Sebagian NTT Masuk Status Waspada–Awas Kekeringan hingga 20 September
BMKG menetapkan sebagian wilayah Nusa Tenggara Timur dalam status waspada hingga awas kekeringan meteorologis untuk periode 11–20 September 2026.
Oleh Pandi Muktar
Editor: Mursyid Sonsang
· 4 menit baca
Kupang — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menetapkan sebagian wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) masuk dalam status waspada hingga awas kekeringan meteorologis untuk periode 11–20 September 2026. Peringatan ini menjadi bagian dari peringatan dini kekeringan nasional yang dikeluarkan BMKG ketika lebih dari 80 persen zona musim di Indonesia telah memasuki musim kemarau pada awal September 2026.
Kekeringan meteorologis merujuk pada kondisi curah hujan yang jauh di bawah normal dalam suatu periode. Status ini merupakan indikator cuaca dan iklim, sehingga tidak otomatis berarti seluruh wilayah NTT mengalami krisis air atau gagal panen.
Menurut laman resmi BMKG tentang peringatan dini kekeringan meteorologis, NTT termasuk dalam provinsi yang memiliki kabupaten dengan status waspada, siaga, dan awas untuk periode 11–20 September 2026. Media nasional seperti Metro TV dan jaringan Tribun mengutip data yang sama dan menempatkan NTT sebagai salah satu provinsi dengan daerah berstatus awas kekeringan pada periode tersebut.
Daerah dan tingkat kewaspadaan di NTT
Dalam tabel peringatan dini kekeringan meteorologis BMKG, beberapa kabupaten di NTT tercatat berada pada kategori siaga hingga awas. Metro TV merinci bahwa NTT termasuk dalam daftar 24 provinsi yang memiliki daerah dengan status awas kekeringan, dengan sejumlah kabupaten disebutkan seperti Alor, Belu, Flores Timur, Kota Kupang, Kabupaten Kupang, Lembata, Nagekeo, Ngada, Sumba Timur, dan Timor Tengah Utara.
Dalam kategori siaga, Metro TV menyebut daerah lain di NTT, antara lain Ende, Manggarai, Manggarai Barat, Manggarai Timur, Rote Ndao, Sabu Raijua, Sikka, Sumba Barat, Sumba Barat Daya, Sumba Tengah, dan Timor Tengah Selatan. Jaringan Tribun menulis bahwa “sebagian Nusa Tenggara Timur” masuk dalam daftar wilayah yang mendapat peringatan dini kekeringan meteorologis untuk periode 11–20 September 2026, tanpa merinci kecamatan atau desa.
Informasi rinci hingga tingkat kabupaten dan kategori kewaspadaan perlu merujuk langsung pada tabel resmi BMKG yang diperbarui, karena media hanya mengutip sebagian dari daftar tersebut.
Prakiraan hujan rendah hingga Oktober–November
Analisis dinamika atmosfer BMKG menunjukkan peluang tinggi curah hujan kurang dari 50 milimeter per bulan di NTT sejak September 2026. Pada September 2026, curah hujan kurang dari 50 milimeter per bulan berpeluang tinggi terjadi di Pulau Jawa, Bali, NTB, NTT, sebagian Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan beberapa wilayah Papua.
Untuk Oktober 2026, BMKG memprakirakan curah hujan kurang dari 50 milimeter per bulan berpeluang tinggi terjadi di sebagian besar NTT. Sejumlah analisis iklim yang mengutip BMKG menyebut bahwa kondisi ini berlanjut pada November 2026, dengan sebagian NTT masih berpeluang mengalami curah hujan kurang dari 50 milimeter per bulan sebelum tren kering mulai berkurang menjelang akhir tahun.
Prakiraan hujan dasarian BMKG juga menempatkan hampir semua kabupaten di NTT dalam kategori curah hujan rendah, yakni 0–50 milimeter per dasarian, pada Dasarian II dan III September 2026. Situasi ini menunjukkan bahwa lahan di banyak wilayah NTT berpotensi tetap kering hingga awal Oktober.
Dampak potensial dan ajakan mitigasi
BMKG dalam berbagai rilis prakiraan cuaca sepekan menyebut bahwa curah hujan rendah yang mendominasi sebagian besar Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua mengindikasikan atmosfer yang relatif kering, diperkuat oleh fenomena El Niño kategori sangat kuat. Kondisi lahan kering meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan apabila warga melakukan pembakaran terbuka.
BMKG mengimbau masyarakat di wilayah yang mengalami musim kemarau dan kekeringan meteorologis untuk menghemat penggunaan air dan mengutamakan kebutuhan pokok. Warga diimbau tidak membakar lahan dan sampah, serta segera melaporkan asap atau titik api kepada aparat setempat untuk mengurangi risiko kebakaran di tengah kondisi kering.
BMKG juga meminta masyarakat dan pemerintah daerah memantau perkembangan informasi cuaca dan iklim melalui kanal resmi, karena peluang hujan lokal tetap ada meski intensitas dan sebarannya rendah. Peringatan dini kekeringan meteorologis dimaksudkan sebagai dasar kewaspadaan dan perencanaan, bukan kepastian bahwa hujan tidak terjadi sama sekali di NTT pada periode 11–20 September 2026.
Sumber
- BMKG – Analisis Dinamika Atmosfer Dasarian I September 2026
- MetroTVNews – 24 Provinsi Masuk Kategori Awas Kekeringan Meteorologis, Ini Daftar Daerahnya
- Tribunnews Jatim – Daftar Wilayah Terancam Kekeringan 11–20 September 2026, Sebagian Jawa Timur Masuk Status Awas BMKG
- Papua Selatan Disway – Update Iklim BMKG: El Nino Sangat Kuat Picu Ancaman Kekeringan Meteorologis di Indonesia
- KompasTV
Berita berikutnya
Abu Ili Lewotolok Tutup Sementara Bandara Wunopito dan Gewayantana
Abu vulkanik erupsi Gunung Ili Lewotolok pada 10 September 2026 menutup sementara Bandara Wunopito di Lewoleba dan Bandara Gewayantana di Larantuka.

