Produksi Tambak Malaka 2.664 Ton pada 2016, Bandeng Dominan
Kajian akademik berbasis data Dinas Kelautan dan Perikanan NTT mencatat produksi budidaya perikanan tambak di Kabupaten Malaka mencapai sekitar 2.664 ton pada 2016.
Oleh Arsyid Muhamad
Editor: Mursyid Sonsang
· Peristiwa: · 3 menit baca
Kupang — Kabupaten Malaka tercatat sebagai salah satu daerah dengan usaha budidaya perikanan tambak yang menonjol di Nusa Tenggara Timur, dengan produksi sekitar 2.664 ton pada 2016 yang didominasi ikan bandeng menurut kajian akademik berbasis data Dinas Kelautan dan Perikanan NTT.
Analisis pendapatan usahatani tambak di Desa Umatoos, Kabupaten Malaka, yang dipublikasikan Universitas Nusa Cendana menyebut bahwa data terakhir yang digunakan DKP NTT untuk budidaya perikanan tambak Malaka adalah tahun 2016, dengan produksi 2.664 ton dan komoditas utama ikan bandeng.
Penelitian lain mengenai pengelolaan dan pemanfaatan perairan embung di Malaka dari lembaga riset Kementerian Kelautan dan Perikanan menggambarkan kebiasaan masyarakat Malaka membudidayakan bandeng sebagai komoditas utama di tambak pesisir.
Produksi tambak dan rumah tangga pembudidaya
Data rinci mengenai jumlah rumah tangga pembudidaya ikan di Malaka pada 2016 tidak tercantum dalam kajian yang memuat angka produksi 2.664 ton tersebut.
Namun, Badan Pusat Statistik melalui publikasi statistik perikanan di berbagai kabupaten mencatat indikator rumah tangga perikanan, termasuk pembudidaya, sebagai salah satu variabel penting untuk melihat struktur usaha perikanan di daerah.
Publikasi statistik Malaka dalam angka 2016 menunjukkan keberadaan tambak air payau sebagai salah satu kategori lahan pesisir, dengan data luas dan produksi tambak yang memperkuat posisi Malaka sebagai sentra budidaya bandeng di wilayah perbatasan dengan Timor Leste.
Bandeng sebagai komoditas utama
Kajian Universitas Nusa Cendana menegaskan bahwa produksi tambak Malaka pada 2016 didominasi komoditas ikan bandeng, sejalan dengan laporan riset Kementerian Kelautan dan Perikanan yang menyebut masyarakat Malaka gemar membudidayakan bandeng di tambak pesisir.
Pada saat yang sama, data BPS tentang potensi lahan pesisir Malaka menunjukkan luas lahan yang dapat dijadikan tambak untuk budidaya bandeng jauh lebih besar dibandingkan lahan yang sudah dimanfaatkan dan berproduksi, sehingga masih terdapat ruang pengembangan budidaya di wilayah tersebut.
Berbagai kajian akademik mengenai budidaya bandeng di Malaka fokus pada analisis teknis dan ekonomi usahatani tambak, termasuk penggunaan pakan tambahan dan pengelolaan lahan, namun tidak memuat pembagian rinci antara produksi untuk konsumsi lokal dan pemasaran ke daerah lain.
Perikanan budidaya darat untuk menopang pasokan ikan
Pada 2017, pemerintah provinsi melalui Dinas Kelautan dan Perikanan NTT mendorong pengembangan perikanan budidaya darat sebagai penopang pasokan ikan di NTT, terutama ketika produksi perikanan tangkap menurun pada musim barat.
Dalam laporan media bisnis nasional, Kepala DKP NTT Ganef Wurgiyanto menyatakan bahwa untuk perikanan budidaya darat, Kabupaten Malaka yang berbatasan dengan Timor Leste mendominasi dibandingkan daerah lain di NTT.
Kebijakan tersebut menempatkan budidaya tambak, termasuk di Malaka, sebagai salah satu instrumen untuk menjaga ketersediaan ikan di pasar lokal dan antardaerah ketika hasil tangkapan laut berkurang, meski data rinci produksi per kabupaten setelah 2016 belum dipublikasikan secara luas.
Posisi Malaka dalam konteks perikanan NTT
Malaka merupakan kabupaten di perbatasan dengan Timor Leste yang statusnya sebagai daerah otonom baru diperkuat melalui berbagai publikasi statistik dan kajian akademik tentang pemanfaatan lahan pesisir untuk tambak bandeng.
Dalam evaluasi kinerja perikanan NTT, pemerintah provinsi menyebut perikanan laut, termasuk rumput laut, masih menjadi kegiatan budidaya yang tersebar luas, sementara perikanan budidaya darat seperti tambak bandeng di Malaka diharapkan makin berkembang untuk membantu memenuhi kebutuhan ikan dalam provinsi dan ekspor.
Kajian pendapatan usahatani tambak bandeng di Malaka menunjukkan bahwa pengembangan budidaya membutuhkan dukungan modal, teknologi pakan, serta pengelolaan lingkungan tambak agar produksi tetap berkelanjutan, meski indikator kesejahteraan rumah tangga pembudidaya belum banyak dipublikasikan.
Sumber
- Jurnal Budidaya Perikanan, Universitas Nusa Cendana (Analisis Pendapatan Usahatani Tambak Ikan Desa Umatoos, Kabupaten Malaka)
- Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia, Kementerian Kelautan dan Perikanan
- Kabupaten Malaka Dalam Angka 2016, Badan Pusat Statistik
- BAB I Tesis/Disertasi tentang Budidaya Bandeng di Malaka, Universitas Kristen Artha Wacana
- Bisnis Indonesia – Kekurangan Pasokan Ikan di NTT Diharapkan Disokong Budi Daya Perikanan Darat
- Laporan Dinas Kelautan dan Perikanan Nusa Tenggara Timur (PPID Utama)
Berita berikutnya

Data Kemiskinan Nasional Timor-Leste Terbaru Masih Tahun 2014
Bank Dunia dan lembaga internasional mencatat bahwa data resmi kemiskinan Timor-Leste pada garis kemiskinan nasional yang tersedia masih berhenti pada…
Baca juga


