NTT Hari Ini

Kamis, 22 Oktober 2026

Bagaimana BPS Mengukur Ketersediaan Fasilitas Olahraga di NTT?

Data resmi BPS memetakan desa menurut ketersediaan fasilitas atau lapangan olahraga, tetapi ukuran ini berbeda dari jumlah atlet, klub, maupun prestasi NTT di arena nasional.

Oleh

· 2 menit baca

Buka foto ukuran besar. Ilustrasi: Lapangan basket luar ruangan dengan ring berpagar besi di depan deretan pepohonan hijau.
Ilustrasi: Lapangan basket luar ruangan dengan ring berpagar besi di depan deretan pepohonan hijau. · Foto: Tito Zzzz / Pexels

Desa-desa di Nusa Tenggara Timur memiliki ketersediaan fasilitas atau lapangan olahraga yang berbeda-beda menurut wilayah, sehingga data resmi tentang persebarannya menjadi dasar untuk membaca akses olahraga masyarakat. BPS NTT menyediakan tabel statistik khusus mengenai jumlah desa menurut ketersediaan fasilitas atau lapangan olahraga, tetapi hasil yang tersedia di sini tidak memuat rincian angka per kabupaten.

Apa yang diukur dalam data BPS?

Tabel BPS mengukur banyaknya desa berdasarkan ada atau tidaknya fasilitas atau lapangan olahraga. Satuan pengamatannya adalah desa, bukan jumlah lapangan, jumlah atlet, jumlah klub, atau jumlah cabang olahraga.

Karena itu, angka dalam tabel tidak dapat langsung dibaca sebagai total sarana olahraga di NTT. Satu desa dapat memiliki lebih dari satu fasilitas, sedangkan tabel yang dirujuk mengelompokkan desa berdasarkan ketersediaannya.

Di mana pembaca bisa melihat datanya?

Data tersebut tersedia dalam tabel statistik BPS Provinsi Nusa Tenggara Timur berjudul “Banyaknya Desa Menurut Ketersediaan Fasilitas/Lapangan Olahraga”. Halaman itu tercatat diperbarui pada 25 September 2024, menurut BPS NTT, 2024.

BPS juga menyediakan publikasi “Provinsi Nusa Tenggara Timur Dalam Angka 2025” yang terbit pada 28 Februari 2025. Publikasi ini menjadi rujukan statistik tahunan provinsi, termasuk berbagai data sosial dan wilayah, menurut BPS NTT, 2025.

Apakah data ini sama dengan jumlah atlet NTT?

Tidak. Data ketersediaan fasilitas atau lapangan olahraga menggambarkan infrastruktur pada tingkat desa, sedangkan jumlah atlet merupakan data individu atau kontingen. Keduanya menjawab pertanyaan berbeda dan tidak boleh dipertukarkan.

Data ini juga berbeda dari catatan prestasi pada ajang nasional. KONI Pusat menyebut PON XXI/2024 di Aceh-Sumut mempertandingkan 65 cabang olahraga dan diikuti sekitar 12.905 atlet, menurut KONI, 2025; angka itu merupakan gambaran penyelenggaraan PON nasional, bukan jumlah atlet NTT atau jumlah fasilitas olahraga di NTT.

Mengapa persebaran fasilitas penting bagi olahraga NTT?

Persebaran fasilitas membantu melihat konteks awal pembinaan sepak bola, tinju, atletik, dan cabang lain di tingkat daerah. Namun, data desa saja belum menjelaskan kondisi lapangan, kelayakan fasilitas, frekuensi pemakaian, atau siapa yang mengelolanya.

Untuk membaca pembinaan olahraga secara utuh, data fasilitas perlu ditempatkan berdampingan dengan data atlet, klub, pelatih, anggaran, dan hasil kompetisi. BPS menyediakan ukuran wilayahnya; lembaga olahraga menyediakan catatan prestasi dan pembinaan.

Sumber

Baca berikutnya

  1. Lanjutan topik ini

  2. Terbaru di Olahraga

  3. Berita utama hari ini

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.