NTT Hari Ini

Senin, 21 September 2026

PIP-DJPb Latih 12 Penenun TTU Olah Tenun Jadi Produk Fesyen

Pusat Investasi Pemerintah bersama Kanwil DJPb NTT menggelar pelatihan menjahit bagi 12 penenun Kampung UMi Klaster Tenun TTU di Gerai Nice Handycraft Kupang.

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· 4 menit baca

Kupang — Sebanyak 12 penenun dari Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) mengikuti Bimbingan Teknis Menjahit Program Kampung UMi Klaster Tenun di Gerai Nice Handycraft, Jalan Vetnai, Kota Kupang, pada pertengahan September 2026. Pelatihan ini digelar Pusat Investasi Pemerintah (PIP) bersama Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) NTT untuk mengembangkan kain tenun menjadi produk turunan bernilai jual lebih tinggi.

Kegiatan berlangsung selama 18 hari di Gerai Nice Handycraft, dengan periode pelaksanaan yang oleh sejumlah sumber disebut antara 13 sampai 30 September 2026. Pelatihan diikuti 12 penenun, terdiri atas 10 perempuan dan dua laki-laki, yang berasal dari enam desa dan tergabung dalam 11 kelompok di Kabupaten TTU.

Pembukaan pelatihan ditandai dengan penyerahan bantuan alat menjahit kepada peserta secara simbolis oleh perwakilan Kanwil DJPb NTT bersama PIP. Kegiatan ini menjadi bagian dari pembinaan berkelanjutan Program Kampung UMi Klaster Tenun yang dirancang hingga 2027 untuk memperkuat kapasitas usaha mikro dan ultra mikro di sektor tenun TTU.

Dari kain tenun menjadi produk fesyen

Menurut laporan media lokal, Bimtek Menjahit merupakan kelanjutan pembinaan tahun ketiga Program Kampung UMi Klaster Tenun. Sebelumnya, pendampingan difokuskan pada peningkatan kualitas kain tenun, antara lain melalui pelatihan pewarna alami, perbaikan mutu, pembaruan pola, serta penyediaan peralatan bagi penenun di enam desa di TTU.

Perwakilan Kanwil DJPb NTT menyatakan pengembangan produk turunan diperlukan agar tenun tidak hanya dijual dalam bentuk kain lembaran. Keterampilan menjahit yang diajarkan dalam pelatihan diharapkan membantu peserta mengolah kain tenun menjadi produk fesyen dengan nilai jual lebih tinggi, seperti jaket dan tas, sekaligus mempertahankan motif dan kearifan lokal.

Jaket berbahan tenun yang diproduksi Nice Handycraft diperkenalkan sebagai salah satu contoh diversifikasi produk. Model tersebut ditunjukkan kepada peserta pelatihan sebagai bentuk yang dapat dikembangkan lebih lanjut di Kampung Tenun TTU.

Pewarna alami dan sasaran pasar

Dalam pemberdayaan Kampung UMi Klaster Tenun, penggunaan pewarna alami menjadi salah satu ciri produk tenun TTU yang disorot PIP dan DJPb. Pendekatan ini disebut sejalan dengan preferensi sebagian pasar luar negeri yang lebih menyukai produk berbahan alami.

Pelatihan menjahit selama 18 hari ini juga dikaitkan dengan upaya memperluas akses pasar melalui skema off-taker di Kupang, Jakarta, dan Surabaya, serta penjajakan pasar Eropa dan Amerika. Media yang sama menyebut pengembangan produk turunan tenun diarahkan agar penenun TTU dapat menembus pasar luar negeri, meski tanpa merinci nama pembeli maupun volume kontrak.

PIP menyatakan pendampingan Kampung UMi Klaster Tenun berorientasi pada kemandirian pelaku usaha hingga 2027. Dukungan yang diberikan meliputi alat tenun, mesin jahit dan obras, bahan baku, pelatihan teknis, serta pendampingan manajerial kelompok. Hingga 2024, sekitar 150 penenun di enam desa menerima bantuan alat dan pelatihan pewarna alami serta literasi usaha.

Harapan kemandirian penenun TTU

Perwakilan PIP yang menangani kerja sama pendanaan menjelaskan bahwa pengembangan produk turunan tenun di TTU diharapkan memperkuat kapasitas produksi dan membuka jalur pemasaran yang lebih luas bagi penenun binaan. Program ini dirancang sebagai pemberdayaan berbasis komunitas agar penenun tidak hanya bergantung pada penjualan kain lembaran.

DJPb NTT mendorong agar keterampilan menjahit yang diperoleh selama pelatihan ditularkan kepada generasi muda di Kampung Tenun TTU. Harapan tersebut berkaitan dengan keberlanjutan tradisi tenun sekaligus upaya menjadikan kelompok penenun lebih mandiri dalam mengelola usaha dan akses pasar.

Bagi penenun, pengembangan produk turunan seperti jaket, tas, dan aksesori membuka pilihan selain menjual kain. Namun keberhasilan peningkatan nilai ekonomi tetap ditentukan oleh kualitas jahitan, konsistensi motif dan pewarnaan, kapasitas produksi, pembiayaan, serta jaringan pemasaran yang masih terus diperkuat melalui pendampingan PIP dan DJPb NTT.

Sumber

Berita berikutnya

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.