NTT Hari Ini

Sabtu, 31 Oktober 2026

Rektor Undana Ingatkan Warga Kupang Waspadai Hoaks dan Deepfake AI

Rektor Undana Jefri S. Bale mengingatkan warga Kupang memeriksa informasi sebelum mempercayai atau menyebarkan konten yang dapat direkayasa AI.

Oleh

· 2 menit baca

Buka foto ukuran besar. Ilustrasi: Sebuah kaca pembesar antik terletak di atas meja kayu yang dipoles.
Ilustrasi: Sebuah kaca pembesar antik terletak di atas meja kayu yang dipoles. · Foto: Alexander Popadin / Pexels

Kupang — Rektor Universitas Nusa Cendana (Undana), Prof. Dr. Ir. Jefri S. Bale, S.T., M.Eng., mengingatkan masyarakat agar mampu membedakan informasi benar dari konten hasil rekayasa kecerdasan buatan (AI) dalam talk show literasi AI di Ruang Theater Lantai 3 Gedung Rektorat Undana, Jumat (30/10/2026).

Kegiatan bertajuk “Hoaks, Deepfake dan Penipuan Berbasis AI” itu diselenggarakan Dharma Wanita Persatuan (DWP) Undana. Acara tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun DWP ke-27 dan diikuti jajaran pimpinan rektorat, anggota DWP Undana, serta mahasiswa aktif Undana.

Jefri menyampaikan bahwa masyarakat tidak dapat sepenuhnya menghindari penggunaan AI. Karena itu, foto, suara, dan informasi yang tampak meyakinkan tetap perlu diperiksa sebelum dipercaya. Konten digital tidak selalu mencerminkan kenyataan.

Materi talk show mencakup contoh hoaks, deepfake, penipuan digital, validasi informasi, bias dan disinformasi, keamanan akun keluarga, serta pengenalan aplikasi pendeteksi konten berbasis AI. Peserta juga diajak memahami cara memeriksa informasi sebelum menyebarkannya.

Literasi AI membantu warga Kupang memeriksa informasi

Bagi pembaca di Kupang, pesan kegiatan ini berkaitan langsung dengan penggunaan media sosial dan aplikasi percakapan sehari-hari. Konten palsu dapat memanfaatkan foto, wajah, atau rekaman suara seseorang sehingga terlihat dan terdengar meyakinkan. Foto yang benar-benar diambil dari suatu peristiwa pun dapat dipasangkan dengan narasi yang menyesatkan.

Pemateri talk show, Kornelis Letelay, S.Kom., M.Cs., menjelaskan bahwa pemeriksaan tidak cukup dilakukan dengan melihat gambar. Pengguna perlu memperhatikan konteks dan kebenaran informasi yang menyertainya. Detail seperti tekstur wajah, warna, latar belakang, serta bagian gambar yang terlihat tidak wajar dapat menjadi petunjuk awal.

Kornelis juga menekankan perlunya verifikasi dan validasi sebelum seseorang mengambil keputusan atau meneruskan informasi kepada orang lain. Tujuan literasi AI bukan menakut-nakuti masyarakat, melainkan meningkatkan kewaspadaan ketika berhadapan dengan hoaks, deepfake, manipulasi suara, dan penipuan digital.

Sumber

Baca berikutnya

  1. Lanjutan topik ini

  2. Terbaru di Pendidikan

  3. Berita utama hari ini

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.