NTT Hari Ini

Senin, 21 September 2026

Warga Tambolaka Minta Tim Terpadu Atasi Antrean BBM

Warga Tambolaka, Sumba Barat Daya, NTT, mengeluhkan antrean panjang kendaraan di SPBU Radamata, Taworara, dan jalan Waikelo.

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· Peristiwa: · 4 menit baca

Buka foto ukuran besar. Foto arsip: Tower and air port buildings of Tambolaka, Sumba, Indonesia.
Foto arsip: Tower and air port buildings of Tambolaka, Sumba, Indonesia. · Foto: Wybe / Wikimedia Commons, CC BY-SA 3.0

Tambolaka — Warga Kota Tambolaka, Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur, mendesak pemerintah daerah kembali menurunkan tim terpadu untuk menertibkan antrean kendaraan dan penjualan BBM eceran di SPBU Radamata, Taworara, dan SPBU di jalan menuju Pelabuhan Waikelo.

Menurut laporan Pos-Kupang, antrean kendaraan di tiga SPBU tersebut kembali padat hampir satu hingga dua pekan terakhir, dengan waktu tunggu pengisian yang bisa mencapai sekitar satu jam. Sebagian kendaraan disebut mengantre untuk mengisi Pertalite dan solar yang kemudian dijual kembali ke pedagang eceran.

Yance Kalumbang dan Ngongo Dapa, dua warga Tambolaka, menyampaikan keluhan itu saat ditemui ketika mengantre mengisi Pertalite di SPBU Radamata dan SPBU Waikelo pada Selasa, 8 September 2026. Mereka menilai antrean panjang menyulitkan warga mendapatkan BBM untuk kebutuhan sehari-hari dan usaha.

Antrean dan penjualan eceran

Laporan Pos-Kupang menyebut antrean kendaraan terjadi di SPBU Radamata, SPBU Taworara, dan SPBU di jalan menuju Waikelo. Sebagian besar kendaraan yang mengantre dilaporkan merupakan sepeda motor dan mobil yang digunakan untuk membeli Pertalite dan solar, lalu menjualnya kepada pedagang BBM eceran.

Dalam pemberitaan sebelumnya, Pos-Kupang mencatat harga Pertalite eceran di Tambolaka pernah mencapai Rp30.000 per botol air mineral 1,5 liter, antara lain di kawasan Taworara dan Radamata. Di Sumba Barat dan Sumba Barat Daya, harga Pertalite eceran bahkan dilaporkan sempat naik hingga Rp35.000 per botol dari sebelumnya Rp30.000.

SuaraIndonesia1.com juga memberitakan keluhan warga Sumba Barat Daya yang kesulitan memperoleh BBM akibat antrean panjang di SPBU Radamata dan Taworara. Media tersebut melaporkan praktik penimbunan dan pembelian berulang dengan jeriken oleh pedagang eceran sehingga antrean bisa berlangsung berjam-jam bahkan berhari-hari ketika stok BBM tersedia.

Permintaan tim terpadu

Warga Tambolaka menilai situasi yang lebih tertib pernah terjadi ketika tim terpadu bentukan pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya melakukan operasi penertiban di SPBU dan terhadap pedagang BBM eceran. Saat itu, pengisian BBM di SPBU disebut berlangsung ramai tetapi lancar, tanpa antrean panjang dan tanpa penjualan Pertalite secara eceran.

Dalam pemberitaan SuaraIndonesia1.com pada 2024, pejabat terkait di Sumba Barat Daya menyatakan tim dari pemerintah bersama TNI, Polri, Satpol PP, dan perangkat daerah melakukan pengawasan di SPBU, termasuk Radamata dan Taworara. Pengawasan tersebut antara lain terkait gangguan pasokan dan sistem distribusi BBM dari Waingapu serta penertiban aktivitas pembelian berulang.

Merujuk pengalaman tersebut, Yance Kalumbang dan Ngongo Dapa meminta pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya segera mengaktifkan kembali tim terpadu untuk menertibkan pengisian BBM di SPBU dan penjualan Pertalite eceran. Mereka berharap kehadiran tim terpadu dapat mempersingkat waktu tunggu dan memudahkan warga memperoleh BBM sesuai ketentuan.

Sikap Pertamina

Menanggapi pemberitaan mengenai antrean kendaraan di SPBU Sumba Barat Daya, Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus menyatakan stok BBM, termasuk Pertalite, di kabupaten tersebut dalam kondisi terjaga. Pertamina mencatat terdapat delapan SPBU dan empat Pertashop yang melayani kebutuhan BBM masyarakat di Sumba Barat Daya, dengan ketersediaan BBM yang dinilai cukup.

Menurut Pertamina, antrean di beberapa SPBU, termasuk di wilayah Radamata, Taworara, dan Jalan Waikelo, lebih dipengaruhi oleh tingginya aktivitas pembelian serta adanya masyarakat yang melakukan pembelian berulang dan berpindah-pindah SPBU. Pertamina menyebut ada laporan pembelian secara tidak wajar, termasuk penggunaan senjata tajam untuk mengancam petugas SPBU.

Pertamina menyatakan telah memperkuat pengawasan penyaluran BBM dan melakukan pembinaan kepada pengelola SPBU agar penyaluran BBM bersubsidi sesuai ketentuan, termasuk tidak melayani pembelian berulang yang tidak wajar dan mengatur antrean kendaraan. Perusahaan itu juga menyebut terus berkoordinasi dengan pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya dan aparat penegak hukum untuk mendukung penertiban aktivitas pelangsir yang mengganggu kelancaran penyaluran BBM.

Di sisi lain, warga Tambolaka tetap meminta pemerintah daerah mengambil langkah konkret melalui tim terpadu agar pengawasan di SPBU dan penjualan eceran berjalan konsisten. Mereka berharap antrean BBM dapat ditekan sehingga distribusi BBM bersubsidi berlangsung lebih tertib di Sumba Barat Daya.

Sumber

Berita berikutnya

Penjualan Beras Kupang Emas Tembus 128 Ton

Penjualan beras lokal Kupang Emas yang diproduksi CV SPM dilaporkan mencapai sekitar 128 ton dalam beberapa bulan terakhir, melampaui target awal 60–8…

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.