Prai Ijing Kembangkan Wisata Berbasis Warga Sejak 2024
Kampung Adat Prai Ijing di Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur, mengembangkan paket wisata berbasis masyarakat yang melibatkan pemandu, perajin, dan pelaku UMKM lokal.
Oleh Asyinta Sastra
Editor: Mursyid Sonsang
· 4 menit baca
Sumba Barat — Kampung Adat Prai Ijing di Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur, dikembangkan sebagai destinasi pariwisata berbasis masyarakat dengan melibatkan warga dalam pelayanan wisata, kerajinan, dan usaha mikro kecil menengah. Sejak mendapat pendampingan program Bakti BCA pada 2024, kampung ini mencatat pertumbuhan pendapatan sekitar 26 persen hingga akhir 2025 menurut keterangan resmi BCA dan liputan sejumlah media.
Prai Ijing dikenal melalui deretan rumah adat beratap menjulang yang disebut Umma Kalada, tradisi megalitik, serta aktivitas keseharian warga yang masih memegang adat setempat. Keterangan BCA dan pemberitaan media menyebut pengembangan destinasi diarahkan agar kunjungan wisatawan memberi manfaat ekonomi bagi penduduk sekaligus mendukung pelestarian budaya.
Warga sebagai pelaku utama
Menurut EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn, pendampingan Bakti BCA berfokus pada penguatan kapasitas sumber daya manusia dan kelembagaan desa agar masyarakat menjadi pelaku utama pengelolaan potensi wisata. Pernyataan serupa dimuat dalam siaran pers BCA dan diberitakan kembali oleh beberapa media nasional.
Pengelolaan kunjungan wisata dilakukan bersama Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Prai Ijing. Peran warga terlihat dalam penyediaan pemandu lokal, layanan makanan, pengalaman menenun, sewa busana adat, permainan tradisional, dan penjualan suvenir. Sejumlah laporan menyebut ekosistem ini turut menggerakkan UMKM lokal yang terlibat dalam rantai layanan wisata.
Program Bakti BCA di Prai Ijing mulai berjalan pada 2024. Dalam keterangan BCA dan pemberitaan media, pendapatan kampung adat dilaporkan tumbuh sekitar 26 persen pada akhir 2025 dibanding sebelum pendampingan. Angka tersebut disajikan sebagai capaian umum pengembangan desa wisata, tanpa penjelasan rinci mengenai metode penghitungan maupun jenis pendapatan yang dimasukkan.
Informasi yang sama juga memuat paket layanan wisata yang disiapkan Pokdarwis bersama Bakti BCA, antara lain:
- Pendampingan Bakti BCA dimulai pada 2024.
- Pendapatan kampung adat dilaporkan tumbuh sekitar 26 persen hingga akhir 2025.
- Prai Ijing Full Day Tour berlangsung sekitar 6–8 jam dengan tarif Rp430.000 per orang.
- Prai Ijing Heritage Tour berdurasi maksimal tiga jam dengan tarif Rp250.000 per orang.
- Paket homestay ditawarkan Rp300.000 per orang per malam, termasuk tiga kali makan.
Pilihan pengalaman bagi wisatawan
Paket Prai Ijing Full Day Tour dirancang untuk wisatawan yang ingin menyelami kehidupan kampung adat secara lebih mendalam selama satu hari. Media yang mengutip siaran pers BCA menjelaskan bahwa paket ini mencakup tur kampung bersama pemandu lokal, pengenalan arsitektur rumah adat dan sejarah desa, permainan tradisional, makan siang dengan hidangan khas, lokakarya tenun, serta sesi foto dengan pakaian adat Sumba. Tiket retribusi, makanan ringan, suvenir, dan sejumlah layanan lain disebut termasuk dalam paket.
Bagi wisatawan dengan waktu terbatas, Prai Ijing Heritage Tour menawarkan tur sejarah kampung adat dengan durasi maksimal tiga jam. Paket ini memuat lokakarya pembuatan kain tenun, makanan ringan lokal, sesi foto dengan pakaian adat, pendampingan pemandu lokal, dan suvenir.
Salah satu aktivitas yang ditawarkan adalah permainan tradisional Kagorokana Alu, yakni permainan ketangkasan menggunakan bambu yang diperkenalkan dalam tur sebagai bagian dari pengalaman budaya. Paket tur juga menyertakan lokakarya singkat tenun untuk memperkenalkan proses penataan benang hingga menjadi kain, meski penjelasan mendalam mengenai makna motif dan aturan penggunaannya belum dirinci dalam siaran pers.
Wisatawan dapat memilih layanan homestay yang dikelola warga dengan fasilitas tiga kali makan per hari. Dalam pemberitaan, penggunaan pemandu lokal dianjurkan agar kunjungan lebih terarah dan selaras dengan tata kehidupan kampung.
Batas wisata dan pelestarian adat
Prai Ijing bukan sekadar lokasi wisata, melainkan ruang hidup masyarakat yang memiliki rumah adat, tradisi, dan tata sosial yang berjalan sehari-hari. Karena itu, pengembangan pariwisata berbasis masyarakat di kampung ini dikaitkan dengan upaya menjaga adat sebagai rujukan utama dalam setiap aktivitas kunjungan.
Siaran pers BCA dan liputan media menekankan pentingnya keseimbangan antara kunjungan wisata dan pelestarian budaya, namun belum merinci batas area yang boleh dimasuki wisatawan, larangan fotografi, tata cara berpakaian, maupun pengaturan waktu kunjungan saat ritual. Informasi tersebut umumnya diatur oleh pengelola lokal dan masyarakat adat.
Dengan informasi yang tersedia, wisatawan dianjurkan menggunakan pemandu lokal, meminta izin sebelum memotret warga atau bagian rumah adat, serta mengikuti arahan pengelola selama berada di kampung. Ketentuan resmi dari pengelola kampung tetap perlu dikonfirmasi oleh wisatawan sebelum perjalanan agar kegiatan wisata tidak mengganggu penghuni kampung maupun prosesi adat.
Sumber
Berita berikutnya

Fenomena Laut Dingin Alor Kecil Dorong UMKM dan Festival ALaDin
Fenomena air laut dingin di Desa Alor Kecil, Kabupaten Alor, muncul bertepatan dengan Festival ALaDin 2026 dan menarik wisatawan.

