Gelar Teknologi di BBI Tarus Dorong Produktivitas Jagung NTT
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTT memperkuat pengembangan jagung melalui Gelar Teknologi Budidaya Jagung Hibrida di BBI Tarus dan program GEMA AGUNG, dengan fokus pada benih unggul, teknologi budidaya, dan kemitraan agribisnis untuk…
Oleh Arsyid Muhamad
Editor: Mursyid Sonsang
· Peristiwa: · 3 menit baca
Kupang — Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mendorong penguatan benih dan teknologi budidaya untuk meningkatkan produksi dan produktivitas jagung melalui Gelar Teknologi Budidaya Jagung Hibrida dan Bawang Merah di Balai Benih Induk (BBI) Tarus, Kabupaten Kupang, Jumat, 14 Agustus 2026.
Menurut keterangan resmi Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTT, kegiatan di BBI Tarus menjadi salah satu sarana penerapan teknologi budidaya, penggunaan benih unggul dan pengembangan kemitraan dari hulu hingga hilir untuk komoditas jagung di NTT.
Laporan IndonesiaSatu menyebut kegiatan tersebut dikemas sebagai Gebyar Gelar Teknologi Budidaya Jagung Hibrida dan pencanangan Gerakan Masyarakat Agribisnis Jagung (GEMA AGUNG), dengan melibatkan unsur pemerintah, Kementerian Pertanian, produsen benih, perbankan, perguruan tinggi, Bulog, PT Pupuk Indonesia, kelompok tani, petani milenial, dan pelaku usaha.
Produktivitas jagung dan target peningkatan
Data Kementerian Pertanian dan Dinas Pertanian NTT menunjukkan produktivitas jagung di NTT masih berkisar 2,6–3 ton per hektare, sehingga pemerintah daerah menilai masih terdapat ruang peningkatan melalui penerapan teknologi budidaya yang lebih optimal dan penguatan benih unggul.
NTT disebut memiliki luas panen jagung lebih dari 112 ribu hektare dengan produksi sekitar 260–290 ribu ton pipilan kering per tahun, sehingga penguatan produktivitas menjadi penting untuk menjawab kebutuhan pangan, pakan, dan energi sekaligus mendukung pendapatan petani.
Pemerintah provinsi mengaitkan pengembangan jagung dengan agenda kemandirian pangan, penanganan kerawanan pangan dan penguatan ekonomi masyarakat, antara lain melalui program Gerakan Masyarakat Bisnis Jagung yang diatur dalam Peraturan Gubernur NTT.
Benih dan lahan demplot di BBI Tarus
Dinas Pertanian NTT menjelaskan bahwa Gelar Teknologi di BBI Tarus memanfaatkan varietas jagung hibrida dan komposit yang ditanam pada lahan kering Balai Benih Induk. Dari rencana pengembangan seluas delapan hektare, empat hektare telah ditanami, sementara empat hektare lainnya dijadwalkan pada musim hujan berikutnya.
Kegiatan di BBI Tarus diarahkan sebagai wahana pengenalan varietas, teknik budidaya, penggunaan sarana produksi, serta penerapan teknologi pertanian yang sesuai dengan karakteristik lahan kering NTT. Pemerintah daerah menekankan bahwa modernisasi budidaya jagung menjadi fondasi untuk membangun ekosistem agribisnis dari hulu hingga hilir.
Selain jagung, Gelar Teknologi di BBI Tarus juga mencakup bawang merah berbasis True Shallot Seed (TSS), dengan demplot yang menunjukkan potensi hasil tinggi sehingga memperkuat posisi balai sebagai simpul pengembangan benih unggul di NTT.
Peran balai benih dan kolaborasi
Dalam penjelasan resmi, Dinas Pertanian NTT menempatkan balai benih sebagai bagian dari jaringan penguatan perbenihan dan pusat penerapan teknologi budidaya. BBI Tarus menjadi salah satu lokasi utama pengembangan jagung hibrida dan bawang merah, sementara balai lain di kabupaten berbeda mengembangkan komoditas sesuai karakter wilayah.
Pemerintah daerah menggandeng Kementerian Pertanian, produsen jagung hibrida nasional, PT Pupuk Indonesia, akademisi, lembaga keagamaan, perbankan dan pelaku usaha untuk memperkuat pendampingan teknis, penyediaan lahan demfarm, dan pembinaan petani.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTT Joaz Bily Oemboe Wanda menegaskan bahwa dukungan lintas sektor diperlukan agar peningkatan produksi tidak hanya terjadi dari sisi kuantitas, tetapi juga kualitas, sehingga jagung NTT dapat bersaing di pasar nasional dan membuka peluang pasar ke wilayah lain.
Arah kebijakan kemandirian pangan
Pemerintah NTT menempatkan jagung dan bawang merah sebagai komoditas strategis dalam agenda swasembada pangan dan pembangunan daerah. Melalui Gelar Teknologi di BBI Tarus dan penguatan GEMA AGUNG, pemerintah berupaya membangun sentra produksi berbasis teknologi di lahan kering.
Kebijakan tersebut terhubung dengan program lain seperti pemanfaatan bendungan, intensifikasi dan ekstensifikasi lahan, serta penguatan benih dan pangan lokal di kabupaten-kabupaten kepulauan. Strategi ini diarahkan untuk mengurangi ketergantungan pasokan dari luar NTT dan memperkuat ketahanan pangan rumah tangga petani.
Seiring pengembangan demplot dan balai benih, pemerintah menekankan pentingnya keberlanjutan dukungan berupa tenaga teknis, alat dan mesin pertanian, serta sistem kemitraan agribisnis agar peningkatan produktivitas jagung dapat bertahan dan meluas ke wilayah lain di NTT.
Sumber
Berita berikutnya

Noldy Pellokila: Gotong Royong Jadi Wujud Nyata Bela Negara
Kepala Kesbangpol NTT Noldy Hosea Pellokila menilai gotong royong sebagai wujud nyata bela negara yang dapat dilakukan masyarakat dalam kehidupan seha…
Baca juga




