NTT Hari Ini

Senin, 21 September 2026

60 Guru Sumba Barat Kembangkan 40 Modul Literasi Berbasis Budaya Lokal

Sebanyak 60 guru SD di Sumba Barat mengikuti pelatihan pengembangan metode pembelajaran literasi dan numerasi kontekstual berbasis kearifan budaya lokal Sumba.

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· Peristiwa: · 3 menit baca

Buka foto ukuran besar. Foto arsip: Sunset in Sumba.
Foto arsip: Sunset in Sumba. · Foto: orangpelupa / Wikimedia Commons, CC BY 4.0

Waetabulla — — Sebanyak 60 guru sekolah dasar di Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur, mengikuti pelatihan pengembangan metode pembelajaran berbasis literasi dan numerasi kontekstual yang mengangkat nilai-nilai budaya lokal Sumba. Pelatihan itu menghasilkan sekitar 40 modul ajar yang kemudian diresmikan oleh Wakil Bupati Sumba Barat, Thimotius Tede Ragga, pada 12 Maret 2026.

Pelatihan dan pengembangan modul ajar tersebut menyasar guru kelas awal sekolah dasar. Menurut laporan lembaga penyiaran publik, 60 guru dari berbagai sekolah di Sumba Barat mengikuti rangkaian kegiatan sebelum peluncuran modul ajar kontekstual berbasis kearifan budaya lokal Sumba.

Rangkaian pelatihan menghasilkan sekitar 40 modul ajar yang memanfaatkan nilai budaya lokal sebagai bagian dari materi pembelajaran literasi dan numerasi. Modul-modul ini dikembangkan untuk membantu guru mengaitkan kegiatan membaca, menulis, dan berhitung dengan kehidupan sehari-hari siswa di lingkungan mereka.

Pendekatan Kontekstual Berbasis Budaya Lokal

Dalam acara peresmian modul ajar di Sumba Barat, Wakil Bupati Thimotius Tede Ragga menegaskan pentingnya pembelajaran yang berakar pada kehidupan dan budaya lokal. Menurut dia, guru perlu mengenali budaya, pekerjaan, serta keseharian murid agar pembelajaran menjadi lebih relevan dan mudah dipahami.

Wakil bupati menjelaskan bahwa modul ajar kontekstual berbasis kearifan budaya lokal Sumba diharapkan menjadi sarana bagi guru untuk mengintegrasikan pengalaman anak dan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar. Pendekatan ini ditujukan untuk memperkuat kemampuan literasi dan numerasi siswa tanpa memutuskan materi pelajaran dari konteks sosial mereka.

Dalam laporan lembaga penyiaran publik itu, pengembangan modul ajar kontekstual disebut sebagai bagian dari upaya memperbaiki kualitas pembelajaran di kelas awal sekolah dasar melalui metode yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat Sumba Barat.

Peran Sokola Sumba dan Dukungan Lembaga Filantropi

Di tingkat nasional, program-program literasi dan numerasi dasar di wilayah Sumba mendapat dukungan sejumlah lembaga filantropi. William & Lily Foundation, misalnya, mencatat pelaksanaan beberapa program literasi dan numerasi dasar di Sumba Barat Daya yang berfokus pada penguatan kapasitas guru kelas 1–3 dalam mengajarkan membaca dan berhitung secara kontekstual.

Laporan tahunan lembaga tersebut menyebut kerja sama dengan mitra lokal untuk melaksanakan pelatihan dan pendampingan intensif bagi guru, termasuk pemanfaatan pendekatan membaca berimbang dan metode konkret-gambar-abstrak dalam numerasi. Program-program itu menyasar guru sekolah dasar dan bertujuan meningkatkan kemampuan literasi siswa kelas awal melalui pembelajaran yang relevan dengan kehidupan mereka.

Di Kabupaten Sumba Barat sendiri, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi mencatat keberadaan Sokola Sumba (Hakola Huba) sebagai salah satu sekolah adat yang berdiri sejak 2019. Sokola Sumba menjadi bagian dari inisiatif pendidikan masyarakat adat yang mengutamakan konteks sosial dan budaya setempat sebagai sumber utama pembelajaran.

Keberadaan sekolah adat ini menunjukkan bahwa penguatan literasi dan numerasi melalui pendekatan berbasis budaya lokal bukan program yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari ekosistem pendidikan yang lebih luas di Sumba Barat dan Sumba Barat Daya.

Harapan Penerapan di Kelas

Modul ajar kontekstual berbasis kearifan budaya lokal Sumba yang diresmikan di Sumba Barat diharapkan dapat digunakan secara bertahap oleh guru-guru di sekolah dasar, terutama di kelas awal. Pemerintah daerah menaruh harapan agar modul tersebut membantu meningkatkan kemampuan membaca, menulis, dan berhitung siswa melalui contoh-contoh yang bersumber dari kehidupan sehari-hari mereka.

Dengan dukungan program literasi dan numerasi dasar di wilayah Sumba, guru memiliki lebih banyak rujukan untuk mengembangkan pembelajaran yang mengintegrasikan budaya lokal, praktik kerja masyarakat, dan lingkungan sekitar ke dalam kegiatan belajar mengajar.

Sumber

Berita berikutnya

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.