K-SIGN Rote Ndao Ditargetkan Panen Perdana Garam November 2026
Pemerintah pusat menargetkan Kawasan Sentra Industri Garam Nasional (K-SIGN) di Rote Ndao memulai panen perdana pada November 2026.
Oleh Pandi Muktar
Editor: Mursyid Sonsang
· Peristiwa: · 3 menit baca
Rote Ndao — Pemerintah pusat menargetkan Kawasan Sentra Industri Garam Nasional (K-SIGN) di Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur, memulai panen atau produksi perdana garam pada November 2026. Target itu disampaikan Kementerian Kelautan dan Perikanan dan Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan dalam rangkaian penjelasan dan peninjauan kawasan sepanjang Juni hingga akhir Juli 2026.
Peninjauan K-SIGN dilakukan di Desa Matasio, Kecamatan Rote Timur, pada Kamis, 30 Juli 2026. Dalam kunjungan itu, Zulkifli Hasan didampingi Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono, serta Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Yandri Susanto untuk melihat langsung progres pembangunan kawasan yang diproyeksikan menjadi salah satu pusat industri garam terbesar di Indonesia, menurut laporan Radio Republik Indonesia (RRI).
Menurut pemberitaan Detikcom, pembangunan K-SIGN telah memasuki Tahap I dan Tahap II. Tahap I mencakup pengembangan lahan seluas 616 hektare yang telah memasuki uji coba produksi. Tahap II mencakup pengembangan lahan sekitar 751 hektare sehingga total kawasan yang dibangun pemerintah mencapai 1.368 hektare. Pemerintah menyiapkan pengembangan lanjutan hingga luas efektif kawasan sekitar 2.000 hektare untuk menopang peningkatan produksi garam nasional.
Target produksi dan kapasitas kawasan
K-SIGN dirancang sebagai kawasan industri garam modern dan terintegrasi. Pemerintah menargetkan produktivitas sekitar 200 ton garam per hektare, dengan kualitas garam berkadar natrium klorida (NaCl) hingga sekitar 97 persen, sehingga dapat memenuhi kebutuhan industri dan konsumsi dalam negeri, menurut Detikcom.
Kementerian Kelautan dan Perikanan menyebut K-SIGN akan menjadi model pengembangan industri garam nasional untuk mendukung target swasembada garam pada 2027 sebagaimana amanat Peraturan Presiden Nomor 17 Tahun 2025. Dalam penjelasan yang dikutip CNBC Indonesia, proyek K-SIGN ditargetkan dapat memproduksi hingga sekitar 2 juta ton garam per tahun dari lahan 10.000 hektare, dan kapasitas itu masih bisa ditingkatkan seiring perluasan kawasan.
Kementerian Kelautan dan Perikanan juga menjelaskan bahwa pengembangan kawasan merujuk pada Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 28 Tahun 2025 tentang lokasi pembangunan K-SIGN tahun 2025–2026. Keputusan itu menetapkan luas kawasan sekitar 10.764 hektare yang tersebar di 13 desa pada tiga kecamatan di Rote Ndao.
Jadwal panen perdana
Dalam keterangan Direktorat Jenderal Pengelolaan Kelautan Kementerian Kelautan dan Perikanan, lahan Tahap I seluas 616 hektare yang digarap sejak 2025 telah memasuki uji coba produksi dan ditargetkan panen perdana pada November 2026. Sebelumnya, pejabat KKP menyebut panen awal di K-SIGN diharapkan berlangsung sekitar Juni–Juli 2026, namun sasaran terbaru yang disampaikan pemerintah adalah November 2026.
Penjelasan RRI menyebut peninjauan pada 30 Juli 2026 dilakukan untuk memastikan kesiapan kawasan dalam mendukung ketahanan pangan nasional, termasuk penguatan produksi garam dan pembentukan ekosistem industri hilir.
Dampak bagi tenaga kerja dan ekonomi lokal
Kementerian Kelautan dan Perikanan menyatakan pengembangan K-SIGN di Rote Ndao diarahkan untuk membuka lapangan kerja baru, meningkatkan pendapatan masyarakat, dan mendorong tumbuhnya industri hilir berbasis garam di Nusa Tenggara Timur. Dalam paparan resmi, KKP memperkirakan proyek ini berpotensi menyerap lebih dari 25 ribu tenaga kerja ketika seluruh tahapan pengembangan kawasan terlaksana.
Penjelasan KKP juga menyebut pemerintah akan menyiapkan program peningkatan kapasitas masyarakat, termasuk pelatihan bagi warga pesisir dan petambak agar mampu mengelola tambak garam modern di kawasan K-SIGN. Pemerintah daerah NTT disebut RRI memperkuat peran dalam mendukung ketahanan pangan nasional melalui dukungan terhadap pembangunan K-SIGN dan pengembangan rantai pasok garam di Rote Ndao.
Sejumlah warga dan pemerintah daerah mengaitkan kehadiran K-SIGN dengan harapan tersedianya pekerjaan bagi generasi muda di Rote Ndao serta peluang usaha baru di sektor pengolahan garam. Namun, hingga pertengahan September 2026, pemerintah pusat masih fokus pada penyelesaian konstruksi tahapan awal dan uji coba produksi, sementara data rinci penyerapan tenaga kerja dan volume produksi komersial belum dipublikasikan secara luas.
Sumber
- Detikcom – "RI Bangun Sentra Industri Garam Nasional di NTT, Targetkan Setop Impor 2029"
- RRI Kupang – "Pemprov NTT Perkuat Peran dalam mendukung Ketahanan Pangan Nasional"
- KKP – Direktorat Jenderal Pengelolaan Kelautan
- CNBC Indonesia – "KKP Ajak Swasta Masuk Proyek Tambak Garam Raksasa di Rote Ndao"
Berita berikutnya

Kunjungan Wisman ke NTT Capai 29.851 pada Juli 2026
BPS NTT mencatat kunjungan wisatawan mancanegara ke Nusa Tenggara Timur mencapai 29.851 kunjungan pada Juli 2026, naik 18,67 persen dibandingkan Juli…
Baca juga



