NTT Hari Ini

Senin, 21 September 2026

161 Guru SD Lembata Ikut Workshop Matematika GEMBIRA

Sebanyak 161 guru dari 161 SD di Kabupaten Lembata mengikuti workshop Model Pembelajaran Matematika GEMBIRA untuk Fase A di Wisma Don Bosco, Lewoleba.

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· Peristiwa: · 3 menit baca

Buka foto ukuran besar. Foto arsip: PADANG KASANG DAN GUNUNG LEWOTOLOK-LEMBATA NTT.
Foto arsip: PADANG KASANG DAN GUNUNG LEWOTOLOK-LEMBATA NTT. · Foto: Flaviana Sogen / Wikimedia Commons, CC BY 4.0

Lewoleba — Sebanyak 161 guru dari 161 sekolah dasar di Kabupaten Lembata mengikuti workshop Model Pembelajaran Matematika GEMBIRA untuk Fase A di Wisma Don Bosco, Lewoleba, pada 8–15 September 2026, untuk memperkuat pembelajaran matematika yang aktif dan bermakna bagi siswa kelas awal menurut laporan Media NTT.

Workshop berlangsung dalam tiga gelombang. Gelombang pertama digelar pada 8–9 September dengan 50 peserta, gelombang kedua pada 10–11 September dengan 50 peserta, dan gelombang ketiga pada 14–15 September dengan 61 peserta.

Menurut laporan yang sama, kegiatan ini diikuti guru dari seluruh kecamatan di Lembata dengan target penerapan pendekatan Matematika GEMBIRA di kelas awal sekolah dasar.

  • Peserta: 161 guru SD.
  • Sekolah asal: 161 SD di Kabupaten Lembata.
  • Lokasi: Wisma Don Bosco, Lewoleba.
  • Model pembelajaran: Matematika GEMBIRA untuk Fase A.

Pembukaan workshop dilakukan oleh Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Lembata, Suhartin Bungalaleng, mewakili Kepala Dinas Pendidikan. Penutupan dilakukan oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Lembata, Wenseslaus Ose.

Metode pelatihan

Guru Jemy Leumara bertindak sebagai fasilitator daerah sekaligus pemateri selama workshop. Menurut penjelasan Media NTT, materi tidak hanya disampaikan melalui paparan konsep, tetapi juga melalui permainan matematika, simulasi, tantangan, dan aktivitas kelompok yang menyerupai pembelajaran di kelas Fase A.

Pada sesi praktik, para guru bergantian berperan sebagai peserta didik. Mereka menyelesaikan tantangan, berdiskusi, bergerak, dan berinteraksi sebelum membedah setiap aktivitas untuk mengidentifikasi konsep matematika yang terkandung.

Peserta dilatih menyusun pertanyaan yang sesuai dengan tingkat perkembangan murid serta mengenali cara memastikan pemahaman materi. Setelah itu, mereka mempraktikkan kembali aktivitas tersebut sebagai guru dan menerima umpan balik terkait instruksi, pengelolaan kelas, pelibatan siswa, serta pengembangan permainan menjadi sarana belajar.

Dokumen modul resmi Matematika GEMBIRA menjelaskan bahwa alur pembelajaran ini terdiri dari lima tahapan yang saling berkaitan: Gali dan Eksplorasi, Muat Konten, Buat Aktivitas, Ikuti Pemikiran Murid, dan Rayakan dan Akhiri. Pendekatan ini menempatkan permainan dan aktivitas kontekstual sebagai bagian dari proses membangun pemahaman konsep, bukan sekadar untuk menciptakan suasana menyenangkan.

Dalam alur tersebut, guru mengawali dengan menggali pengetahuan awal dan konteks yang dekat dengan murid, kemudian memuat konten numerasi secara bermakna, menyusun aktivitas yang relevan, mengikuti cara murid berpikir, lalu menutup dengan refleksi dan apresiasi terhadap upaya murid.

Konteks numerasi

Balai Guru dan Tenaga Kependidikan (BGTK) di berbagai provinsi menjelaskan Matematika GEMBIRA sebagai program peningkatan kompetensi guru untuk memperkuat kemampuan numerasi murid melalui pembelajaran yang kontekstual dan kolaboratif. Dalam sosialisasi dan pelatihan yang dilakukan BGTK, alur GEMBIRA digunakan sebagai jembatan pedagogis untuk menerjemahkan kebijakan penguatan numerasi menjadi praktik di kelas.

Surat undangan BGTK Nusa Tenggara Timur untuk kegiatan sosialisasi Matematika GEMBIRA menyebut gerakan ini terkait langsung dengan upaya memperbaiki capaian numerasi di rapor pendidikan daerah yang masih memerlukan perhatian. Workshop di Lembata berlangsung dalam konteks kebijakan tersebut, dengan harapan guru kelas awal mampu merancang pengalaman belajar matematika yang konsisten dan dekat dengan kehidupan sehari-hari murid.

Keterlibatan guru dari 161 SD di Lembata membuka peluang penerapan hasil pelatihan di sekolah masing-masing. Implementasi tetap perlu disesuaikan dengan karakteristik siswa dan kondisi setiap satuan pendidikan, sejalan dengan prinsip alur GEMBIRA yang adaptif terhadap konteks lokal.

Sumber

Berita berikutnya

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.