NTT Hari Ini

Senin, 21 September 2026

31 Calon Kader JMD Dilatih untuk Eliminasi Malaria di Sumba Timur

Program Malaria Perdhaki melatih 31 calon Juru Malaria Desa dari 10 desa di Sumba Timur. Mereka disiapkan untuk deteksi dini, pendampingan pengobatan, dan edukasi warga dalam mendukung eliminasi malaria di Pulau Sumba.

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· Peristiwa: · 3 menit baca

Buka foto ukuran besar. Foto arsip: Napu Valley in East Sumba, Indonesia.
Foto arsip: Napu Valley in East Sumba, Indonesia. · Foto: 06Ivonne / Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0

Waingapu — Sebanyak 31 calon Juru Malaria Desa (JMD) mengikuti pelatihan dan pendampingan untuk memperkuat upaya eliminasi malaria di Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur. Kegiatan yang diselenggarakan Program Malaria Perdhaki itu berlangsung pada 30 Agustus hingga 4 September 2026 di Hotel Mayze Waingapu dan melibatkan 10 pendamping kader dari sejumlah puskesmas.

Menurut laporan Program Malaria Perdhaki, peserta berasal dari 10 desa di wilayah kerja Puskesmas Bila Cenge, Watukawula, Bondo Kodi, Weekarou, Nggoa, Lailunggi, Kawangu, Panenggo Ede, Lahihuruk, dan Kataka. Pelatihan dilaksanakan dalam bentuk sesi kelas dan praktik lapangan.

Pelatihan ini merupakan bagian dari kolaborasi Program Malaria Perdhaki dengan rumah sakit dan puskesmas di Regio Nusa Tenggara Timur, serta pelaksana program di tingkat regional dan subregional di Pulau Sumba. Pemerintah Kabupaten Sumba Timur diwakili Asisten Perekonomian dan Pembangunan, Yulius Ngenju, menghadiri sekaligus membuka kegiatan pelatihan dan pendampingan kader JMD di Hotel Mayze Waingapu.

Program Malaria Perdhaki mencatat data kegiatan sebagai berikut:

  • Peserta: 31 calon kader JMD.
  • Pendamping: 10 orang.
  • Lokasi: Hotel Mayze, Waingapu.
  • Waktu: 30 Agustus–4 September 2026.

Tugas kader di masyarakat

Laporan Program Malaria Perdhaki menyebut materi pelatihan mencakup pengenalan malaria, deteksi dini suspek menggunakan tes diagnostik cepat atau rapid diagnostic test (RDT), penanganan dan pemantauan pengobatan, serta pencegahan dan promosi kesehatan di masyarakat.

Setelah bertugas, JMD diharapkan melakukan pendataan dan pemetaan kepala keluarga di desa sasaran. Mereka juga didorong melakukan kunjungan dari rumah ke rumah untuk pemeriksaan malaria, memantau kepatuhan pasien dalam mengonsumsi obat, dan memantau penggunaan kelambu berinsektisida.

Program Malaria Perdhaki menjelaskan bahwa hasil kegiatan kader akan dilaporkan kepada pendamping, puskesmas, dan pemerintah desa. Pendamping kader bertugas membantu koordinasi, memberikan dukungan teknis bersama puskesmas dan pemerintah daerah, serta melakukan evaluasi dan pembinaan berkala terhadap kader.

Dalam laporan yang sama, Program Malaria Perdhaki menyebut Pemerintah Kabupaten Sumba Timur menyatakan komitmen memperkuat pelayanan kesehatan, pemberdayaan masyarakat, kolaborasi lintas sektor, dan kemitraan dalam program eliminasi malaria di Sumba Timur. Pemerintah daerah berharap pelatihan ini meningkatkan kompetensi kader sehingga upaya eliminasi malaria di Pulau Sumba dapat dipercepat.

Dinas Kesehatan Kabupaten Sumba Timur berperan menyalurkan logistik program malaria ke puskesmas, termasuk alat diagnostik dan obat, serta menerbitkan surat keputusan bagi kader JMD dan pendamping. Pelaksana subregional mendukung operasional kegiatan kader, pelaporan rutin, dan penyampaian data kader kepada Dinas Kesehatan serta Instalasi Farmasi Kabupaten.

Program Malaria Perdhaki menyebut data kasus malaria dan distribusi logistik dipantau melalui e-SISMAL, sistem informasi surveilans malaria berbasis elektronik milik Kementerian Kesehatan. Sistem ini dimanfaatkan untuk memantau tren kasus dan kebutuhan logistik di fasilitas pelayanan kesehatan dan desa lokasi intervensi.

Konteks

Dalam beberapa publikasi, Program Malaria Perdhaki menegaskan bahwa Nusa Tenggara Timur, termasuk Pulau Sumba, masih menghadapi beban malaria dengan tingkat endemisitas sedang hingga tinggi di sejumlah kabupaten. Pemerintah daerah dan mitra pembangunan menempatkan kader desa sebagai ujung tombak untuk menemukan suspek malaria lebih awal, mendorong kepatuhan pengobatan, meningkatkan penggunaan kelambu, dan menggerakkan pencegahan di tingkat keluarga.

Program Malaria Perdhaki juga melaporkan bahwa dalam rangkaian pelatihan dan pendampingan JMD di Sumba Timur, perwakilan pemerintah daerah, puskesmas, rumah sakit, dan tokoh masyarakat menandatangani kesepakatan pembagian peran. Kesepakatan tersebut memuat komitmen kader, pendamping, dan pemerintah daerah dalam pelaksanaan program eliminasi malaria di Pulau Sumba.

Sumber

Berita berikutnya

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.