Agrowisata Patawang Dorong Desa Mandiri dan Raih Gold Award CSR 2025
Desa Patawang di Kecamatan Umalulu, Sumba Timur, berkembang sebagai kawasan agrowisata hijau berbasis lingkungan dan edukasi melalui program Hijau Manise PT Muria Sumba Manis.
Oleh Asyinta Sastra
Editor: Mursyid Sonsang
· Peristiwa: · 3 menit baca
Waingapu — Desa Patawang di Kecamatan Umalulu, Kabupaten Sumba Timur, mendorong penguatan kawasan agrowisata berbasis lingkungan dan edukasi bersama PT Muria Sumba Manis (MSM) melalui program Hijau Manise untuk meningkatkan kesejahteraan warga.
Pengembangan Agrowisata Patawang menjadi bagian dari rangkaian kegiatan Hijau Manise, yang mencakup penanaman pohon, penyerapan hasil pertanian warga, peningkatan nilai tambah produk lokal, rumah kompos, taman baca, serta penguatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Dalam sejumlah pemberitaan, Agrowisata Patawang disebut sebagai kawasan konservasi dan wisata edukasi berbasis pertanian yang memperkuat ekonomi lokal. Program ini dijalankan melalui kolaborasi perusahaan, pemerintah desa, kelompok sadar wisata, dan warga.
Agrowisata dan status desa mandiri
Media nasional dan lokal mencatat Desa Patawang sebagai salah satu destinasi agrowisata hijau di Sumba Timur. Agrowisata Patawang menawarkan area hijau hasil penghijauan, kebun berbasis pertanian, dan aktivitas edukasi lingkungan bagi pengunjung.
Menurut laporan tentang program Hijau Manise, status Desa Patawang naik dari desa berkembang pada 2022 menjadi desa mandiri pada 2025. Sejumlah tulisan menyebut Patawang sebagai desa mandiri pertama di Kabupaten Sumba Timur yang mencapai status tersebut.
Program Hijau Manise juga dicatat sebagai inisiatif yang menggabungkan kegiatan penghijauan dengan pemberdayaan sosial dan ekonomi masyarakat, termasuk pengembangan UMKM dan pengelolaan kawasan agrowisata.
Potensi pertanian dan usaha warga
Laporan tentang Agrowisata Patawang menggambarkan kawasan ini sebagai ruang konservasi sekaligus tujuan wisata edukatif yang berbasis pertanian. Pengunjung diajak menyusuri area hijau, berinteraksi dengan petani lokal, dan belajar tentang pertanian berkelanjutan.
Di desa ini berkembang kelompok usaha perempuan Kube Maukawini yang memproduksi makanan lokal dan kerajinan tangan. Produk yang disebut dalam pemberitaan meliputi kacang mete panggang, madu hutan, dan tenun khas Sumba yang dibuat dengan teknik tradisional.
Penelitian dan laporan lapangan mengenai program Hijau Manise menunjukkan bahwa pengembangan agrowisata dan penanaman pohon dilakukan di lahan desa, lahan gereja, dan pekarangan warga sebagai sumber pendapatan baru. Pendekatan ini dikaitkan dengan upaya memperkuat kelembagaan desa dan pembentukan unit usaha agrowisata.
Pemberdayaan anak dan penghargaan CSR
Media lokal melaporkan kegiatan belajar menanam di Agrowisata Patawang yang diikuti anak-anak Desa Patawang pada Maret 2025. Kegiatan bertema "Kecil-kecil Berkebun" itu mengajak anak mengenal tanaman sayuran dan pentingnya menjaga lingkungan, sebagai bagian dari pilar lingkungan program CSR Hijau Manise.
Program Hijau Manise dan Desa Agrowisata Patawang mendapat pengakuan dalam ajang CSR & Pengembangan Desa Berkelanjutan Awards 2025 yang diselenggarakan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi bersama Indonesia Social Sustainability Forum. Desa Agrowisata Patawang disebut meraih Gold Award pada ajang tersebut.
Berbagai laporan menilai penghargaan itu sebagai pengakuan atas kontribusi program Hijau Manise dalam mendorong pembangunan desa berkelanjutan di Sumba Timur, termasuk di Desa Patawang.
Sumber
Berita berikutnya

UGM Kembalikan Artefak Situs Warloka kepada Warga Desa Warloka Pesisir
UGM mengembalikan koleksi hasil ekskavasi Situs Warloka kepada warga Desa Warloka Pesisir. Penyerahan pada 14 Juli 2025 itu melibatkan University of G…
Baca juga




