembaga Abdi Masyarakat (LAM) menyelenggarakan Lomba Bertutur Cerita Rakyat Lembata bagi siswa sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah pada Sabtu, 1 Agustus 2026 di Aula Perpustakaan Daerah Kabupaten Lembata, Lewoleba. Kegiatan ini terlaksana melalui Program Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan Tahun 2026 Balai Pelestarian Kebudayaan Nusa Tenggara Timur.
Lomba dirancang untuk memperkenalkan kembali cerita rakyat kepada anak-anak sekaligus menjaga keberlanjutan tradisi lisan di Lembata. Menurut laporan penyelenggara, cerita rakyat dipandang bukan sekadar hiburan, melainkan sumber pengetahuan mengenai nilai moral, sejarah, adat istiadat, dan kearifan lokal.
Sebanyak 37 siswa dari 21 SD dan MI di Kabupaten Lembata ambil bagian dalam kegiatan ini. Para peserta tampil membawakan cerita rakyat Lembata dengan pendampingan guru dan orang tua.
Lomba sebagai ruang literasi budaya
Wakil Bupati Lembata Muhamad Nasir membuka kegiatan lomba dan menyebut tradisi bertutur selaras dengan arah pembangunan literasi daerah. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa cerita rakyat mampu membentuk karakter generasi muda karena mengandung nilai kejujuran, keberanian, kerja keras, dan kebersamaan.
Menurut Nasir, lomba bertutur memiliki setidaknya tiga tujuan utama: menumbuhkan kecintaan terhadap budaya lokal, memperkuat aktivitas literasi, dan mendukung pembentukan karakter anak di tengah perubahan sosial dan perkembangan teknologi.
Ketua Yayasan LAM Midun Husein Ratuloli menyatakan lomba disusun sebagai ruang partisipatif bagi pelajar. Peserta didorong mengenal dan memahami cerita rakyat melalui penyampaian yang kreatif dan komunikatif, dengan tetap memperhatikan konteks kehidupan mereka sehari-hari.
LAM memposisikan kegiatan ini sebagai bagian dari upaya dokumentasi budaya. Tradisi lisan dinilai berisiko terputus apabila tidak dicatat, dipelajari, dan diperkenalkan kembali kepada generasi berikutnya. Karena itu, lomba bertutur dipakai sebagai sarana mengumpulkan dan merapikan kembali kisah-kisah rakyat Lembata.
Buku cerita dan peran perpustakaan
Menurut Midun, salah satu keluaran lanjutan dari lomba adalah penyusunan buku cerita rakyat Lembata. Buku tersebut direncanakan memuat cerita yang ditelusuri dari berbagai wilayah di kabupaten dan akan dibagikan ke sekolah yang mengirim peserta, sehingga materi budaya yang digunakan dalam lomba dapat dimanfaatkan kembali di lingkungan pendidikan.
Rencana penerbitan buku memberi kegiatan ini dimensi berkelanjutan. Dokumentasi tertulis diharapkan membantu sekolah, guru, dan siswa menjadikan cerita rakyat sebagai bahan literasi sekaligus media pembelajaran karakter.
Perpustakaan Daerah Kabupaten Lembata memiliki peran strategis dalam proses tersebut. Penyelenggaraan lomba di aula perpustakaan memperlihatkan pemanfaatan lembaga literasi sebagai ruang publik yang menggabungkan fungsi pendidikan, pelestarian budaya, dan pengembangan kreativitas anak.
Penyelenggara menggarisbawahi bahwa kegiatan di perpustakaan dapat memperkuat kedekatan pelajar dengan buku dan bahan bacaan lain yang berkaitan dengan budaya lokal. Dengan begitu, tradisi bertutur dan praktik membaca saling menguatkan.
Data kegiatan
- Penyelenggara: Yayasan Lembaga Abdi Masyarakat (LAM).
- Peserta: 37 siswa tingkat SD dan MI dari 21 sekolah di Kabupaten Lembata.
- Waktu dan tempat: Sabtu, 1 Agustus 2026, di Aula Perpustakaan Daerah Kabupaten Lembata, Lewoleba.
- Program: Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan Tahun 2026 Balai Pelestarian Kebudayaan NTT.
- Rencana keluaran: buku cerita rakyat Lembata yang dibagikan kepada sekolah peserta.
Sumber
Berita berikutnya

Apremoi Dethan Bangkitkan Lagi Otomotif Rote Ndao Lewat Grasstrack
Setelah vakum sejak 2019, olahraga otomotif di Rote Ndao kembali bergerak.
Baca juga


