IAI NTT Pamerkan Bahtera Wacana di Rakernas 2026 Labuan Bajo
IAI NTT memamerkan karya arsitek daerah dalam Rakernas 2026 di Labuan Bajo. Salah satu yang ditampilkan ialah Bahtera Wacana karya Hendrik Tara, yang menggabungkan fungsi olahraga dan auditorium.
Oleh Arsyid Muhamad
Editor: Mursyid Sonsang
· Peristiwa: · 3 menit baca
Labuan Bajo — Ikatan Arsitek Indonesia Nusa Tenggara Timur memamerkan karya arsitek daerah dalam rangkaian Rapat Kerja Nasional IAI 2026 di Labuan Bajo, Manggarai Barat. Pameran yang terbuka untuk umum itu berlangsung pada 15–18 September 2026 di Hotel Crowne Plaza Labuan Bajo, menurut laporan RRI dan laman resmi IAI.
Ketua IAI NTT Luiz Wilson mengatakan pameran tersebut menjadi ruang untuk memperkenalkan karya arsitek lokal sekaligus menjelaskan pentingnya perencanaan dalam pembangunan. Dalam pernyataannya, ia menekankan bahwa arsitektur tidak hanya soal bentuk bangunan, tetapi juga fungsi, estetika, dan konsep.
Rangkaian Rakernas IAI 2026 di Labuan Bajo memang dirancang tidak berhenti pada forum organisasi. Laman resmi IAI menyebut kegiatan itu mencakup seminar, workshop, dan pameran arsitektur serta material bangunan sebagai bagian dari tema Architecture for Resilience, Recovery and Humanity.
Bahtera Wacana
Salah satu karya yang dipamerkan adalah Bahtera Wacana karya arsitek asal NTT, Hendrik Tara. Menurut RRI, rancangan itu memadukan fungsi gedung olahraga dan auditorium, sehingga dapat dipakai untuk berbagai kegiatan.
Hendrik menjelaskan konsep Bahtera Wacana berangkat dari gagasan Imago Dei yang ia maknai sebagai citra Allah. Gagasan itu kemudian diterjemahkan ke dalam konsep bahtera kehidupan yang memuat nilai spiritual, sejarah kawasan, budaya NTT, dan pandangan tentang masa depan.
Bentuk bangunan yang melengkung menjadi bagian dari simbol transformasi masa depan. Hendrik mengatakan bangunan itu dirancang untuk mendukung aktivitas mahasiswa Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi, sekaligus dapat dipakai untuk wisuda dan kegiatan publik lain.
Aspek keselamatan juga masuk dalam perencanaan. Menurut Hendrik, perhitungan struktur telah dikaji mengikuti standar gempa, sejalan dengan kondisi NTT yang rawan bencana. Ia mengaitkan pengalaman gempa Flores dengan kebutuhan memperkuat pemahaman masyarakat tentang perencanaan bangunan.
Dalam penjelasannya, Hendrik juga menyebut rumah kayu dan bambu sebagai alternatif konstruksi. Namun, bahan itu tetap memerlukan kualitas material yang baik dan perencanaan yang tepat.
Ruang edukasi publik
Pameran IAI NTT di Labuan Bajo memberi kesempatan kepada pengunjung untuk melihat contoh karya arsitektur sekaligus memahami proses di balik pembangunan. Penjelasan mengenai fungsi, konsep, kondisi tanah, dan standar keselamatan membantu memperluas pengetahuan publik sebelum membangun atau merenovasi bangunan.
Bagi arsitek NTT, forum nasional itu menjadi ruang untuk memperkenalkan karya kepada peserta Rakernas dari berbagai daerah. Pameran juga memperlihatkan bahwa arsitektur lokal dapat memadukan identitas budaya, kebutuhan ruang, dan pertimbangan kebencanaan.
Selain karya arsitek NTT, Rakernas IAI di Labuan Bajo juga menghadirkan pameran material dari sejumlah vendor dan agenda organisasi lain, menurut RRI. Namun sumber yang dikumpulkan tidak merinci nama vendor maupun bentuk kerja sama yang ditawarkan dalam kegiatan itu.
Sumber
Berita berikutnya

Kamilus Ubah Lahan Tandus Honihama Jadi Kebun Jagung Wisata
Kamilus Tupen Jumat dan Koperasi Tani Lewowerang mengubah lahan tandus di Honihama, Adonara, menjadi kebun jagung yang dibuka sebagai swalayan dan rua…
Baca juga





