NTT Hari Ini

Senin, 21 September 2026

BPOLBF dan Warga Kempo Kembangkan Desa Wisata Berbasis Komunitas

Desa Kempo di Kecamatan Mbeliling, Manggarai Barat, telah ditetapkan sebagai desa wisata dengan atraksi utama Bukit Golo Cucu dan Gereja Tua Rekas.

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· Peristiwa: · 4 menit baca

Buka foto ukuran besar. Foto arsip: Labuan Bajo Harbor.
Foto arsip: Labuan Bajo Harbor. · Foto: prilfish / Wikimedia Commons, CC BY 2.0

Labuan Bajo — Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) menilai Desa Kempo di Kecamatan Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat, memiliki potensi kuat untuk dikembangkan sebagai desa wisata berbasis alam dan budaya. Penilaian itu muncul seiring rangkaian kegiatan pendampingan dan pelatihan bagi kelompok sadar wisata di desa tersebut.

Sejumlah kajian akademik dan laporan kegiatan menyebut Desa Kempo sebagai salah satu desa wisata di Manggarai Barat dengan potensi utama berupa Bukit Golo Cucu, Gereja Tua Rekas, gua alam, serta lanskap persawahan dan budaya Manggarai. Kajian itu menempatkan desa ini sebagai bagian dari pengembangan pariwisata di kawasan Labuan Bajo dan sekitarnya.

Atraksi utama: Golo Cucu dan Gereja Rekas

Bukit Golo Cucu menjadi salah satu atraksi alam sekaligus religi yang menonjol di Desa Kempo. Kajian tentang pelatihan penyusunan narasi dan peta potensi wisata menyebut Golo Cucu sebagai bukit sekitar 500 mdpl di Kampung Nuri, Desa Kempo, yang menawarkan panorama perbukitan khas Flores dan pemandangan matahari terbit. Bukit ini juga menjadi lokasi masyarakat memanjatkan doa, termasuk memohon hujan saat kemarau.

Laporan lain menggambarkan Golo Cucu sebagai gunung yang menjulang di atas Kampung Nuri, sekitar dua kilometer dari Kampung Rekas, dengan akses melalui jalan beraspal berkelok hingga menuju jalur pendakian. Narasi itu menegaskan posisi Golo Cucu sebagai titik pandang dan ruang cerita rakyat yang dapat dikemas menjadi pengalaman wisata.

Di sisi lain, Gereja Katolik Rekas di wilayah Desa Kempo ditetapkan BPOLBF sebagai salah satu destinasi wisata religi Katolik di Flores karena usia yang mencapai sekitar 100 tahun dan arsitektur bangunan yang khas. Menurut laporan media lokal, BPOLBF mendorong gereja dan Kampung Rekas menjadi destinasi wisata religi sebagai bagian pengembangan jalur ziarah Katolik di Pulau Flores.

Desa wisata dan Pokdarwis Golo Cucu

Beberapa publikasi ilmiah menyatakan Desa Kempo telah ditetapkan sebagai desa wisata di Kabupaten Manggarai Barat. Di desa ini telah terbentuk Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Golo Cucu yang berlokasi di Kampung Nuri. Pokdarwis menjadi wadah keterlibatan langsung warga dalam pengembangan atraksi, layanan, dan narasi wisata.

Salah satu kajian menyebut Pokdarwis Golo Cucu memiliki visi pengembangan melalui pelatihan bahasa Inggris, pelatihan produksi usaha mikro, target kunjungan 500 wisatawan ke Kampung Nuri dan Golo Cucu per tahun, kegiatan pelayanan masyarakat dan reboisasi, serta penjualan suvenir dan kerajinan lokal. Program-program itu menunjukkan arah penguatan kapasitas warga desa dalam mengelola wisata.

Kajian lain menggambarkan Desa Kempo sebagai desa wisata dengan potensi Golo Cucu, Gereja Tua Rekas, dan budaya Manggarai yang dapat dikembangkan dalam paket wisata berbasis komunitas. Informasi ini sejalan dengan pendekatan BPOLBF yang menghubungkan pengembangan destinasi dengan pemberdayaan masyarakat lokal.

Peran BPOLBF dan pengembangan digital

BPOLBF adalah satuan kerja di bawah Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang dibentuk berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 32 Tahun 2018 untuk mempercepat pembangunan pariwisata di kawasan Labuan Bajo Flores. Badan ini menjalankan fungsi koordinatif di 11 kabupaten di Flores dan sekitarnya, termasuk Manggarai Barat.

Dalam berbagai kegiatan di Desa Kempo dan Rekas, BPOLBF mendorong pengembangan wisata religi Katolik dan desa wisata melalui kolaborasi dengan gereja, pemerintah daerah, dan kelompok masyarakat. Pendekatan itu sejalan dengan upaya menjadikan Flores sebagai salah satu destinasi utama wisata religi Katolik di Indonesia.

Laman resmi dan beberapa publikasi menggambarkan strategi BPOLBF antara lain berupa pendampingan kelembagaan, pelatihan, serta penguatan narasi dan promosi digital destinasi. Di desa wisata, penguatan kanal digital dipandang penting agar wisatawan memperoleh informasi memadai tentang atraksi, akses, dan layanan, sekaligus membuka ruang bagi warga memasarkan produk dan jasa secara mandiri.

Dengan kombinasi atraksi alam, budaya, dan religi, serta keberadaan Pokdarwis Golo Cucu, Desa Kempo memiliki modal awal yang kuat sebagai destinasi wisata alternatif bagi wisatawan Labuan Bajo. Tahap berikutnya bergantung pada konsistensi pendampingan, kesiapan layanan dasar, dan kemampuan warga membangun narasi yang terhubung dengan pasar wisata.

Sumber

Berita berikutnya

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.