Bulog Bongkar 150 Ton Beras Movenas di Pelabuhan Labuan Bajo
Perum Bulog membongkar sekitar 150 ton beras mobilisasi nasional (Movenas) di Pelabuhan Labuan Bajo pada 21 Agustus 2026.
Oleh Asyinta Sastra
Editor: Mursyid Sonsang
· Peristiwa: · 3 menit baca
Labuan Bajo — Perum Bulog membongkar sekitar 150 ton beras mobilisasi nasional (Movenas) di Pelabuhan Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, pada Jumat, 21 Agustus 2026. Pembongkaran itu dipantau manajemen Bulog untuk memastikan kualitas beras sebelum didistribusikan ke berbagai wilayah di NTT sesuai penugasan pemerintah.
Direktur Operasi Perum Bulog Andi Afdal dan Direktur Pemasaran Perum Bulog Rahmanto Amin Jatmiko meninjau langsung proses bongkar muat beras Movenas di Labuan Bajo bersama jajaran manajemen logistik, umum, pengadaan dan pengelolaan pangan, serta pimpinan cabang Bulog di NTT. Menurut keterangan Bulog, pemantauan dilakukan agar proses mobilisasi dan distribusi beras berjalan tertib dan sesuai kebutuhan.
Andi Afdal menyampaikan bahwa beras yang masuk melalui Movenas akan dikelola di gudang Bulog dan disalurkan berdasarkan kebutuhan masyarakat serta penugasan pemerintah. Ia menegaskan bahwa Bulog berkomitmen menjaga kelancaran distribusi pangan di NTT, terutama pada masa penanganan bencana dan pemulihan.
Bulog menyebut stok beras di NTT saat ini sekitar 35 ribu ton dan akan diperkuat dengan tambahan sekitar 40 ribu ton beras yang dimobilisasi secara bertahap dari Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, dan Jawa Timur. Tambahan pasokan ini merupakan bagian dari program Movenas untuk memastikan ketersediaan beras di wilayah terdampak bencana dan untuk kebutuhan masyarakat secara umum.
Dengan tambahan melalui Movenas dari berbagai provinsi, Bulog menargetkan total pasokan beras untuk NTT ke depan dapat mencapai lebih dari 90 ribu ton, menggabungkan stok yang sudah ada di gudang dan beras yang sedang dikirim. Bulog menyiapkan penguatan cadangan beras ini sebagai antisipasi kebutuhan bantuan bencana dan stabilisasi pasokan.
Penyaluran untuk bantuan dan stabilisasi harga
Rahmanto Amin Jatmiko menjelaskan bahwa distribusi beras di NTT diarahkan ke wilayah yang membutuhkan, termasuk untuk program Bantuan Pangan, dukungan bagi masyarakat terdampak bencana alam, dan program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Menurut dia, Bulog berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan instansi terkait untuk memastikan penyaluran tepat sasaran.
Dalam penanganan bencana di NTT, Bulog melaporkan telah menyalurkan sekitar 207 ton beras Cadangan Beras Pemerintah (CBP) dan 6.000 liter minyak goreng per 19 Agustus 2026 ke sejumlah kabupaten terdampak gempa. Penyaluran itu dilakukan bersama pemerintah daerah dan lembaga penanganan bencana untuk mendukung kebutuhan pangan warga.
Data utama yang disampaikan Bulog dan sejumlah media meliputi pembongkaran sekitar 150 ton beras Movenas di Pelabuhan Labuan Bajo, stok beras Bulog di NTT yang berada di kisaran 35 ribu ton, serta rencana tambahan sekitar 40 ribu ton yang akan dimobilisasi dari NTB, Sulawesi Selatan, dan Jawa Timur.
Konteks penguatan stok beras NTT
Penguatan stok dilakukan setelah NTT dilanda gempa yang memengaruhi sejumlah wilayah di Flores dan sekitarnya. Bulog menyampaikan bahwa stok beras pemerintah untuk NTT dinilai cukup, namun tetap diperkuat melalui program Movenas guna menjaga kecukupan beras dan mendukung penugasan pemerintah dalam situasi darurat.
Selain pembongkaran 150 ton beras Movenas di Pelabuhan Labuan Bajo, Bulog melaporkan pengiriman beras dari berbagai wilayah Indonesia untuk menambah cadangan di 46 gudang Bulog di NTT. Pengiriman dilakukan bertahap menggunakan moda laut dan darat dengan pemantauan bersama instansi terkait.
Bulog menyatakan akan terus memonitor kondisi wilayah dan kebutuhan masyarakat di NTT. Distribusi beras dari stok dan Movenas akan disesuaikan dengan perkembangan penanganan bencana dan program bantuan pemerintah, termasuk Bantuan Pangan dan SPHP. Dengan langkah tersebut, Bulog berharap ketersediaan beras di NTT tetap terjaga dan masyarakat memiliki akses terhadap pangan pokok selama masa pemulihan.
Sumber
Berita berikutnya

NTT Catat Deflasi 0,40 Persen pada Agustus 2026
Badan Pusat Statistik Nusa Tenggara Timur mencatat deflasi bulanan sebesar 0,40 persen pada Agustus 2026.
Baca juga




