NTT Hari Ini

Senin, 21 September 2026

Pendapatan Prai Ijing Tumbuh 26 Persen Berkat Pendampingan Bakti BCA

Kampung Adat Prai Ijing di Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur, berkembang sebagai desa wisata berbasis komunitas setelah mendapat pendampingan Bakti BCA sejak 2024.

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· Peristiwa: · 4 menit baca

Sumba Barat — Kampung Adat Prai Ijing di Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur, mencatat pertumbuhan pendapatan sekitar 26 persen hingga akhir 2025 setelah mendapat pendampingan program Bakti BCA sejak 2024. Pengembangan dilakukan dengan menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama pariwisata berbasis komunitas sekaligus menjaga tradisi dan lanskap kampung adat.

Prai Ijing dikenal melalui deretan rumah adat beratap menjulang yang disebut umma kalada. Wisatawan dapat menyaksikan aktivitas menenun kain khas Sumba, mencoba permainan tradisional, serta mengenal kehidupan sehari-hari masyarakat di lingkungan kampung adat menurut laporan sejumlah media nasional.

Warga sebagai pengelola destinasi

Sejumlah pemberitaan menyebut pendampingan Bakti BCA di Prai Ijing berfokus pada penguatan kapasitas sumber daya manusia dan kelembagaan desa. Menurut penjelasan EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn, setiap desa memiliki kekayaan dan keunikan yang dapat menjadi kekuatan untuk tumbuh secara berkelanjutan, sehingga pendampingan diarahkan agar warga menjadi pelaku utama pengelolaan aset wisata di wilayahnya.

Dalam siaran pers, BCA menjelaskan bahwa Desa Wisata Kampung Prai Ijing/Tebara merupakan salah satu dari puluhan desa binaan Bakti BCA. Pendampingan yang diberikan meliputi peningkatan kapasitas sumber daya manusia, penguatan atraksi dan layanan wisata, literasi keuangan, perluasan akses pasar, serta pemberdayaan pelaku usaha lokal.

Media nasional yang mengutip keterangan BCA menulis bahwa sejak memperoleh pendampingan pada 2024, pendapatan desa wisata Prai Ijing/Tebara dari sektor pariwisata pada 2025 mencapai sekitar Rp1,4 miliar. Pertumbuhan pendapatan tersebut berlangsung seiring kenaikan kunjungan wisatawan sekitar 67 persen dibanding tahun sebelumnya.

Dua pilihan paket wisata

Prai Ijing dikembangkan melalui paket wisata yang menghubungkan pengunjung dengan pemandu lokal, rumah adat, produk tenun, makanan, dan aktivitas budaya. Laporan media lokal di Nusa Tenggara Timur menyebutkan, Pokdarwis Prai Ijing bersama Bakti BCA menghadirkan dua paket wisata utama.

Paket Prai Ijing Full Day Tour berdurasi sekitar enam hingga delapan jam dengan tarif Rp430.000 per orang. Paket ini mencakup tur kampung bersama pemandu lokal, pengenalan arsitektur dan sejarah rumah adat, permainan tradisional, lokakarya tenun, hidangan lokal, penggunaan pakaian adat, serta suvenir bagi pengunjung.

Bagi wisatawan dengan waktu terbatas, tersedia Prai Ijing Heritage Tour dengan durasi maksimal tiga jam dan biaya Rp250.000 per orang. Paket ini meliputi tur sejarah kampung adat, lokakarya pembuatan kain tenun, makanan ringan lokal, sesi foto dengan pakaian adat, pendampingan pemandu lokal, dan suvenir.

Laporan yang sama menyebut keberadaan paket homestay Prai Ijing dengan tarif sekitar Rp300.000 per orang per malam. Fasilitas ini mencakup tiga kali makan, sehingga wisatawan dapat tinggal lebih lama dan berinteraksi lebih dekat dengan kehidupan warga di kampung adat.

Menjaga nilai budaya dan manfaat ekonomi

Pemberitaan mengenai Prai Ijing menekankan bahwa pengembangan desa wisata tidak hanya berfokus pada peningkatan jumlah kunjungan, tetapi juga pada manfaat ekonomi bagi masyarakat serta pelestarian warisan budaya. Dalam berbagai penjelasan BCA, program Bakti BCA dinyatakan bertujuan mendukung pariwisata berkualitas dan kemandirian ekonomi kreatif di tingkat lokal.

Di Prai Ijing, aktivitas tur rumah adat, lokakarya tenun, penyajian makanan lokal, permainan tradisional, penggunaan pakaian adat, dan layanan homestay membuka ruang bagi warga untuk terlibat dalam rantai layanan wisata. Media nasional mencatat bahwa penguatan kelembagaan desa dan peran kelompok sadar wisata menjadi salah satu cara memastikan warga memperoleh manfaat ekonomi dari pariwisata.

Bagi pengunjung, ragam paket menyediakan pilihan berdasarkan lama kunjungan dan jenis pengalaman yang diinginkan, mulai dari tur singkat hingga tinggal bersama warga. Bagi pengelola, keberlanjutan model ini bergantung pada kemampuan menjaga kualitas layanan, menyalurkan manfaat ekonomi secara lebih merata, serta melindungi tradisi dan lingkungan kampung adat agar tetap lestari.

Sumber

Berita berikutnya

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.