Edistasius Endi Ajak Warga Jaga Budaya Manggarai Barat
Dalam perayaan HUT ke-21 Manggarai Barat di Labuan Bajo, Bupati Edistasius Endi mengajak masyarakat menjaga budaya, norma, dan nilai kemanggaraian di tengah peningkatan kunjungan wisatawan dan penguatan Indeks Pariwisata Inklusif.
Oleh Asyinta Sastra
Editor: Mursyid Sonsang
· Peristiwa: · 4 menit baca
Labuan Bajo — Bupati Manggarai Barat Edistasius Endi mengajak masyarakat menjaga budaya lokal, norma, dan nilai kemanggaraian di tengah pesatnya perkembangan pariwisata Labuan Bajo. Seruan itu disampaikan dalam pidato perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-21 Kabupaten Manggarai Barat di halaman Kantor Bupati pada Senin, 26 Februari 2024.
Dalam pidato tersebut, Endi menekankan bahwa budaya dan nilai-nilai yang menyertainya merupakan aset yang melekat pada pemiliknya. Menurut laporan laman resmi Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat, ia menyebut masyarakat sebagai pewaris budaya memiliki tanggung jawab memastikan kebudayaan Manggarai Barat tetap hidup dan kokoh meski berhadapan dengan berbagai arus budaya baru.
Penjelasan serupa dimuat dalam artikel kebudayaan di situs perkim.id. Menurut laporan itu, Endi mengajak seluruh pihak melestarikan budaya lokal di tengah perkembangan pariwisata Labuan Bajo yang pesat. Ia menegaskan perlunya menjaga kebudayaan Manggarai Barat sebagai bagian dari jati diri masyarakat.
Pariwisata dan identitas Manggarai Barat
Manggarai Barat, dengan ibu kota Labuan Bajo, ditetapkan sebagai salah satu destinasi pariwisata super prioritas nasional. Dalam pidato HUT ke-21, Endi menyebut Labuan Bajo menjadi lokasi berbagai kegiatan regional, nasional, dan internasional. Pemerintah pusat mendukung pembangunan sarana dan prasarana untuk memperkuat posisi daerah itu sebagai destinasi pariwisata unggulan.
Endi menyatakan, pertumbuhan pariwisata perlu berjalan seiring dengan upaya menjaga Manggarai Barat sebagai tempat yang aman dan nyaman bagi masyarakat maupun pengunjung. Menurut pemerintah daerah, peningkatan kunjungan wisatawan pasca pandemi Covid-19 menjadi salah satu capaian yang disyukuri dalam perayaan HUT tersebut.
Laporan kinerja pemerintah daerah yang dipublikasikan di laman resmi kabupaten mencatat peningkatan signifikan kunjungan wisatawan ke Manggarai Barat. Jumlah kunjungan tercatat 170.354 wisatawan pada 2022 dan meningkat menjadi 351.359 wisatawan pada 2023. Data itu bersumber dari Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif dan Kebudayaan Manggarai Barat.
Angka kunjungan tersebut sejalan dengan data yang dihimpun dalam sebuah kajian akademik mengenai pemasaran destinasi wisata di Manggarai Barat. Kajian itu merangkum data kunjungan wisatawan ke kabupaten tersebut dari 2019 hingga 2023, dan mencatat total 170.354 wisatawan pada 2022 serta 351.459 wisatawan pada 2023.
Indeks pariwisata inklusif
Salah satu capaian yang disampaikan Endi dalam pidato HUT ke-21 adalah pengukuran Indeks Pariwisata Inklusif di Manggarai Barat. Menurut Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat, daerah itu menjadi yang pertama di dunia yang mengukur indeks tersebut.
Dalam pidato yang dikutip laman resmi kabupaten, disebutkan bahwa nilai Indeks Pariwisata Inklusif Manggarai Barat mencapai 58,2 pada 2022 dan meningkat menjadi 61,6 pada 2023. Pemerintah daerah menyatakan hasil pengukuran indeks akan menjadi rujukan dalam pengambilan kebijakan yang berorientasi pada kebutuhan masyarakat, khususnya kelompok yang termarjinalkan.
Kelompok yang digarisbawahi dalam kajian indeks itu meliputi masyarakat miskin, penyandang disabilitas, dan perempuan. Laporan perkim.id menjelaskan bahwa pembangunan pariwisata di Manggarai Barat tidak hanya diarahkan pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga mempertimbangkan prinsip keberlanjutan lingkungan serta keberterimaan sosial dan budaya.
Endi menempatkan pelestarian budaya sebagai bagian dari agenda pembangunan pariwisata yang inklusif. Dalam perspektif ini, pariwisata tidak hanya diukur dari peningkatan jumlah kunjungan, tetapi juga dari dampaknya terhadap masyarakat dan kelompok yang membutuhkan perhatian, termasuk akses mereka sebagai produsen dan konsumen pariwisata.
Budaya lokal dan tantangan ke depan
Artikel kebudayaan di perkim.id menyoroti konteks pelestarian budaya di Manggarai Barat. Laporan itu menyebut salah satu unsur budaya yang mulai luntur, yakni penggunaan loce, tikar dari pandan (re’a) yang menjadi simbol penting dalam acara pernikahan dan upacara adat Manggarai. Dalam tradisi setempat, tikar anyaman digunakan sebagai alas duduk dalam berbagai ritus, menggambarkan kedekatan dengan kearifan lokal.
Dalam situasi di mana Manggarai Barat semakin terbuka terhadap beragam perspektif dan budaya baru, Endi mengingatkan agar keterbukaan tersebut tidak mencabut akar budaya dan jati diri masyarakat. Pemerintah daerah menekankan pentingnya menjaga norma dan nilai kemanggaraian di tengah arus pariwisata yang terus meningkat.
Pidato HUT ke-21 dan paparan mengenai Indeks Pariwisata Inklusif menunjukkan bahwa pelestarian budaya mulai diposisikan sebagai bagian dari kebijakan pariwisata yang lebih luas. Tantangannya adalah menerjemahkan ajakan pelestarian budaya ke dalam program konkret yang melibatkan komunitas budaya, pelaku pariwisata, lembaga pendidikan, dan generasi muda di Manggarai Barat.
Sumber
- Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat – "HUT Mabar Ke-21, Sejumlah Capaian Disyukuri"
- Perkim.id – "Menjaga Kearifan Lokal: Pentingnya Pelestarian Budaya di Labuan Bajo"
- Jurnal Undhirabali – artikel tentang strategi pemasaran destinasi wisata di Kecamatan Boleng (tabel jumlah wisatawan ke Kabupaten Manggarai Barat 2019–2023)
Berita berikutnya

Sikka Pulih, Nelayan Kembali Melaut Setelah Gempa 15 Agustus 2026
Aktivitas perikanan Sikka mulai pulih setelah gempa 15 Agustus 2026. Nelayan kembali melaut, dan tuna serta cakalang kembali dipasok ke perusahaan pen…
Baca juga



