NTT Hari Ini

Senin, 21 September 2026

PPL TTU Kenalkan Tiga Teknologi Hemat Air untuk Hortikultura

Penyuluh pertanian lapangan di Kabupaten Timor Tengah Utara mengenalkan irigasi tetes, mulsa, dan sprinkler sebagai teknologi hemat air untuk tanaman hortikultura menghadapi ancaman kekeringan berkepanjangan.

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· Peristiwa: · 3 menit baca

Buka foto ukuran besar. Foto arsip: Gambar ini adalah salah satu gambar yang di ambil dari jalan masuk lereng di puncak gunung mutis.
Foto arsip: Gambar ini adalah salah satu gambar yang di ambil dari jalan masuk lereng di puncak gunung mutis. · Foto: Lorensa Aldayanti Tanebeth / Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0

Atambua — Penyuluh pertanian lapangan mendorong petani di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur, menerapkan tiga teknologi hemat air—irigasi tetes, mulsa, dan sprinkler—untuk menjaga produksi hortikultura di tengah ancaman kekeringan berkepanjangan.

Koordinator Tim Kerja Kabupaten TTU, Deni Paulus Kolis, menjelaskan langkah tersebut dalam perbincangan dengan RRI Atambua yang dimuat dalam laporan berjudul "Teknologi Hemat Air Dukung Produksi Hortikultura TTU" pada 18 September 2026.

Menurut Kolis, teknologi irigasi hemat air dikenalkan kepada kelompok tani dengan mempertimbangkan ketersediaan air di setiap lokasi serta kebutuhan budidaya hortikultura yang membutuhkan pengelolaan air lebih efisien.

Tiga teknologi irigasi hemat air

Dalam laporan RRI, irigasi tetes disebut sebagai salah satu pilihan utama untuk mengurangi pemborosan air pada tanaman hortikultura di TTU.

Mulsa digunakan untuk menjaga kelembapan tanah dan mengurangi penguapan akibat suhu lingkungan yang tinggi.

Sementara itu, sprinkler diarahkan sebagai pilihan ketika debit air di lokasi masih cukup memadai. Menurut Kolis, petani dapat menggunakan sprinkler apabila "debit airnya masih cukup lumayan", sehingga teknologi ini tidak disarankan secara seragam, melainkan bergantung pada kondisi air setempat.

Dengan pendekatan tersebut, petani tidak diarahkan memakai satu teknologi untuk seluruh lahan. Jenis teknologi disesuaikan dengan kondisi sumber air dan kesiapan kelompok tani yang akan menggunakannya.

Secara teknis, kajian tentang teknologi hortikultura yang hemat air dari Kementerian Pertanian menyebut irigasi tetes, mulsa, dan sprinkler sebagai kombinasi yang dapat meningkatkan efisiensi penggunaan air pada tanaman sayuran dan tanaman obat, sekaligus mempertahankan produktivitas lahan.

Persiapan lahan dan waktu tanam

Kolis menjelaskan bahwa penghematan air tidak hanya bertumpu pada teknologi irigasi atau bahan penutup tanah.

Persiapan lahan dan penyesuaian waktu tanam juga menjadi bagian dari strategi menghadapi musim kering di TTU.

Dalam siaran RRI, PPL disebut secara rutin menyampaikan informasi perubahan cuaca kepada kelompok tani binaan melalui kegiatan penyuluhan. Tujuannya agar petani menyiapkan kegiatan budidaya sebelum kemarau semakin berat dan menyesuaikan pola tanam dengan ketersediaan air.

Laporan tersebut menegaskan bahwa teknologi hemat air diharapkan membantu mempertahankan produksi hortikultura selama musim kering.

Penerapan dilakukan bertahap agar petani memahami manfaat dan cara penggunaan teknologi, mulai dari irigasi tetes di lahan sayuran hingga pemanfaatan mulsa dan sprinkler pada lokasi yang debit airnya masih memadai.

Konteks perubahan iklim dan hortikultura

Dalam laporan lain, PPL TTU juga disebut mendorong petani menghadapi perubahan iklim melalui penghematan air, penyesuaian waktu tanam, dan pemilihan komoditas yang lebih adaptif terhadap kekurangan air.

Kebijakan irigasi hemat air untuk hortikultura sejalan dengan rekomendasi berbagai kajian nasional yang menyebut irigasi tetes dan sprinkler sebagai teknologi irigasi suplemen untuk adaptasi perubahan iklim di lahan kering, terutama pada tanaman sayuran dan tanaman berakar rimpang.

Berbagai penelitian hortikultura di Indonesia menunjukkan bahwa sistem irigasi tetes dapat meningkatkan efisiensi penggunaan air dibanding penyiraman manual, sementara penggunaan mulsa plastik atau organik terbukti menekan laju penguapan dan membantu mempertahankan kelembapan tanah.

Di TTU, pendekatan tersebut kini diperkenalkan melalui penyuluh pertanian lapangan kepada kelompok tani, dengan fokus pada kombinasi teknologi hemat air dan perencanaan budidaya untuk menjaga produksi hortikultura selama musim kering.

Sumber

Berita berikutnya

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.