Forum FKLL Bahas Titik Rawan dan Kecelakaan di Sumba Barat Daya
Forum lintas sektor di Sumba Barat Daya membahas penanganan kecelakaan lalu lintas dan titik rawan di ruas jalan kabupaten. Pertemuan pada 20 Agustus 2026 menyoroti kondisi jalan, fasilitas keselamatan, dan kelayakan kendaraan angkutan.
Oleh Pandi Muktar
Editor: Mursyid Sonsang
· Peristiwa: · 4 menit baca
Tambolaka — Satuan Lalu Lintas Polres Sumba Barat Daya bersama sejumlah instansi menggelar Forum Komunikasi Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (FKLL) untuk membahas penanganan kecelakaan dan titik rawan di wilayah setempat pada Kamis, 20 Agustus 2026.
Menurut pemberitaan Humas Polres Sumba Barat Daya, forum berlangsung di Aula Rumah Makan Kedai Kuali Weetabula dan membahas data kecelakaan lalu lintas yang tercatat sepanjang Januari hingga Juli 2026 serta berbagai faktor risiko di jalan raya.
Dalam forum itu, Kanit Gakkum Satlantas Polres Sumba Barat Daya Aipda Yusack Yohanes Ishak memaparkan data kecelakaan lalu lintas yang ditangani Satlantas selama tujuh bulan pertama 2026.
Masih dalam laporan kepolisian, kegiatan dibuka Kasat Lantas Polres Sumba Barat Daya dan diikuti unsur lintas sektor yang berkaitan dengan keamanan, keselamatan, ketertiban, dan kelancaran lalu lintas.
Data kecelakaan yang dibahas FKLL
Berdasarkan paparan Satlantas yang dikutip dalam pemberitaan Humas Polres Sumba Barat Daya, forum membahas puluhan kasus kecelakaan di wilayah hukum Polres Sumba Barat Daya sepanjang Januari hingga Juli 2026.
Data tersebut mencakup jumlah kejadian, korban meninggal, korban luka berat dan luka ringan, serta taksiran kerugian material. Angka rinci mengenai korban dan kerugian disampaikan dalam forum sebagai dasar diskusi penanganan dan pencegahan kecelakaan.
Secara terpisah, dokumen perencanaan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur memuat data kecelakaan lalu lintas tahun 2024 per polres, termasuk Polres Sumba Barat Daya. Untuk tahun 2024, tercatat puluhan kejadian kecelakaan dengan puluhan korban meninggal, luka berat, dan luka ringan di wilayah ini.
Data tersebut digunakan pemerintah provinsi sebagai rujukan penyusunan kebijakan keselamatan jalan, sekaligus menunjukkan bahwa beban kecelakaan di Sumba Barat Daya telah menjadi perhatian sejak beberapa tahun terakhir.
Titik rawan dan fasilitas jalan yang disorot
Menurut laporan Humas Polres Sumba Barat Daya, peserta forum mengaitkan kecelakaan dengan tiga kelompok faktor: perilaku manusia, kondisi kendaraan, dan keadaan jalan.
Pembahasan diarahkan pada sejumlah persoalan yang dinilai dapat meningkatkan risiko kecelakaan, antara lain kondisi jalan kabupaten yang berlubang di beberapa wilayah, termasuk ruas di sekitar Kodi Utara dan sejumlah jalan di Kota Tambolaka.
Forum juga menyoroti bangunan, pertokoan, dan permukiman yang berada dekat dengan badan jalan di sejumlah persimpangan, karena dinilai dapat membatasi jarak pandang pengendara.
Masih menurut laporan tersebut, lampu lalu lintas di persimpangan SPBU Radamata dilaporkan tidak berfungsi. Di sisi lain, terdapat ruas jalan yang belum memiliki penerangan memadai, sehingga keselamatan pengguna jalan berpotensi terpengaruh, khususnya pada malam hari.
Fasilitas bagi pejalan kaki dan sistem drainase ikut menjadi perhatian. Sejumlah ruas jalan dalam kota disebut belum memiliki trotoar, sementara saluran air yang terbatas dapat memicu genangan di badan jalan pada musim hujan.
Koordinasi lintas sektor dan kelayakan angkutan
Selain membahas kondisi infrastruktur, forum juga menyinggung keterbatasan alat uji KIR untuk kendaraan angkutan barang dan penumpang. Keterbatasan ini dikaitkan dengan pemeriksaan kelayakan kendaraan serta upaya mencegah kendaraan yang melebihi dimensi dan muatan.
Peserta forum berasal dari unsur kepolisian, Dinas Perhubungan, Dinas PUPR bidang jalan, Dinas Kesehatan, rumah sakit, dan PT Jasa Raharja. Menurut Humas Polres Sumba Barat Daya, keterlibatan berbagai instansi itu diarahkan untuk memperkuat koordinasi penanganan kecelakaan, termasuk percepatan pertolongan korban.
Laporan kepolisian tersebut menyebut forum menyepakati perlunya komunikasi dan koordinasi berkelanjutan antarinstansi. Kesepakatan itu menjadi dasar untuk tindak lanjut perbaikan keselamatan jalan, meski rincian penanggung jawab, jadwal pelaksanaan, anggaran, dan target teknis belum diuraikan dalam laporan yang sama.
Konteks keselamatan jalan di NTT
Dokumen perencanaan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur mencatat bahwa secara provinsi, pada tahun 2024 terdapat lebih dari seribu kecelakaan lalu lintas dengan ratusan korban meninggal di berbagai wilayah NTT, termasuk Sumba Barat Daya.
Data tersebut menunjukkan bahwa keselamatan jalan merupakan isu penting di NTT. Forum seperti FKLL yang digelar Satlantas Polres Sumba Barat Daya menjadi salah satu mekanisme untuk mengidentifikasi faktor risiko lokal dan merumuskan langkah pencegahan kecelakaan di tingkat kabupaten.
Sumber
Berita berikutnya

Investasi Hospitality Premium di Sumba Barat Daya Mulai Diuji
Pemerintah daerah, investor, dan operator penerbangan mulai membuka akses baru bagi pariwisata Sumba Barat Daya.
Baca juga




