NTT Hari Ini

Senin, 21 September 2026

Bulog Sumba Timur Menyerap 1.660 Ton Beras dari Petani

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Sumba Timur menyebut stok beras Bulog sekitar 1.660 ton yang terserap dari petani masih aman dan berpeluang bertambah hingga akhir 2026.

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· Peristiwa: · 4 menit baca

Waingapu — Stok beras di Kabupaten Sumba Timur dinyatakan masih aman setelah Perum Bulog menyerap sekitar 1.660 ton beras dari petani setempat. Pernyataan itu disampaikan Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Sumba Timur, Nico Pandarangga, dalam siaran RRI Kupang pada Senin, 24 Agustus 2026.

Menurut Nico, stok beras yang tersimpan di Bulog berasal dari hasil pembelian gabah dan beras petani Sumba Timur. Ia menyebut jumlah tersebut dinilai cukup untuk mendukung kebutuhan beras masyarakat sekaligus menunjukkan kontribusi produksi lokal terhadap ketersediaan pangan daerah.

Nico menambahkan, ketersediaan beras itu masih berpeluang meningkat seiring berlanjutnya musim panen tahun ini. Dengan curah hujan yang dinilai cukup baik dan perkembangan tanaman pangan di sejumlah wilayah, pemerintah daerah optimistis produksi padi Sumba Timur dapat terus naik dan membuka peluang surplus beras hingga akhir 2026.

Stok Bulog dan proyeksi produksi

Dalam keterangan yang disiarkan RRI Kupang, Nico menjelaskan informasi stok beras didasarkan pada data Perum Bulog mengenai penyerapan hasil panen petani Sumba Timur. Bulog memperkirakan stok yang telah tersimpan mencapai sekitar 1.660 ton.

Pemerintah daerah menilai kerja sama dengan Bulog penting untuk menyerap hasil panen dan menjaga harga gabah tetap stabil. Dalam wawancara terpisah pada April 2026, Nico menyebut pengelolaan potensi surplus beras tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan dalam daerah, tetapi juga untuk memasok wilayah lain di Nusa Tenggara Timur yang masih kekurangan produksi.

Sebelumnya, Nico juga menyampaikan bahwa produksi padi Sumba Timur pada 2025 mencapai lebih dari 50 ribu ton dan menargetkan produksi 2026 tembus di atas 70 ribu ton. Target itu dijadikan dasar optimisme bahwa daerah tersebut dapat mempertahankan surplus beras bila kondisi cuaca dan produksi tetap mendukung.

Ancaman El Nino dan langkah antisipasi

Nico mengingatkan bahwa optimisme surplus beras tetap menghadapi risiko cuaca akibat fenomena El Nino yang oleh pemerintah pusat dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) disebut sebagai El Nino ekstrem atau "Godzilla El Nino". Pemerintah pusat menyatakan stok beras nasional yang dikelola Bulog masih aman di atas 4 juta ton untuk menghadapi musim kemarau dan dampak El Nino.

Menurut Nico, kenaikan suhu dan penurunan ketersediaan air berpotensi memengaruhi lahan pertanian di Sumba Timur, terutama petani yang mengandalkan hujan. Untuk mengurangi risiko itu, pemerintah daerah menyalurkan bantuan pompa air dan alat serta mesin pertanian ke lahan yang masih memiliki sumber air agar kegiatan tanam tetap berjalan selama kemarau.

Pemerintah daerah menyebut dukungan sarana produksi, kondisi curah hujan yang cukup baik, dan stok beras Bulog yang terserap dari petani menjadi dasar keyakinan bahwa ketahanan pangan Sumba Timur dapat terjaga. Namun, realisasi surplus beras hingga akhir tahun tetap bergantung pada hasil panen berikutnya dan pengelolaan distribusi beras di tingkat lokal dan antardaerah.

Kebutuhan data untuk menilai ketahanan pangan

Pernyataan stok beras aman dan peluang surplus memberikan gambaran awal situasi pangan Sumba Timur, tetapi belum sepenuhnya menjelaskan ketahanan pangan daerah. Informasi yang tersedia sejauh ini lebih menonjolkan volume stok di gudang Bulog dan proyeksi produksi, tanpa merinci kebutuhan konsumsi beras masyarakat, lama kecukupan stok, maupun persebaran pasokan hingga ke rumah tangga.

Untuk menilai keamanan stok beras secara utuh, pemerintah daerah dan Bulog perlu menyajikan data yang dapat dibandingkan secara berkala. Data itu antara lain mencakup stok awal, penyerapan baru, penyaluran ke pasar dan program bantuan, produksi panen, serta arus beras masuk dan keluar Sumba Timur.

Selain ketersediaan fisik, informasi harga di tingkat petani, pedagang, dan konsumen penting untuk melihat apakah stok yang dinilai aman benar-benar terjangkau. Perbandingan harga antarwilayah di dalam kabupaten dan dengan daerah lain di NTT dapat menunjukkan apakah distribusi beras merata atau terkonsentrasi di lokasi tertentu.

Tanpa data kebutuhan konsumsi dan neraca pangan yang terukur, klaim surplus beras hingga akhir 2026 masih berupa proyeksi pemerintah daerah. Evaluasi atas hasil panen berikutnya, perkembangan harga, dan distribusi beras akan menentukan sejauh mana optimisme itu terwujud dalam ketahanan pangan yang dirasakan masyarakat.

Sumber

Berita berikutnya

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.