Festival Bakunase II Libatkan Lima Etnis di Kupang
Festival Seni dan Budaya Kelurahan Bakunase II digelar pada 2–4 September 2026 di halaman SD Negeri Oetona, Kota Kupang.
Oleh Asyinta Sastra
Editor: Mursyid Sonsang
· Peristiwa: · 3 menit baca
Kupang — Festival Seni dan Budaya Kelurahan Bakunase II digelar selama tiga hari pada 2–4 September 2026 di halaman SD Negeri Oetona, Kelurahan Bakunase II, Kecamatan Kota Raja, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur. Kegiatan ini menampilkan seni tradisional, musik daerah, cerita rakyat, kerajinan tangan, kain sarung dan selimut, aneka kuliner warga, serta hasil bumi yang diikuti warga dari anak-anak hingga lansia.
Menurut laporan Berita-Cendana.com, festival dibuka pada Rabu, 2 September 2026, dengan tema “Seni dan Budaya Menjadi Berkat Kehidupan, Berkeluarga, Bermasyarakat, Berbangsa, dan Bernegara.” Panitia menyebut kegiatan ini menjadi ruang bagi masyarakat untuk menyalurkan bakat sekaligus menjaga warisan seni dan budaya lokal.
Penyelenggara menempatkan kebersihan dan kelestarian lingkungan sebagai bagian dari rangkaian festival. Kantong dan tempat pengumpulan sampah disediakan di sejumlah titik agar pengunjung membuang sampah pada tempatnya.
Data utama kegiatan:
- Waktu: 2–4 September 2026.
- Lokasi: halaman SD Negeri Oetona, Kelurahan Bakunase II, Kecamatan Kota Raja, Kota Kupang.
- Peserta: warga kelurahan, dari anak-anak hingga lansia.
- Materi: seni tradisional, musik daerah, cerita rakyat, kerajinan, kuliner, dan hasil bumi.
Ruang tampil bagi warga dan generasi muda
Ketua Panitia Festival Budaya Kelurahan Bakunase II, Oktovianus Hen Sem Tabelak, menjelaskan bahwa pelestarian seni dan budaya dari berbagai etnis perlu diperkuat dan diwariskan kepada generasi muda. Ia mengatakan festival dirancang sebagai ruang pertemuan warga melalui kegiatan seni, perlombaan, serta pameran produk lokal.
Agenda lomba meliputi tarian tingkat taman kanak-kanak dan sekolah dasar, serta tarian pemuda-pemudi. Penilaian dilakukan oleh dewan juri dan penghargaan diberikan dalam bentuk piagam, hadiah, dan sertifikat kepada para pemenang.
Berita-Cendana.com melaporkan, kegiatan itu menyajikan aneka kuliner warga, kerajinan, kain sarung, selimut, dan hasil bumi. Sajian tersebut diharapkan ikut mendorong perputaran ekonomi masyarakat di Kelurahan Bakunase II.
Festival Budaya Kelurahan Bakunase II merupakan bagian dari program pemerintah Kota Kupang untuk pengembangan dan pelestarian budaya melalui festival tingkat kelurahan. Dalam sejumlah kegiatan serupa di kelurahan lain, pemerintah kota menekankan tujuan merawat warisan leluhur, memperkuat persatuan dalam keberagaman, dan menggerakkan ekonomi kerakyatan.
Lima etnis di Kelurahan Bakunase II
Staf Ahli Wali Kota Bidang Ekonomi dan Pembangunan, Daud Nafi, membuka Festival Budaya Kelurahan Bakunase II dan menyampaikan apresiasi terhadap pelaksanaan festival tersebut. Dalam laporan Top News NTT, Daud menyebut festival budaya di tingkat kelurahan bukan sekadar perayaan budaya, tetapi ekspresi persatuan dalam keberagaman.
Menurut Daud, Kelurahan Bakunase II memiliki lima etnis yang hidup berdampingan. Keberagaman ini dipandang sebagai kekuatan yang perlu dirawat melalui praktik budaya sehari-hari, termasuk kebiasaan menjaga kebersihan lingkungan.
Pemerintah Kota Kupang melalui berbagai festival budaya kelurahan menegaskan bahwa budaya tidak hanya dipandang sebagai pertunjukan, tetapi juga sebagai sarana mempererat kehidupan bermasyarakat dan memperkuat persatuan di tengah keberagaman etnis. Program festival budaya kelurahan ditargetkan menjangkau 51 kelurahan di Kota Kupang hingga November 2026 dan tahun 2026 merupakan tahun ketiga pelaksanaan program tersebut sejak 2023.
Pelestarian budaya dan kebersihan lingkungan
Pada pembukaan Festival Budaya Kelurahan Bakunase II, pesan yang ditekankan panitia dan pemerintah adalah pentingnya menjadikan seni dan budaya sebagai bagian dari kehidupan keluarga dan masyarakat. Nilai tersebut dikaitkan dengan keberagaman etnis, bahasa, dan adat di wilayah Bakunase II.
Panitia menyediakan sarana pengelolaan sampah di area kegiatan untuk menjaga kebersihan lingkungan selama festival berlangsung. Kebiasaan menjaga kebersihan disebut sebagai bagian dari budaya hidup warga dan didorong untuk terus menjadi praktik sehari-hari.
Festival berlangsung selama tiga hari dan ditutup pada 4 September 2026 setelah seluruh mata lomba dan pameran selesai. Kegiatan ini diharapkan menjadi contoh penyelenggaraan festival budaya yang memadukan pelestarian tradisi, penguatan persatuan, serta kepedulian terhadap kebersihan lingkungan.
Sumber
Berita berikutnya

Sumba Timur Promosikan 14 Desa Wisata Lewat Media Sosial
Pemerintah Kabupaten Sumba Timur mempromosikan 14 desa wisata melalui Instagram, Facebook, dan TikTok untuk memperkenalkan potensi alam, budaya, dan b…
Baca juga




