Bandara Mbay dan Pemulihan Konektivitas Pariwisata Flores
Rencana pembangunan Bandara Mbay di Nagekeo kembali disorot setelah gempa dan erupsi mengganggu konektivitas pariwisata Flores.
Oleh Asyinta Sastra
Editor: Mursyid Sonsang
· 4 menit baca
Labuan Bajo — Rencana pembangunan Bandara Mbay di Kabupaten Nagekeo kembali disorot setelah gempa bermagnitudo 7,7 dan erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki mengganggu konektivitas dan aktivitas pariwisata di Flores. Dalam pemberitaan dan dokumen perencanaan daerah, bandara ini dipandang strategis untuk memperkuat akses udara Flores, tetapi hingga kini masih berada pada tahap rencana dan belum beroperasi sebagai bandara komersial.
Menurut laporan VIVA NTT, gempa dan erupsi di Flores memunculkan kembali pembahasan perlunya jalur transportasi alternatif ketika jalan terputus dan penerbangan terganggu. Bandara Mbay disebut sebagai salah satu titik yang dinilai penting dalam wacana penguatan konektivitas Flores pascabencana.
Pemerintah Kabupaten Nagekeo sejak beberapa tahun terakhir memasukkan pembangunan Bandara Mbay, yang juga disebut Bandara Surabaya 2 Mbay, dalam agenda strategis daerah. Dalam siaran resmi Musrenbang RPJPD 2025–2045, pemerintah daerah menyebut bandara ini telah memiliki Surat Keputusan Penetapan Lokasi dari Kementerian Perhubungan dengan panjang landas pacu yang direncanakan 2.870 meter. Bandara Mbay dirancang sebagai bandara pengumpul untuk mendukung konektivitas Pulau Flores dan pariwisata super premium Labuan Bajo.
Radio Republik Indonesia (RRI) melaporkan, pemerintah Nagekeo memperkuat koordinasi percepatan pembangunan Bandara Surabaya 2 Mbay. Pembangunan bandara dipandang strategis karena diharapkan menjadi pintu masuk baru bagi wisatawan dan investor ke Nagekeo, mendorong sektor pariwisata dan perdagangan, serta memperkuat konektivitas antarwilayah di Flores.
Konteks gempa dan gangguan pariwisata
Gempa bermagnitudo 7,7 mengguncang wilayah Mbay–Nagekeo, Pulau Flores, pada 15 Agustus 2026. Kementerian Pariwisata dan Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) melaporkan kerusakan pada sejumlah fasilitas akomodasi, termasuk Hotel Papita Mbay di Nagekeo, yang mengalami kerusakan parah dan masih dalam proses koordinasi penanganan.
Di Labuan Bajo, pemerintah daerah dan BPOLBF memastikan destinasi tetap aman dikunjungi dengan penyesuaian operasional. Penerbangan di Bandara Komodo, Bandara Frans Seda Maumere, dan Bandara Gewayantana Larantuka tetap berlangsung dengan penyesuaian jadwal, sementara beberapa bandara lain sempat menghentikan layanan sementara. Informasi ini memperlihatkan betapa pentingnya jaringan transportasi yang tangguh dan alternatif dalam situasi pascabencana.
Bandara Mbay dalam strategi konektivitas Flores
Dalam dokumen perencanaan pariwisata Nagekeo, wilayah Mbay dan sekitarnya ditetapkan sebagai salah satu kawasan strategis pariwisata daerah. Pengembangan aksesibilitas pariwisata mencakup rute jalan, pelabuhan, dan rencana integrasi pelabuhan, bandara, dan terminal untuk mendukung Nagekeo sebagai salah satu pusat pariwisata bahari dan minat khusus di Flores. Rencana tersebut menempatkan Bandara Mbay sebagai bagian dari kerangka besar menjadikan Nagekeo “The Heart of Flores”.
Pemerintah Nagekeo juga mengaitkan Bandara Mbay dengan proyek bendungan Mbay Lambo dan pengembangan marina sebagai pintu masuk destinasi wisata wilayah Flores bagian tengah dan timur. Dalam penjelasan Penjabat Bupati Nagekeo, pembangunan bandara di Mbay ditargetkan menjadikan kawasan tersebut destinasi baru yang mendukung posisi Labuan Bajo sebagai pusat pariwisata super premium.
Namun, baik siaran resmi pemerintah daerah maupun laporan media belum menyebutkan jadwal operasional, maskapai yang akan melayani, maupun rute penerbangan yang sudah ditetapkan untuk Bandara Mbay. Informasi yang tersedia masih pada tingkat perencanaan dan upaya percepatan, bukan laporan pembukaan atau berjalannya pelayanan penerbangan reguler.
Dampak bagi wisatawan dan pelaku usaha
Bagi wisatawan dan pelaku usaha di sektor pariwisata Flores, kehadiran Bandara Mbay diproyeksikan akan menambah pilihan akses masuk ke pulau. Pemerintah Nagekeo menempatkan pembangunan bandara sebagai instrumen untuk memperkuat arus wisatawan, memperlancar distribusi barang, dan membuka peluang investasi di wilayah tengah Flores.
Dalam situasi pascabencana seperti gempa dan erupsi, rute alternatif menjadi penting agar perjalanan dan aktivitas ekonomi tidak terlalu bergantung pada satu bandara atau satu jalur darat. Wacana mengenai Bandara Mbay yang muncul pasca-gempa menunjukkan bahwa penguatan jaringan transportasi udara Flores dipandang sebagai bagian dari strategi jangka panjang pemulihan dan pengembangan pariwisata.
Meski demikian, tanpa kepastian mengenai tahap konstruksi, waktu penyelesaian, dan kesiapan operasional, Bandara Mbay saat ini masih berstatus rencana pembangunan. Peran nyatanya dalam pemulihan pariwisata Flores baru dapat diukur setelah ada kejelasan tahapan proyek, uji kelaikan, dan penetapan rute penerbangan yang melayani wisatawan dan pelaku usaha di kawasan tersebut.
Sumber
- RRI Ende - Pemkab Nagekeo Perkuat Koordinasi Percepatan Pembangunan Bandara Surabaya 2 Mbay
- Warisan Budaya Nusantara - Diskusi Tanah Bandara, Penjabat Bupati Nagekeo Bertemu KSAD TNI Jenderal Maruli Simanjuntak
- Presentasi Paket Yes II Update – Dokumen Perencanaan Pariwisata Nagekeo
- FloresPos Net - Kemenpar dan BPOLBF Pastikan Keselamatan Wisatawan dan Identifikasi Dampak Sektor Pariwisata Pasca Gempa M 7,7 Flores
- Investortrust.id - Gempa M 7,7 Guncang Flores, 986 Wisatawan Pulau Padar Dipulangkan
- DetikTravel - Pemerintah Pastikan Labuan Bajo Tetap Aman Dikunjungi Usai Diguncang Gempa
- RadarIndonesiaNews - Pasca Gempa, Pariwisata Labuan Bajo dan Taman Nasional Komodo Berangsur Normal
- VIVA NTT
Berita berikutnya

Fenomena Laut Dingin Alor Kecil Dorong UMKM dan Festival ALaDin
Fenomena air laut dingin di Desa Alor Kecil, Kabupaten Alor, muncul bertepatan dengan Festival ALaDin 2026 dan menarik wisatawan.

