NTT Hari Ini

Senin, 21 September 2026

BPS: Populasi Sapi Potong Sumba Timur 40.248 Ekor pada 2023

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan populasi sapi potong di Sumba Timur mencapai 40.248 ekor pada 2023.

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· Peristiwa: · 4 menit baca

Buka foto ukuran besar. Foto arsip: Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono beserta rombongan tiba di Kabupaten Sumba Timur.
Foto arsip: Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono beserta rombongan tiba di Kabupaten Sumba Timur. · Foto: Humas Kabupaten Sumba Timur / Wikimedia Commons, Public domain

Waingapu — Populasi sapi potong di Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, tercatat 40.248 ekor pada 2023 menurut Badan Pusat Statistik (BPS) Sumba Timur. Angka itu dikutip dalam studi sistem produksi ternak sapi yang disusun peneliti Universitas Kristen Wira Wacana Sumba.

Dalam publikasi Statistik Daerah Kabupaten Sumba Timur 2025, BPS menyajikan tabel populasi ternak 2023–2024. Untuk sapi potong, jumlahnya 40.248 ekor pada 2023 dan 41.202 ekor pada 2024. Data ini menjadi rujukan utama studi Amelia Florida Kiha dan Iven Patu Sirappa tentang sistem produksi sapi di Sumba Timur, yang menyebut populasi sapi pada 2023 mencapai sekitar 40 ribu ekor dengan merujuk BPS Sumba Timur 2025.

Penelitian tersebut menempatkan usaha sapi sebagai bagian penting mata pencaharian masyarakat Sumba Timur. Menurut penulis, sapi bukan hanya aset ekonomi, tetapi juga memiliki fungsi sosial dan budaya, antara lain sebagai hewan kurban dalam upacara adat dan bagian dari mas kawin.

Sistem produksi berinput rendah

Studi Kiha dan Sirappa menggambarkan sistem produksi sapi di Sumba Timur masih didominasi usaha dengan input rendah. Temuan itu diperoleh dari wawancara mendalam dengan 30 peternak yang mewakili tiga pola usaha sapi di kabupaten tersebut.

Tiga pola yang dikaji ialah penggemukan, peternakan kecil, dan peternakan besar. Peternak penggemukan umumnya memelihara sapi jantan untuk dibesarkan sebelum dijual. Peternakan kecil dan besar menggabungkan pembiakan dan penggemukan dalam satu usaha.

Perbedaan utama antara peternakan kecil dan besar terletak pada skala kepemilikan. Peternakan besar digambarkan memiliki lebih dari 15 ekor sapi dalam satu kelompok ternak. Menurut peneliti, perubahan dari peternakan kecil ke besar lebih mencerminkan penambahan jumlah ternak daripada perubahan mendasar dalam cara produksi.

Penggembalaan di padang rumput menjadi praktik umum pemeliharaan sapi Sumba Ongole di Sumba Timur. Studi lain mengenai padang penggembalaan alam di Sumba Timur menyebut luas padang penggembalaan secara umum mencapai lebih dari 200 ribu hektare, dengan populasi sapi puluhan ribu ekor dan sapi Sumba Ongole sebagai salah satu ternak utama di wilayah tersebut.

Pakan dan kapasitas tampung

Kondisi geografis Sumba Timur berupa sabana, perbukitan, dan sebagian wilayah dengan batuan kapur dan tanah dangkal mempengaruhi pengelolaan pakan. Studi tentang produksi dan kapasitas tampung padang penggembalaan di Kabupaten Sumba Timur menemukan produksi hijauan pakan di padang penggembalaan alam dapat mencapai sekitar 5 ton bahan segar per hektare dan sekitar 1,5 ton bahan kering per hektare per tahun.

Penelitian itu juga menunjukkan kapasitas tampung padang penggembalaan dan limbah pertanian di Sumba Timur masih mampu menampung ternak dalam jumlah lebih besar dibanding struktur populasi saat ini. Dalam kajian tentang pemanfaatan limbah pertanian, peneliti menghitung struktur populasi ternak setara 38.006 satuan ternak (ST), sementara potensi limbah tanaman pangan di Sumba Timur dinilai mampu menampung hingga lebih dari 90 ribu ST.

Temuan tersebut menunjukkan ruang pengembangan usaha sapi di Sumba Timur masih terbuka, dengan catatan pengelolaan pakan dan pemanfaatan limbah pertanian ditingkatkan agar tidak hanya mengandalkan penggembalaan di padang rumput alam.

Peran sosial dan arah pengembangan

Beberapa kajian peternakan di Sumba Timur menegaskan sapi Sumba Ongole telah beradaptasi dengan iklim kering dan keterbatasan sumber daya di Pulau Sumba. Sapi menjadi aset yang berfungsi sebagai tabungan rumah tangga, sumber pendapatan tunai, dan penanda status sosial.

Rencana induk percepatan pembangunan Pulau Sumba 2023–2042 menempatkan sektor peternakan, termasuk sapi potong, sebagai salah satu komponen produktivitas wilayah. Dokumen itu menyoroti populasi ternak besar yang cukup tinggi di Sumba Timur dan membuka peluang penguatan rantai nilai dari produksi, pengolahan, hingga pemasaran antar-pulau.

Dengan populasi sapi potong tercatat lebih dari 40 ribu ekor dan dukungan sumber pakan yang masih dapat dikembangkan, sejumlah studi merekomendasikan peningkatan kualitas manajemen usaha, pengembangan padang penggembalaan, dan pemanfaatan limbah pertanian sebagai langkah penting untuk menaikkan produktivitas dan nilai tambah peternakan sapi di Sumba Timur.

Sumber

Berita berikutnya

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.