Perkelahian di Wae Ri’i, Satu Pemuda Tewas dan Empat Motor Dibakar
Perkelahian antarkelompok warga seusai pesta ucapan syukur Komuni Suci Pertama di Kecamatan Wae Ri’i, Manggarai, menyebabkan Benediktus Paang, 19 tahun, meninggal dunia.
Oleh Arsyid Muhamad
Editor: Mursyid Sonsang
· 3 menit baca
Ruteng — Perkelahian antarkelompok warga di Kecamatan Wae Ri’i, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, seusai pesta ucapan syukur Komuni Suci Pertama, menyebabkan seorang pemuda bernama Benediktus Paang, 19 tahun, meninggal dunia dan memicu aksi perusakan rumah serta pembakaran empat sepeda motor.
Benediktus adalah warga Kampung Timung, Desa Golo Cador, Kecamatan Wae Ri’i.
Menurut keterangan Kapolres Manggarai AKBP Levi Defriansyah melalui Kasi Humas Polres Manggarai AKP GST Putu Saba Nugraha, Benediktus sebelumnya ikut terlibat dalam perkelahian kelompok warga pada Jumat, 18 September 2026 malam, lalu mengeluhkan sakit pada bagian kepala dan perut setelah kembali ke kampung.
Pada Sabtu, 19 September 2026 sekitar pukul 07.00 WITA, keluarga membawa Benediktus ke Puskesmas Timung untuk mendapatkan pertolongan medis, namun petugas menyatakan korban telah meninggal dunia sebelum tiba di fasilitas kesehatan tersebut.
Kronologi perkelahian dan aksi massa
AKP GST Putu Saba Nugraha menjelaskan, rangkaian peristiwa berawal dari penerimaan Komuni Suci Pertama di Gereja Paroki Timung pada Jumat pagi sekitar pukul 09.00 WITA.
Sebanyak 20 siswa kelas V sekolah dasar mengikuti misa tersebut, kemudian warga menggelar pesta ucapan syukur di rumah masing-masing yang dihadiri keluarga dan kerabat.
Sekitar pukul 20.00 WITA, terjadi perkelahian di jalan raya, tepat di depan kemah pesta milik seorang warga berinisial A.J. di Kampung Wohe, Desa Bangka Jong, Kecamatan Wae Ri’i.
Perkelahian melibatkan kelompok warga Kampung Timung, Desa Golo Cador, dengan kelompok warga Kampung Wohe, Desa Bangka Jong.
Berdasarkan informasi awal yang diterima kepolisian, sebagian warga yang terlibat perkelahian diduga berada dalam pengaruh minuman keras yang dikonsumsi saat pesta.
Pasca perkelahian, kelompok warga Kampung Timung kembali ke kampung mereka.
Kematian Benediktus pada Sabtu pagi kemudian memicu ketegangan antara dua kampung.
Menurut laporan yang dikutip iNews Sumba dari Tribrata News Polres Manggarai, sekitar 100 warga Kampung Timung mendatangi rumah seorang warga Kampung Wohe berinisial I.R., 45 tahun, yang diduga terkait dengan penganiayaan terhadap Benediktus.
I.R. disebut berhasil menyelamatkan diri, namun rumahnya mengalami kerusakan berat, dan empat sepeda motor yang berada di depan rumah dibakar massa.
Langkah kepolisian dan imbauan pemerintah
Polres Manggarai menurunkan personel ke lokasi untuk mengendalikan situasi dan mencegah bentrokan susulan antara warga dua kampung.
Menurut pemberitaan media lokal yang mengutip keterangan Kapolres Manggarai, aparat mengamankan dan menggalang warga dari Kampung Timung dan Kampung Wohe, serta melibatkan tokoh masyarakat dan tokoh adat untuk meredakan ketegangan.
Wakil Bupati Manggarai Fabianus Abu menyatakan penyesalan atas peristiwa perkelahian yang menyebabkan Benediktus Paang meninggal, serta perusakan rumah dan pembakaran empat sepeda motor di Kampung Wohe.
Ia mengingatkan bahwa pemerintah kabupaten telah melarang sementara kegiatan pesta dan acara seremonial selama masa tanggap darurat bencana gempa bumi di wilayah Manggarai, sesuai instruksi bupati yang berlaku sejak 15 Agustus hingga 28 September 2026, dan mengimbau warga untuk tidak mengadakan pesta pada periode tersebut.
Hingga laporan ini disusun, kepolisian masih melakukan penyelidikan atas dugaan penganiayaan berakibat kematian dan rangkaian peristiwa perusakan serta pembakaran kendaraan di Wae Ri’i.
Sumber
Berita berikutnya
Kerangka Manusia Ditemukan di Naioni Kupang, Polisi Selidiki Identitas
Kerangka diduga tulang manusia ditemukan di sebidang tanah milik warga di Kelurahan Naioni, Kecamatan Alak, Kota Kupang, Kamis, 17 September 2026.

