Mengapa Ekonomi NTT Tumbuh tetapi Harga Pangan Tetap Rentan?
Ekonomi NTT tumbuh 4,88 persen pada triwulan III 2025, tetapi inflasi pangan tetap dipengaruhi produksi hortikultura, siklus panen, perikanan, dan cuaca.
Oleh Pandi Muktar
· 2 menit baca
Pertumbuhan ekonomi NTT pada 2025 ditopang terutama oleh pertanian, kehutanan, perikanan, serta perdagangan, tetapi harga pangan tetap rentan terhadap perubahan produksi dan cuaca. Bank Indonesia mencatat ekonomi NTT tumbuh 4,88 persen pada triwulan III 2025, sementara inflasi mencapai 2,30 persen pada periode yang sama.
Apa penggerak utama ekonomi NTT?
Menurut Bank Indonesia dalam Laporan Perekonomian Provinsi Nusa Tenggara Timur November 2025, lapangan usaha pertanian, kehutanan, dan perikanan serta perdagangan besar dan eceran menjadi sumber pertumbuhan utama NTT pada 2025.
Ekonomi NTT tumbuh 4,88 persen secara tahunan pada triwulan III 2025, setelah tumbuh 5,38 persen pada triwulan sebelumnya, menurut Bank Indonesia, 2025. Kinerja itu menunjukkan peran besar sektor yang berkaitan langsung dengan produksi pangan, peternakan, perikanan, dan distribusi barang.
Mengapa pertumbuhan ekonomi belum otomatis menahan harga?
Bank Indonesia mencatat inflasi NTT sebesar 2,30 persen secara tahunan pada triwulan III 2025, lebih tinggi daripada 1,72 persen pada triwulan II 2025, menurut Bank Indonesia, 2025. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi salah satu pendorong utama inflasi.
Kenaikan harga pangan berkaitan dengan penurunan produksi komoditas hortikultura. Bank Indonesia juga menyebut pergeseran siklus tanam dan panen padi memengaruhi kinerja pertanian pada triwulan III 2025.
Bagaimana kondisi petani tercermin dalam angka?
Nilai Tukar Petani NTT pada Agustus 2025 mencapai 101,93, naik 2,88 persen dibandingkan Juli 2025, menurut BPS Provinsi Nusa Tenggara Timur, 2025. Angka ini merupakan perbandingan perubahan harga yang diterima petani dengan harga yang dibayar petani, bukan ukuran tunggal kesejahteraan.
Subsektor tanaman pangan memiliki NTP 102,42 pada Agustus 2025 setelah naik 5,31 persen, sedangkan NTP perikanan tangkap mencapai 92,84 setelah naik 1,22 persen, menurut BPS Provinsi Nusa Tenggara Timur, 2025. Perbedaan itu memperlihatkan bahwa perubahan harga dan biaya tidak berdampak sama pada setiap subsektor.
Apa risiko terbesar bagi ekonomi pangan NTT?
Risiko utamanya adalah gangguan produksi yang segera memengaruhi pasokan dan harga. Bank Indonesia menyatakan inflasi pangan pada 2025 juga dipengaruhi kontraksi produksi ikan-ikanan serta kondisi cuaca yang menyulitkan pelayaran, menurut Bank Indonesia, 2025.
Karena itu, angka pertumbuhan ekonomi perlu dibaca bersama indikator harga dan pendapatan petani. Pertumbuhan sektor pertanian, perikanan, dan perdagangan dapat berjalan bersamaan dengan tekanan biaya pangan jika produksi hortikultura, padi, atau ikan terganggu.
Sumber
Baca berikutnya
Lanjutan topik ini

Sumba
Tambak Udang Waingapu: Lokasi, Target Produksi, dan Jadwal Operasi
Tambak udang Waingapu di Sumba Timur dirancang sebagai kawasan budi daya terintegrasi. Pemerintah menargetkan konstruksi selesai pada 2027 dan operasi…
Terbaru di Ekonomi

Berita utama hari ini

Baca juga





