PVMBG: Enam Gunung Api Erupsi Bersamaan, Tidak Saling Memicu
PVMBG menegaskan erupsi enam gunung api di Indonesia pada 31 Agustus 2026 merupakan dinamika vulkanik masing-masing gunung yang tidak saling memicu.
Oleh Arsyid Muhamad
Editor: Mursyid Sonsang
· Peristiwa: · 4 menit baca
Labuan Bajo — Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menegaskan erupsi enam gunung api di Indonesia pada 31 Agustus 2026 merupakan aktivitas yang berdiri sendiri dan tidak saling memicu ataupun terhubung dalam satu proses geologi tunggal.
Enam gunung api tersebut adalah Gunung Ibu di Maluku Utara, Gunung Semeru di Jawa Timur, Gunung Lewotobi Laki-laki dan Gunung Ile Lewotolok di Nusa Tenggara Timur, Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, serta Gunung Sinabung di Sumatera Utara.
Pernyataan itu disampaikan Kepala PVMBG Badan Geologi Kementerian ESDM, Rita Susilawati, dalam penjelasan resmi pada awal September 2026 di Bandung.
Menurut Rita, setiap gunung api memiliki sistem magma dan dinamika vulkanik sendiri, sehingga proses menuju erupsi berbeda-beda dan tidak menunjukkan adanya satu mekanisme pemicu yang sama.
Mengapa erupsi dapat berlangsung bersamaan
PVMBG dan Badan Geologi menjelaskan bahwa kedekatan waktu erupsi pada 31 Agustus 2026 tidak cukup untuk menyimpulkan adanya hubungan sebab-akibat antargunung api.
Indonesia berada di kawasan Cincin Api Pasifik dan memiliki banyak gunung api aktif, sehingga beberapa gunung dapat mengalami peningkatan aktivitas atau erupsi pada hari yang sama tanpa harus terhubung dalam satu sistem pemicu.
PVMBG menyebut erupsi keenam gunung api tersebut sebagai perkembangan alami aktivitas masing-masing gunung api, bukan rangkaian erupsi besar yang terjadi secara serentak di seluruh Indonesia.
Lembaga tersebut juga menekankan bahwa aktivitas tektonik hanya dapat memengaruhi sistem vulkanik bila gunung berada dalam kondisi kritis, dan hingga awal September 2026 belum ditemukan bukti adanya satu aktivitas tektonik regional yang memicu keenam erupsi sekaligus.
Penilaian keterkaitan erupsi
Menurut PVMBG, keterkaitan antara gempa tektonik dan erupsi gunung api hanya dapat dinilai bila terdapat perubahan pada data pemantauan internal gunung, seperti kegempaan vulkanik, deformasi tubuh gunung, suhu, dan pelepasan gas.
Karena itu, penilaian aktivitas gunung api harus didasarkan pada rangkaian data pemantauan visual dan instrumental, bukan semata pada kesamaan waktu kejadian erupsi.
Status dan rekomendasi untuk Gunung Sinabung
PVMBG menaikkan status Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) setelah erupsi pada Senin, 31 Agustus 2026.
Berdasarkan data Badan Geologi dan BNPB, erupsi terjadi sekitar pukul 10.17–12.00 WIB dengan kolom abu mencapai sekitar 3.500 meter di atas puncak, dan peningkatan status berlaku mulai pukul 12.30 WIB pada hari yang sama.
PVMBG merekomendasikan masyarakat dan wisatawan untuk tidak beraktivitas di desa-desa yang sudah direlokasi serta menghindari zona berbahaya yang ditetapkan dalam laporan resmi, sekaligus mewaspadai potensi bencana lanjutan seperti hujan abu dan lahar.
Status Anak Krakatau
Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda termasuk dalam daftar gunung api yang erupsi pada 31 Agustus 2026 dan berada pada Level III (Siaga) pada periode tersebut.
Badan Geologi melalui penjelasan publik menyatakan bahwa erupsi Anak Krakatau pada akhir Agustus 2026 merupakan bagian dari aktivitas vulkanik yang dipantau secara rutin dan tidak serta-merta menimbulkan tsunami.
Imbauan untuk wilayah NTT
Dua gunung api dalam daftar erupsi 31 Agustus 2026 berada di Nusa Tenggara Timur, yakni Gunung Lewotobi Laki-laki dan Gunung Ile Lewotolok.
PVMBG meminta masyarakat di sekitar kedua gunung tersebut, termasuk warga NTT, mengikuti informasi dan rekomendasi resmi dari pos pengamatan gunung api, Badan Geologi, dan pemerintah daerah setempat, serta menghindari aktivitas di dalam zona bahaya yang ditetapkan.
Warga diimbau memeriksa ulang informasi dari media sosial dan tidak menyebarkan kabar yang tidak mengacu pada sumber resmi.
Konteks erupsi akhir Agustus 2026
Laporan mengenai enam erupsi gunung api muncul setelah aktivitas vulkanik pada 31 Agustus 2026, dengan erupsi tercatat di Ibu, Semeru, Lewotobi Laki-laki, Ile Lewotolok, Anak Krakatau, dan Sinabung.
Pada awal September 2026, PVMBG dan Badan Geologi memaparkan bahwa fenomena erupsi hampir bersamaan tersebut tidak menunjukkan adanya satu pemicu geologi yang menghubungkan seluruh gunung api, dan masyarakat diminta fokus pada rekomendasi di wilayah masing-masing.
Sumber
- CNN Indonesia - 6 Gunung Api Erupsi Serentak Akhir Agustus, Ini Penjelasan PVMBG
- Kompas TV - Penjelasan PVMBG soal 6 Gunung Api Erupsi Hampir Bersamaan 31 Agustus 2026
- DetikNews - 6 Gunung Api Erupsi Beruntun Akhir Agustus, PVMBG Tak Ada Bukti Saling Picu
- Tirto.id - Kenapa Gunung Api di Indonesia Erupsi Bersamaan?
- RRI Medan - Aktivitas Meningkat, Status Gunung Sinabung Naik Jadi Siaga
- Metro TV News - Kenapa 6 Gunung Api Erupsi Bersamaan? Ini Penjelasan Badan Geologi
- CNBC Indonesia - Aktivitas Gunung Sinabung Meningkat, Satpol PP Antar Jemput Siswa
- BNPB - Gunung Sinabung Erupsi, Status Aktivitas Naik Menjadi Level III Siaga
Berita berikutnya

BNPB: 188.161 Warga NTT Masih Mengungsi Pascagempa 7,7
BNPB mencatat 188.161 warga masih mengungsi akibat gempa magnitudo 7,7 di NTT per 30 Agustus 2026. Pengungsi terkonsentrasi di Nagekeo dan Manggarai,…
Baca juga


