UGM Kembalikan Artefak Situs Warloka kepada Warga Desa Warloka Pesisir
UGM mengembalikan koleksi hasil ekskavasi Situs Warloka kepada warga Desa Warloka Pesisir. Penyerahan pada 14 Juli 2025 itu melibatkan University of Glasgow dan Pemkab Manggarai Barat.
Oleh Asyinta Sastra
Editor: Mursyid Sonsang
· Peristiwa: · 2 menit baca
Labuan Bajo — Universitas Gadjah Mada mengembalikan koleksi artefak hasil ekskavasi Situs Warloka kepada masyarakat Warloka di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur. Penyerahan itu berlangsung pada 14 Juli 2025 dan melibatkan Departemen Arkeologi serta Program Studi Pariwisata Fakultas Ilmu Budaya UGM bersama University of Glasgow dan Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat.
Menurut keterangan UGM, koleksi yang dipulangkan terdiri atas sekitar 40 kilogram benda budaya yang terbagi dalam 15 kategori, termasuk perhiasan, alat bantu, keramik, gerabah, koin, dan sisa kerangka tiga individu leluhur. UGM menyebut temuan itu berasal dari ekskavasi pada 2010 dan selama ini disimpan untuk kepentingan penelitian.
Ketua tim peneliti UGM Tular Sudarmadi mengatakan pengembalian dilakukan karena temuan tersebut pada dasarnya merupakan milik masyarakat Warloka. Dalam keterangan UGM, kerangka leluhur akan dimakamkan kembali sesuai adat dan kepercayaan warga.
University of Glasgow juga menyebut repatriasi itu berlangsung pada 14 Juli di Warloka dan menjadi hasil kerja sama riset yang telah berlangsung sejak 2010. Lembaga itu menulis bahwa sisa kerangka dimakamkan kembali menurut tradisi setempat, sementara benda budaya lainnya disimpan sementara di kantor dinas pariwisata setempat sambil menunggu ruang pamer di Warloka.
Di sisi lain, pemerintah daerah Manggarai Barat menyatakan pengembalian artefak ini penting untuk memperkuat narasi sejarah Warloka sebagai kawasan perdagangan lama. Pemerintah daerah juga mendorong pengembangan ruang edukasi dan penanda sejarah agar situs itu bisa dibaca sebagai warisan budaya, bukan sekadar lokasi temuan arkeologi.
Temuan di Warloka sebelumnya menunjukkan adanya jaringan hubungan dagang masa lampau melalui keramik dan benda impor lain dari berbagai wilayah. Dalam penjelasan UGM dan University of Glasgow, situs itu juga memuat jejak penguburan manusia dari abad ke-13 hingga ke-15, yang memperlihatkan lapisan sejarah masyarakat pesisir Flores pada masa protohistori.
Sumber
Berita berikutnya

Tradisi Etu Nagekeo, Tinju Adat yang Menjaga Persaudaraan
Tradisi tinju adat Etu di Nagekeo dilaksanakan sebagai ritual syukur panen dan pengikat persaudaraan. Pelestarian Etu didorong sejalan dengan pengemba…
Baca juga



