Kajian 2017: Sampah TN Komodo 650 Kg per Hari
Kajian WWF Indonesia dan pernyataan Kepala Otoritas TN Komodo pada 2017–2018 menunjukkan produksi sampah di dalam kawasan Taman Nasional Komodo sekitar 0,65 ton atau 650 kilogram per hari, dengan komposisi didominasi plastik dan kertas…
Oleh Asyinta Sastra
Editor: Mursyid Sonsang
· Peristiwa: · 4 menit baca
Labuan Bajo — Timbunan sampah di kawasan Taman Nasional Komodo (TN Komodo) pada 2017–2018 tercatat sekitar 0,65 ton atau 650 kilogram per hari di dalam kawasan taman nasional, menurut kajian WWF Indonesia dan pernyataan Kepala Otoritas TN Komodo saat itu, Sudiyono, yang diberitakan media nasional.
Kajian WWF Indonesia tahun 2017 memperkirakan produksi sampah di Labuan Bajo sekitar 12,8 ton per hari dan di TN Komodo sekitar 0,65 ton per hari. Menurut tulisan tentang peran WWF dalam pengelolaan TN Komodo dan laporan WWF mengenai Koperasi Sampah Komodo (KSU), angka 0,65 ton per hari merujuk pada volume sampah yang dihasilkan di kawasan taman nasional.
Sudiyono dalam wawancara yang dikutip media nasional pada Januari 2018 menyatakan timbunan sampah di kawasan wisata TN Komodo rata-rata mencapai lebih dari 650 kilogram per hari. Ia menyebut timbunan terbesar terdapat di Pulau Komodo, meliputi Desa Komodo dan lokasi wisata Loh Liang, serta Pulau Rinca di Desa Pasir Panjang dan lokasi wisata Loh Buaya.
Komposisi sampah di lokasi wisata tersebut, menurut pernyataan Sudiyono yang diberitakan saat itu, terdiri atas sekitar 27 persen plastik, 29 persen kertas, 1 persen kaca atau gelas, 1 persen sisa makanan, dan 41 persen residu atau sisa material konstruksi.
Penanganan sampah di TN Komodo sekitar 2018
Dalam pemberitaan yang sama, Sudiyono menjelaskan penanganan harian sampah di lokasi wisata Loh Liang dan Loh Buaya. Sampah organik ditangani dengan cara ditimbun di lokasi, sementara sampah anorganik diangkut ke Labuan Bajo menggunakan kapal pengangkut atau kapal patroli Balai TN Komodo.
Media nasional lain pada April 2018 memberitakan langkah Balai TN Komodo untuk mengendalikan sampah dengan berbagai skema penanganan. Kepala Balai TN Komodo saat itu, Budi Kurniawan, mengatakan sampah dari kawasan wisata dan permukiman dikumpulkan dalam karung, dipilah antara sampah organik dan anorganik, lalu diangkut ke Labuan Bajo.
Pengelolaan di Labuan Bajo melibatkan Koperasi Sampah Komodo (KSU Sampah Komodo) sebagai unit pengelola sampah berbasis masyarakat. WWF Indonesia dalam laporannya pada 2018 menyebut KSU Sampah Komodo sebagai pusat pengelolaan sampah 3R (reduce, reuse, recycle) yang menerima sampah anorganik dari Labuan Bajo dan kawasan TN Komodo untuk didaur ulang.
Selain Pulau Komodo dan Pulau Rinca, kawasan lain seperti Pulau Padar dan sejumlah pantai wisata disebut sebagai sumber sampah padat di TN Komodo. Laporan lingkungan hidup pada 2018 menempatkan desa-desa di pulau-pulau itu, Pantai Pink, dan titik-titik wisata lain sebagai sumber utama sampah yang harus diangkut secara berkala.
Pelibatan masyarakat dan lembaga lokal
Pengelolaan sampah di Labuan Bajo dan TN Komodo tidak hanya melibatkan Balai TN Komodo dan WWF Indonesia. Dokumen kebijakan dan kajian akademik menyebut peran KSU Sampah Komodo sebagai koperasi yang mengelola sampah untuk dan oleh masyarakat, dengan kapasitas pengelolaan ratusan kilogram sampah 3R per hari.
Dalam rencana aksi kampanye peduli sampah di Labuan Bajo dan TN Komodo yang diterbitkan Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), penanganan sampah di dalam kawasan taman nasional disebut sebagai tanggung jawab Masyarakat Peduli Sampah (MPS) TN Komodo yang bekerja bersama Balai TN Komodo, pemerintah daerah, dan sejumlah organisasi masyarakat.
Dokumen tersebut menggambarkan pendekatan kolaboratif: pemerintah kabupaten, dinas lingkungan hidup, kepolisian, koperasi sampah, komunitas lokal, serta WWF Indonesia terlibat dalam edukasi, aksi bersih pantai, dan pembangunan infrastruktur pengelolaan sampah.
Konteks terbaru
Data rinci terkait volume sampah harian di TN Komodo pada 2026 belum dipublikasikan dalam kajian yang terbuka untuk umum. Namun, studi dan laporan lembaga resmi serta organisasi lingkungan hidup menunjukkan bahwa produksi sampah di Labuan Bajo dan TN Komodo sudah tinggi sejak sebelum 2018 dan penanganannya mengandalkan kombinasi pengangkutan ke Labuan Bajo, pengelolaan 3R oleh KSU Sampah Komodo, serta pelibatan kelompok masyarakat seperti MPS TN Komodo.
Sumber
- Republika Online - Sampah Taman Nasional Komodo 650 Kg per Hari
- WWF Indonesia - LABUAN BAJO IS FREE FROM 54.8 TONS OF PLASTIC WASTE AS A RESULT OF ONE YEAR THE KOMODO WASTE MANAGEMENT UNIT (KSU) WORK
- JOM FISIP Universitas Riau - Peran WWF dalam Pengelolaan Taman Nasional Komodo
- Mongabay Indonesia - Mengolah Sampah Anorganik di Kawasan Wisata Komodo
- Kabarindo - KSU Sampah Komodo; Sukses Bebaskan Labuan Bajo dari 548 Ton Sampah Plastik
- KSDAE KLHK - Rencana Aksi Kampanye Peduli Sampah di Labuan Bajo dan Taman Nasional Komodo
Berita berikutnya

FEB Undana Latih 30 UMKM Pariwisata di Labuan Bajo
FEB Undana melatih 30 UMKM pariwisata di Labuan Bajo bersama Universiti Kebangsaan Malaysia dan mitra dari India. Program menekankan ekonomi hijau dan…
Baca juga



