NTT Hari Ini

Senin, 21 September 2026

PLTS Hambapraing 1.000 kWp Perkuat Listrik Sumba Timur

PLTS Hambapraing di Sumba Timur berkapasitas 1.000 kWp, beroperasi sejak Februari 2017, dan terhubung ke jaringan PLN 20 kV Waingapu. Pembangkit ini menjadi salah satu penopang sistem kelistrikan Pulau Sumba.

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· Peristiwa: · 2 menit baca

Buka foto ukuran besar. Foto arsip: Bukit Wairinding terletak di Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, Indonesia.
Foto arsip: Bukit Wairinding terletak di Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, Indonesia. · Foto: Zahrasrtn / Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0

Waingapu — PLTS Hambapraing di Sumba Timur berkapasitas 1.000 kWp dan telah beroperasi sejak Februari 2017. Pembangkit surya ini terhubung ke jaringan PLN 20 kV Waingapu dan menjadi salah satu penopang sistem kelistrikan Pulau Sumba, menurut laporan Listrik Indonesia dan publikasi ICCTF.

Laporan Listrik Indonesia pada 15 September 2026 menyebut PLTS Hambapraing menggunakan 3.872 panel surya di lahan sekitar dua hektare. Laporan itu juga menyatakan produksi optimal pembangkit berlangsung pada pukul 11.00–14.00 WITA dan listriknya memasok jaringan PLN yang melayani sekitar 28.000 pelanggan di Sumba Timur.

ICCTF dalam laporan kunjungan lapangan 2019 menulis PLTS Hambapraing mulai konstruksi pada 2016 dan resmi beroperasi sejak Februari 2017 dengan kapasitas 1 MW. Laporan itu juga menyebut pembangkit ini merupakan PLTS terbesar di Pulau Sumba pada saat itu.

Sejumlah laporan lain menempatkan Hambapraing dalam peta transisi energi Sumba. Dokumen IESR mencatat PLTS Hambapraing sebagai salah satu pembangkit IPP di Nusa Tenggara Timur dengan status commercial operation date pada 19 Februari 2017.

Dalam publikasi ICCTF, operasional PLTS Hambapraing sempat dipengaruhi cuaca. Saat cuaca berawan atau hujan, output pembangkit dilaporkan turun di bawah 50 persen dan sistem PLN perlu menyiapkan pembangkit cadangan.

Dengan kapasitas 1 MW, PLTS Hambapraing menjadi bagian dari jaringan listrik Sumba Timur yang mengandalkan kombinasi pembangkit energi terbarukan dan sistem PLN. Laporan-laporan yang ada tidak merinci produksi tahunan, faktor kapasitas, atau kontribusi persis pembangkit ini terhadap total kebutuhan listrik Sumba.

Riwayat pengembangan PLTS Hambapraing juga menunjukkan pergeseran perhatian dari pembangunan ke operasi. Setelah mulai konstruksi pada 2016, pembangkit ini memasuki operasi komersial pada Februari 2017 dan kemudian beberapa kali ditinjau sebagai contoh pemanfaatan energi surya untuk listrik kepulauan di Nusa Tenggara Timur.

Dalam konteks Pulau Sumba, keberadaan PLTS Hambapraing memperlihatkan bagaimana energi surya dipakai untuk memperkuat pasokan listrik jaringan. Laporan yang tersedia juga menyebut perlunya koordinasi operasional dengan PLN saat produksi surya berubah karena kondisi cuaca.

Data teknis yang dapat dipastikan:

  • Kapasitas terpasang: 1.000 kWp.
  • Mulai beroperasi: Februari 2017.
  • Jumlah panel surya: 3.872 unit.
  • Luas lahan: sekitar dua hektare.
  • Jaringan penyaluran: PLN 20 kV Waingapu.
  • Produksi optimal: pukul 11.00–14.00 WITA.

Catatan konteks: informasi yang tersedia menempatkan PLTS Hambapraing sebagai bagian dari sistem kelistrikan Sumba, tetapi tidak memberi rincian teknis terbaru mengenai penyimpanan energi, daya dukung cadangan, atau kinerja harian pada 15 September 2026.

Sumber

Berita berikutnya

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.