Belalang Kembara Kuasai 10 Hektare Padang Tandening Sumba Timur
Sekitar 10 hektare Padang Tandening di Desa Kaliuda, Sumba Timur, dilaporkan dipenuhi belalang kembara pada akhir Juni 2019.
Oleh Pandi Muktar
Editor: Mursyid Sonsang
· Peristiwa: · 3 menit baca
Kupang — Kawanan belalang kembara kembali terpantau di Padang Tandening, Desa Kaliuda, Kecamatan Pahunga Lodu, Kabupaten Sumba Timur, pada pekan keempat Juni 2019.
Menurut laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumba Timur yang dikutip sejumlah media lokal, sekitar 10 hektare padang di sekitar SMA Negeri 1 Pahunga Lodu dipenuhi belalang.
Media daring sergap.id menulis, gerombolan belalang itu sudah terlihat sejak 23 Juni 2019 dan pada Rabu, 25 Juni 2019 masih menduduki kawasan Padang Tandening.
Dalam laporan yang sama disebutkan terdapat dua kelompok belalang, yakni yang sudah bersayap dan siap terbang serta yang belum memiliki sayap.
Sejauh pemantauan saat itu, belalang belum menyerang tanaman milik warga di sekitar lokasi.
Belalang kuasai padang penggembalaan
Sergap.id menggambarkan belalang kembara sebagai hama yang sebelumnya telah menyerang Sumba Timur pada 2016–2017 dan kembali muncul pada 2019.
Pada akhir Juni 2019, kawanan belalang disebut “menguasai” sekitar 10 hektare padang Tandening yang berada di sekitar SMA Negeri 1 Pahunga Lodu.
ESQ News dalam ulasan tentang sejarah serangan belalang mencatat kasus di Sumba Timur, dengan menyebut belalang kembara berhasil menguasai 10 hektare padang Tandening.
Kedua laporan itu menempatkan lokasi serangan di Padang Tandening, Desa Kaliuda, Sumba Timur, dengan karakteristik serangan berupa dominasi kawanan belalang di padang penggembalaan, bukan di lahan tanaman pangan warga.
Respons pemerintah daerah
Dalam pemberitaan sergap.id, BPBD Sumba Timur disebut telah mengidentifikasi keberadaan belalang di Padang Tandening untuk kemudian dilakukan langkah pencegahan agar hama tidak menyerang tanaman warga.
Laporan itu menyebut BPBD akan berkoordinasi dengan dinas pertanian dan tanaman pangan, namun tidak merinci bentuk teknis pengendalian, jumlah petugas, maupun jenis bahan yang digunakan.
Pada level provinsi, serangan belalang kembara di Pulau Sumba menjadi perhatian berulang.
Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan Kementerian Pertanian menyatakan, upaya pengendalian belalang kembara di Pulau Sumba dilakukan bersama pemerintah daerah sejak hama ini kembali muncul pada 2019.
Kementerian Pertanian dan FAO mencatat kegiatan survei lapangan dan pengendalian belalang kembara di Sumba Timur dan Sumba Tengah, termasuk penggunaan agen pengendali hayati serta pengendalian mekanik dengan keterlibatan masyarakat.
Konteks serangan berulang
Serangan belalang kembara di Sumba Timur bukan peristiwa tunggal.
BBC News Indonesia melaporkan serangan belalang di Sumba Timur pada Juni 2017 yang menyerang padang penggembalaan dan sempat memenuhi landasan Bandara Umbu Mehang Kunda.
Liputan6.com juga mencatat serangan belalang kembara di Sumba Timur pada 2017 yang merusak hektaran lahan padi dan jagung di sekitar Kelurahan Kambaniru dan Mau Hau.
Artikel analitis di Forest Digest menyebut, angin timur memperluas wilayah serangan belalang kembara di Sumba hingga ke Sumba Tengah, Sumba Barat, dan Sumba Barat Daya dalam beberapa tahun terakhir.
Media kumparan menulis bahwa belalang kembara merupakan hama yang kembali menghantui beberapa wilayah di Pulau Sumba, dengan serangan yang merusak tanaman padi dan jagung di Sumba Timur pada 2022.
Sejumlah laporan tersebut menempatkan belalang kembara sebagai hama endemik Pulau Sumba yang muncul berulang, dengan pola serangan yang berpindah dari padang penggembalaan ke lahan pertanian pada berbagai periode.
Sumber
Berita berikutnya

Satuan Pelayanan Karantina Ikan di Pelabuhan Waingapu Dukung SKPT
Badan Karantina Indonesia menempatkan satuan pelayanan karantina ikan di Pelabuhan Laut Waingapu, Sumba Timur, sebagai bagian dari pengawasan lalu lin…
Baca juga




