Suku Mulu di Ngada Gelar Ghang Bhaku W’ru Syukur Panen
Suku Mulu di Desa Ndekundenu, Ngada, menggelar Ghang Bhaku W’ru sebagai ungkapan syukur setelah panen dan penghormatan kepada leluhur.
Oleh Asyinta Sastra
Editor: Mursyid Sonsang
· 3 menit baca
Bajawa — Ratusan warga komunitas adat Suku Mulu di Desa Ndekundenu, Kecamatan Wolomeze, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, mengikuti perayaan adat Ghang Bhaku W’ru sebagai ungkapan syukur atas hasil panen dan penghormatan kepada leluhur pada Selasa, 7 Juli 2026.
Ketua Komunitas Adat Suku Mulu, Yohanes Wase, menjelaskan Ghang Bhaku W’ru merupakan tradisi turun-temurun yang terus dijalankan dan melibatkan partisipasi sukarela anggota suku dengan membawa sebagian hasil panen masing-masing untuk dikumpulkan dan dinikmati bersama, menurut laporan Ekorantt.com.
Warga membawa berbagai bahan pangan pokok seperti beras, kacang-kacangan, dan umbi-umbian. Bahan pangan itu diolah dan dimakan bersama anggota suku dan tamu yang hadir sebagai bagian dari ritual kebersamaan setelah panen.
Syukur panen dan ruang refleksi
Perayaan Ghang Bhaku W’ru tidak hanya diisi dengan makan bersama. Menurut Yohanes Wase sebagaimana dikutip Ekorantt.com, warga Suku Mulu juga memanfaatkan momentum ini untuk mengevaluasi berbagai capaian dalam setahun terakhir dan membicarakan hal-hal yang perlu dibenahi dalam kehidupan bersama.
Rangkaian kegiatan mencakup doa bersama. Masyarakat memanjatkan doa kepada Tuhan dan mengingat jasa leluhur agar pada musim tanam berikutnya mereka kembali memperoleh hasil panen yang baik.
Yohanes mengatakan, tradisi ini berkaitan langsung dengan siklus pertanian warga. Perayaan digelar setelah panen dan menggunakan hasil pertanian warga sebagai bagian dari kebersamaan dalam ritual.
Data utama:
- Tradisi: Ghang Bhaku W’ru
- Pelaksanaan: Selasa, 7 Juli 2026
- Lokasi: Desa Ndekundenu, Kecamatan Wolomeze, Kabupaten Ngada
- Peserta: Ratusan anggota Suku Mulu dan warga yang hadir
- Hasil panen: Beras, kacang-kacangan, dan umbi-umbian
Pelestarian identitas masyarakat adat
Menurut Yohanes Wase, Ghang Bhaku W’ru penting sebagai sarana memperkenalkan kembali budaya dan kebiasaan masyarakat adat kepada generasi muda. Melalui kegiatan bersama ini, pengetahuan mengenai adat istiadat dan nilai kebersamaan diturunkan kepada anak-anak dan pemuda Suku Mulu.
Pelibatan generasi muda dipandang krusial karena tradisi ini bukan hanya terkait dengan hasil pertanian, tetapi juga dengan ingatan kolektif dan identitas komunitas. Pertemuan antargenerasi dalam perayaan adat membantu menjaga kesinambungan pengetahuan dan praktik budaya.
Wakil Bupati Ngada, Bernadinus Dhey Ngebu, hadir dalam perayaan adat Suku Mulu di Ngada dan menyatakan dukungan pemerintah daerah terhadap upaya pelestarian budaya lokal, sebagaimana tercermin dalam berbagai kegiatan kebudayaan yang melibatkan pemerintah bersama komunitas adat di Kabupaten Ngada.
Dalam sejumlah kesempatan resmi, Bernadinus Dhey Ngebu menyampaikan bahwa pemerintah daerah mendorong penguatan regulasi mengenai masyarakat adat, termasuk percepatan pembahasan peraturan daerah yang mengakui dan melindungi komunitas adat di Ngada. Sikap tersebut sejalan dengan laporan yang menyoroti upaya DPRD dan pemerintah daerah mempercepat pengesahan perda masyarakat adat.
Pemerintah Kabupaten Ngada juga menyatakan dukungan terhadap pemajuan budaya melalui fasilitasi dan pendampingan kepada komunitas adat dalam mengelola berbagai kegiatan tradisi. Dukungan ini dimaksudkan agar tradisi seperti Ghang Bhaku W’ru tetap hidup dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di tengah perubahan sosial dan perkembangan teknologi.
Sumber
Berita berikutnya
Labuan Bajo Hasilkan 4.836 Ton Sampah Pangan per Tahun
Kajian WRI Indonesia dan Garda Pangan mencatat Labuan Bajo menghasilkan sekitar 4.836 ton sisa pangan setiap tahun dengan kontribusi terbesar dari sek…

