NTT Hari Ini

Senin, 21 September 2026

PPL TTU Dorong Petani Menyesuaikan Pola Tanam Hadapi Perubahan Iklim

Penyuluh pertanian lapangan di Timor Tengah Utara mendorong penyesuaian waktu tanam, penggunaan varietas berumur pendek, pengamatan sumber air, dan usulan pompanisasi agar petani dapat beradaptasi menghadapi perubahan iklim yang mengganggu…

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· Peristiwa: · 3 menit baca

Buka foto ukuran besar. Foto arsip: A highschool in town of Kefamenanu, North Central Timor Regency.
Foto arsip: A highschool in town of Kefamenanu, North Central Timor Regency. · Foto: Ministry of Education and Culture / Wikimedia Commons, Public domain

Timor Tengah Utara — Penyuluh pertanian di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur, mendorong petani menyesuaikan pola usaha tani untuk menghadapi perubahan iklim yang mengganggu pola tanam dan ketersediaan air. Pendampingan dilakukan melalui pengaturan waktu tanam, pemilihan varietas berumur pendek, serta pemanfaatan teknologi dan sumber air yang tersedia menurut siaran RRI Atambua.

Menurut Koordinator Tim Kerja (Kotimker) Kabupaten TTU, Deni Paulus Kolis, penyuluh pertanian lapangan memberikan edukasi agar petani melihat langsung hasil penerapan teknologi adaptasi di lahan mereka. Dalam wawancara dengan RRI pada Rabu, 16 September 2026, ia menjelaskan bahwa pendampingan dilakukan secara berkelanjutan sehingga petani dapat menyiapkan langkah antisipasi sejak awal musim tanam.

RRI melaporkan, informasi perubahan cuaca disampaikan melalui kegiatan penyuluhan kepada kelompok tani binaan secara rutin. Petani didorong tidak hanya bertahan pada kebiasaan pola tanam lama, tetapi menyesuaikan keputusan budidaya dengan kondisi iklim yang kian tidak menentu.

Penyesuaian varietas dan waktu tanam

Salah satu strategi yang dijelaskan Deni Paulus Kolis ialah penggunaan varietas berumur pendek. Tanaman dengan masa tumbuh lebih singkat dinilai membantu petani mengurangi risiko kekurangan air ketika musim kemarau berlangsung lebih panjang, karena panen dapat dilakukan lebih cepat setelah tanam.

Penyuluh juga mendorong pengaturan kembali waktu tanam. Menurut laporan RRI, petani diarahkan menentukan waktu tanam berdasarkan informasi perubahan cuaca yang disampaikan dalam penyuluhan, sehingga penanaman tidak semata mengikuti kalender musim tradisional yang semakin sulit diprediksi.

Deni menyebut contoh keberhasilan di lapangan menjadi salah satu cara efektif mengajak petani menerapkan teknologi adaptasi. Pendekatan berbasis contoh lapangan dimaksudkan agar petani dapat melihat manfaat praktik yang diperkenalkan, sebelum memperluas penerapannya pada lahan yang lebih besar.

Beberapa langkah yang disampaikan dalam pendampingan kepada petani TTU antara lain:

  • pengaturan waktu tanam berdasarkan informasi perubahan cuaca;
  • pemilihan varietas berumur pendek untuk mengurangi risiko kekurangan air;
  • pengamatan potensi air pada lahan pertanian secara berkala;
  • pengusulan pompanisasi apabila terdapat sumber air yang dapat dimanfaatkan.

Pengamatan sumber air dan pompanisasi

RRI Atambua memberitakan, penyuluh melakukan pengamatan berkala terhadap potensi air di lahan pertanian yang menjadi dampingan mereka. Hasil pengamatan ini menjadi dasar bagi PPL untuk mengusulkan intervensi pompanisasi ketika ditemukan sumber air yang debitnya masih memungkinkan dimanfaatkan petani.

Dalam konteks ini, pompanisasi ditempatkan sebagai intervensi yang bergantung pada kondisi lapangan dan ketersediaan air. Tidak semua lahan dapat langsung memperoleh dukungan pompa, karena sumber air menjadi pertimbangan utama dalam menentukan lokasi yang diusulkan.

Upaya adaptasi tersebut diharapkan dapat membantu mempertahankan produksi pangan hingga musim tanam berikutnya. Petani didorong tetap berproduksi dengan mengikuti petunjuk penyuluh secara konsisten, termasuk memanfaatkan teknologi efisien air seperti irigasi tetes, mulsa, dan sprinkler pada tanaman hortikultura sesuai penjelasan Deni dalam pemberitaan lain RRI Atambua.

Konteks perubahan iklim di TTU

Sejumlah laporan lain dari RRI Atambua dan media lokal TTU menunjukkan bahwa perubahan iklim telah mengganggu pola tanam petani di wilayah tersebut. Kepala Dinas Lingkungan Hidup TTU, misalnya, pernah menjelaskan bahwa ketidakpastian musim hujan membuat petani kesulitan menentukan waktu tanam yang tepat, sehingga mempengaruhi produksi pangan.

Dinas Pertanian TTU juga melaporkan upaya menghadapi kerawanan pangan dan perubahan iklim melalui kebun percontohan serta dorongan penanaman hortikultura pada lokasi dengan air terbatas, dan padi pada lokasi yang memiliki sumber air cukup. Langkah-langkah ini berjalan seiring dengan pendampingan PPL di lapangan.

Pendekatan yang dikembangkan PPL di TTU menunjukkan bahwa adaptasi perubahan iklim dilakukan melalui kombinasi informasi cuaca, penyesuaian keputusan budidaya, serta dukungan teknologi pengelolaan air. Namun, sampai saat ini laporan yang ada belum merinci data kuantitatif, seperti luas lahan yang terdampak, jumlah petani yang telah menerapkan varietas berumur pendek, atau perubahan hasil panen dibanding pola budidaya sebelumnya.

Sumber

Berita berikutnya

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.