NTT Hari Ini

Senin, 21 September 2026

Bawang Goreng Sumlili Dongkrak Nilai Bawang Merah Desa

Produk Bawang Merah Goreng Sumlili diluncurkan di Desa Sumlili, Kabupaten Kupang, sebagai bagian dari program OVOP dan hilirisasi pertanian NTT.

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· Peristiwa: · 4 menit baca

Kupang — Produk Bawang Merah Goreng Sumlili diluncurkan di halaman Kantor Desa Sumlili, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang, Kamis, 3 September 2026. Peluncuran dilakukan dalam kerangka program One Village One Product (OVOP) yang mendorong pengolahan bawang merah lokal menjadi produk olahan bernilai tambah.

Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Nusa Tenggara Timur menyebut peluncuran Bawang Merah Goreng Sumlili sebagai bagian dari hilirisasi pertanian berbasis potensi desa. Menurut keterangan resmi dinas tersebut, kegiatan launching dilaksanakan pada Kamis, 3 September 2026, dengan menonjolkan pola pengolahan komoditas agar tidak berhenti sebagai bahan mentah.

Dalam kegiatan itu, bawang merah Sumlili diposisikan sebagai contoh komoditas yang diolah di tingkat desa. Produk bawang goreng dikemas sebagai identitas desa dan diharapkan menjadi pintu masuk penguatan ekonomi lokal melalui pengolahan pangan, pengemasan, dan pemasaran.

Nilai tambah dari pengolahan bawang merah

Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT menjelaskan bahwa 3 kilogram bawang merah segar bernilai sekitar Rp60 ribu dapat diolah menjadi bawang goreng dengan nilai produk sekitar Rp300 ribu. Perbandingan tersebut digunakan sebagai ilustrasi potensi peningkatan nilai melalui pengolahan dan kemasan.

Dalam pemberitaan media lokal, Gubernur Nusa Tenggara Timur Emanuel Melkiades Laka Lena juga mencontohkan skema nilai tambah bawang merah Sumlili. Ia menjelaskan bahwa bawang merah yang dijual sekitar Rp20 ribu per kilogram dapat diolah menjadi bawang goreng, dengan taksiran tiga kilogram bawang merah menghasilkan sekitar satu kilogram bawang goreng yang kemudian dikemas dan dipasarkan dengan harga sekitar Rp30 ribu per 100 gram.

Perhitungan itu menunjukkan bahwa setelah melalui proses penggorengan dan pengemasan, nilai jual per satuan produk meningkat beberapa kali lipat dibandingkan penjualan bawang merah segar. Namun, keterangan resmi pemerintah menegaskan bahwa angka Rp300 ribu masih berupa nilai produk, belum memperhitungkan biaya minyak goreng, tenaga kerja, kemasan, distribusi, maupun biaya lain sehingga tidak langsung mencerminkan keuntungan bersih.

Dari TAPAJU ke TAPAOKEJU

Pemerintah daerah menggunakan peluncuran Bawang Merah Goreng Sumlili untuk memperkenalkan pergeseran pola pengelolaan komoditas di desa. Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT menggambarkan pergeseran dari pola TAPAJU (tanam, panen, jual) menuju TAPAOKEJU (tanam, panen, olah, kemas, jual).

Pola baru itu menempatkan pengolahan dan pengemasan sebagai tahapan penting sebelum komoditas dijual. Bawang merah yang sebelumnya langsung dipasarkan sebagai hasil panen kini terlebih dahulu diolah menjadi bawang goreng, diberi merek, dan dikemas agar memiliki ciri khas desa.

Gubernur Melkiades Laka Lena, dalam keterangannya, menilai skema TAPAOKEJU lebih efektif untuk mendorong peningkatan nilai ekonomi produk. Hilirisasi di tingkat desa diharapkan memperluas ruang usaha bagi masyarakat, tidak hanya bagi petani bawang merah tetapi juga bagi pelaku usaha pengolahan dan pemasaran.

Peran desa dan tantangan hilirisasi

Peluncuran Bawang Merah Goreng Sumlili memperlihatkan kolaborasi pemerintah daerah dan masyarakat dalam mengembangkan produk pangan berbasis potensi lokal. Pemerintah provinsi mendorong inovasi pengolahan, perbaikan mutu, serta pengemasan agar produk desa memiliki daya saing.

Di Desa Sumlili, bawang merah telah lama menjadi komoditas utama. Kajian akademik tentang usahatani bawang merah di desa tersebut menunjukkan bahwa bawang merah memiliki peluang pengembangan melalui teknologi pengolahan, dengan bawang goreng disebut sebagai salah satu prioritas pengolahan untuk meningkatkan nilai tambah.

Hilirisasi di tingkat desa membuka rangkaian kegiatan ekonomi tambahan, mulai dari penyiapan bahan baku, proses penggorengan, pengemasan, hingga pemasaran. Pemerintah daerah berharap rantai kegiatan ini dapat memperpanjang rantai ekonomi di desa dan memperkuat sistem pangan daerah.

Meski demikian, informasi resmi yang tersedia belum merinci kapasitas produksi harian atau bulanan Bawang Merah Goreng Sumlili, jumlah pelaku usaha yang terlibat, maupun saluran penjualan dan pasar sasaran. Data tentang biaya produksi dan pembagian pendapatan antara petani dan pelaku pengolahan juga belum dipublikasikan.

Tanpa data tersebut, dampak hilirisasi terhadap pendapatan petani bawang merah Sumlili belum dapat dihitung secara rinci. Pemerintah daerah menempatkan peluncuran Bawang Merah Goreng Sumlili sebagai contoh awal pergeseran dari penjualan komoditas segar menuju pengembangan produk olahan desa, yang masih memerlukan penguatan kelembagaan, akses pasar, dan dukungan teknologi untuk berkelanjutan.

Sumber

Berita berikutnya

Penjualan Beras Kupang Emas Tembus 128 Ton

Penjualan beras lokal Kupang Emas yang diproduksi CV SPM dilaporkan mencapai sekitar 128 ton dalam beberapa bulan terakhir, melampaui target awal 60–8…

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.