Harga Sapi TTU Turun Menurut Peternak, Pemerintah Sebut Masih Stabil
Laporan Tempo Interaktif menyebut peternak di Timor Tengah Utara mengeluhkan turunnya harga sapi hidup dari Rp17.000 menjadi sekitar Rp16.400 per kilogram, sementara Kepala Dinas Peternakan NTT Samuel Rebo menyatakan harga masih stabil.
Oleh Arsyid Muhamad
Editor: Mursyid Sonsang
· Peristiwa: · 4 menit baca
Timor Tengah Utara — — Harga sapi hidup di Timor Tengah Utara sempat diberitakan turun, tetapi laporan resmi yang tersedia justru menunjukkan perbedaan antara keluhan peternak dan pernyataan pemerintah daerah.
Menurut laporan Tempo Interaktif yang dikutip ulang oleh Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur, peternak sapi di Kabupaten Timor Tengah Utara mengeluhkan turunnya harga jual sapi hidup di daerah itu. Harga jual per kilogram disebut turun menjadi sekitar Rp16.400 dari sebelumnya Rp17.000 per kilogram.
Sebelum keluhan peternak tersebut, Kepala Dinas Peternakan Nusa Tenggara Timur Samuel Rebo menyatakan harga jual sapi hidup masih stabil pada kisaran Rp17.000 per kilogram. Dalam pernyataannya, ia menegaskan bahwa penghentian impor sapi dari Australia tidak memengaruhi harga jual sapi di wilayah Nusa Tenggara.
Perbedaan Pandangan soal Harga
Laporan Tempo Interaktif menyiratkan dua keterangan berbeda: di satu sisi, peternak di Timor Tengah Utara menyebut harga turun hingga sekitar Rp16.400 per kilogram. Di sisi lain, pejabat provinsi menyatakan harga masih stabil di angka Rp17.000 per kilogram.
Keterangan dari Dinas Peternakan Jawa Timur mengutip langsung pernyataan Samuel Rebo mengenai harga yang stabil dan dampak penghentian impor sapi Australia. Namun, salinan itu tidak menambahkan rincian baru mengenai kondisi di tingkat peternak, seperti lokasi pasar, kualitas ternak, atau jenis transaksi yang dimaksud.
Perbedaan ini menunjukkan bahwa informasi harga di Timor Tengah Utara perlu dibaca hati-hati: angka resmi stabil Rp17.000 per kilogram hidup berbenturan dengan laporan keluhan peternak yang menyebut harga sudah turun dari level tersebut.
Angka Harga dan Arus Pengiriman
Dari sisi tata niaga, Nusa Tenggara Timur dikenal sebagai salah satu pemasok sapi hidup ke berbagai wilayah di Indonesia.
Politeknik Pertanian Negeri Kupang mencatat bahwa setiap tahun sekitar 50.000 hingga 64.000 ekor sapi dikirim dari NTT ke Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi. Kajian itu menggunakan asumsi harga berat hidup sekitar Rp39.500 per kilogram untuk menghitung potensi kerugian ekonomi akibat penyusutan bobot selama transportasi.
Data tersebut menunjukkan bahwa volume pengiriman sapi dari NTT dalam satu tahun memang dapat mencapai kisaran puluhan ribu ekor, sejalan dengan gambaran umum yang muncul dalam laporan lama Tempo Interaktif mengenai arus pengiriman dari Nusa Tenggara ke Jakarta, Jawa Barat, dan Kalimantan Timur.
Dampak terhadap Peternak
Bagi rumah tangga peternak di Timor, sapi hidup menjadi salah satu aset penting dan sumber pendapatan tunai. Ketika harga per kilogram turun dari Rp17.000 menjadi sekitar Rp16.400, penerimaan peternak dapat tergerus, terutama untuk ternak dengan bobot besar.
Namun, laporan yang tersedia tidak memuat perhitungan rinci mengenai biaya pakan, pemeliharaan, transportasi, dan biaya lain yang ditanggung peternak di Timor Tengah Utara. Tanpa informasi biaya, dampak terhadap keuntungan bersih peternak hanya dapat disimpulkan secara terbatas.
Kajian Politeknik Pertanian Negeri Kupang tentang penyusutan bobot sapi selama pengiriman menunjukkan bahwa aspek transportasi berpengaruh besar terhadap pendapatan peternak di NTT. Studi itu menyoroti bahwa penurunan bobot saat perjalanan, dikalikan harga per kilogram berat hidup, berpotensi menimbulkan kerugian hingga puluhan miliar rupiah per tahun bagi peternak yang memasok sapi ke luar daerah.
Konteks Kebijakan dan Kuota
Di tingkat kebijakan, pemerintah provinsi Nusa Tenggara Timur menetapkan kuota pengiriman ternak antar kabupaten sebagai bagian dari pengaturan tata niaga sapi.
Pada 2022, misalnya, Timor Tengah Utara mendapat kuota pengiriman sapi keluar daerah sekitar 10.000 ekor dan tercatat sebagai salah satu dari tiga kabupaten pemasok utama bersama Kupang dan Timor Tengah Selatan. Kuota tersebut menunjukkan peran TTU sebagai daerah penghasil sapi yang penting dalam rantai pasok NTT.
Pada 2026, gubernur menetapkan kuota pengiriman ternak untuk seluruh kabupaten, dengan TTU mendapat kuota sekitar 7.334 ekor sapi untuk pengiriman tahun berjalan. Angka ini menggambarkan bahwa volume ternak yang keluar dari TTU diatur melalui keputusan provinsi yang memperhitungkan kapasitas produksi dan kebutuhan pasar luar daerah.
Dalam konteks tersebut, keluhan peternak mengenai penurunan harga di Timor Tengah Utara terjadi di tengah posisi kabupaten sebagai pemasok sapi hidup yang cukup besar, sementara pemerintah provinsi menekankan bahwa kebijakan nasional seperti penghentian impor sapi dari Australia tidak mengganggu harga jual di Nusa Tenggara.
Sumber
Berita berikutnya

DKP NTT Jalankan Program LAUTRA untuk UMKM Pesisir
DKP NTT menjalankan Program Lautan Sejahtera atau LAUTRA untuk UMKM pesisir. Program ini disebut sebagai kerja sama dengan Kementerian Kelautan dan Pe…
Baca juga



