NTT Hari Ini

Senin, 21 September 2026

UPTD Veteriner NTT Pertahankan Respons Cepat Rabies

Kepala UPTD Veteriner NTT, drh. Hilda S.D. Berek, menyebut situasi rabies di Nusa Tenggara Timur tahun 2026 lebih baik, dengan tren penurunan kasus.

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· 4 menit baca

Buka foto ukuran besar. Foto arsip: Kupang, East Nusa Tenggara, Indonesia.
Foto arsip: Kupang, East Nusa Tenggara, Indonesia. · Foto: Davidelit / Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0

Kupang — Kasus rabies di Nusa Tenggara Timur (NTT) dilaporkan menurun sepanjang 2026, tetapi Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Veteriner Dinas Peternakan Provinsi NTT tetap mempertahankan sistem respons cepat untuk menangani dugaan kasus rabies dan laporan gigitan hewan penular rabies.

Kepala UPTD Veteriner Dinas Peternakan Provinsi NTT, drh. Hilda S.D. Berek, M.Sc., menyampaikan hal itu dalam kegiatan World Rabies Day NTT 2026 di Kupang pada Jumat, 18 September 2026, sebagaimana diberitakan RRI Kupang.

Menurut Hilda, koordinasi antara pemerintah provinsi dengan pemerintah kabupaten dan kota menjadi bagian penting dalam penanganan rabies. Setiap laporan gigitan hewan atau temuan hewan yang dicurigai terjangkit rabies akan ditindaklanjuti petugas di daerah dengan berkoordinasi bersama UPTD Veteriner Provinsi NTT.

Berdasarkan pemantauan UPTD Veteriner, Hilda menyebut situasi rabies tahun 2026 lebih baik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Ia mengatakan laporan gigitan dan kasus kematian akibat rabies tahun ini sudah tidak ada menurut informasi yang diterimanya, tetapi menegaskan bahwa angka resmi dan rinci tetap mengacu pada data instansi teknis yang berwenang di lingkungan Dinas Peternakan.

Respons cepat dan pemeriksaan sampel

Hilda menjelaskan bahwa ketika terjadi kasus gigitan atau ditemukan anjing dengan gejala klinis yang dicurigai rabies, petugas UPTD Veteriner dapat turun untuk mengambil sampel dari hewan tersebut. Sampel otak anjing kemudian diperiksa dengan tes cepat di tingkat daerah guna mengetahui indikasi awal positif atau negatif rabies.

Hasil pemeriksaan awal digunakan untuk mempercepat koordinasi dengan dinas terkait. Jika hasil menunjukkan indikasi positif rabies, informasi tersebut segera disampaikan kepada instansi yang menangani kesehatan manusia agar korban gigitan mendapat penanganan medis dan vaksinasi sesuai prosedur. Jika hasil awal negatif, sampel tetap dikirim ke laboratorium veteriner di Denpasar, Bali, untuk pemeriksaan lanjutan sebagai konfirmasi.

Skema ini sejalan dengan penguatan kapasitas diagnostik rabies di NTT yang memungkinkan sampel otak anjing diuji lebih awal di tingkat kabupaten atau provinsi sebelum dikirim ke Balai Besar Veteriner Denpasar untuk uji konfirmasi. Mekanisme tersebut memungkinkan petugas merespons dugaan paparan rabies tanpa menunggu seluruh proses konfirmasi selesai, sehingga korban gigitan dapat segera diidentifikasi dan dihubungkan dengan layanan kesehatan.

Surveilans, vaksinasi, dan pengendalian populasi

Hilda menekankan bahwa pengendalian rabies tidak hanya bergantung pada vaksinasi, melainkan juga membutuhkan surveilans aktif, pemeriksaan laboratorium, koordinasi antarlembaga, serta kecepatan penanganan laporan gigitan. UPTD Veteriner berperan dalam pengambilan sampel hewan berisiko, pelaksanaan tes diagnostik cepat, dan pengiriman sampel ke Denpasar untuk konfirmasi.

Dalam rangka World Rabies Day NTT 2026, sterilisasi massal juga didorong sebagai strategi pengendalian populasi hewan penular rabies. Pengendalian populasi anjing dan kucing dinilai dapat membantu memperkuat upaya pencegahan rabies di lapangan.

Hilda menyampaikan harapan agar vaksinasi terhadap anjing dan kucing dapat dilakukan secara menyeluruh di Kota Kupang, serta mendapat dukungan pemerintah dan masyarakat. Menurut dia, penurunan kasus rabies perlu dibarengi dengan kesiapan menemukan dugaan kasus sejak dini, sehingga hewan terduga dapat segera diperiksa dan orang yang berpotensi terpapar dapat cepat dikoordinasikan untuk memperoleh penanganan.

Kondisi rabies di NTT

Rabies merupakan penyakit zoonosis yang menyerang sistem saraf dan dapat berakibat fatal pada manusia bila tidak ditangani. Di NTT, data Balai Besar Veteriner Denpasar menunjukkan bahwa pada 2024 jumlah sampel otak hewan positif rabies dari provinsi tersebut menurun dibandingkan tahun sebelumnya. Laporan teknis lembaga tersebut dan keterangan Hilda sama-sama menunjukkan tren penurunan kasus positif rabies di NTT dalam beberapa tahun terakhir, meskipun rabies tetap dikategorikan sebagai penyakit yang memerlukan kewaspadaan berkelanjutan.

Dengan tren penurunan itu, pemerintah provinsi melalui UPTD Veteriner tetap mempertahankan sistem respons cepat, memperkuat kapasitas laboratorium di tingkat daerah, dan melanjutkan kegiatan vaksinasi serta sterilisasi massal sebagai bagian dari strategi jangka panjang pengendalian rabies di NTT.

Sumber

Berita berikutnya

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.