Puskeswan Tangani Kelahiran Anak Kerbau Berkepala Dua di Manggarai Barat
Seekor kerbau di Kampung Pinggong, Manggarai Barat, melahirkan anak kembar siam dengan satu badan dan dua kepala pada Selasa, 25 Agustus 2026.
Oleh Asyinta Sastra
Editor: Mursyid Sonsang
· Peristiwa: · 3 menit baca
Labuan Bajo — Seekor kerbau milik Alfons Harmin melahirkan anak kembar siam dengan satu badan dan dua kepala di Kampung Pinggong, Desa Golo Ndaring, Kecamatan Sano Nggoang, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, pada Selasa, 25 Agustus 2026. Anak kerbau tersebut lahir dalam kondisi sudah mati menurut laporan media lokal yang mengutip keterangan petugas Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) Kecamatan Sano Nggoang.
Proses kelahiran dibantu tim Puskeswan Kecamatan Sano Nggoang. Koordinator Puskeswan, Syprianus Andi, menjelaskan kepada media bahwa petugas datang ke lokasi ketika anak kerbau sudah dalam keadaan mati dan kemudian menangani proses persalinan induk kerbau pada Kamis, 27 Agustus 2026.
Pada pemeriksaan awal, petugas belum langsung mengetahui bahwa anak kerbau itu merupakan kembar siam. Syprianus mengatakan dugaan kembar dipastikan setelah petugas menemukan daun telinga yang berbeda pada kedua kepala, dengan posisi salah satu kepala melengkung dan menutup jalan lahir.
Kasus tersebut terjadi di Kampung Pinggong, Desa Golo Ndaring, Kecamatan Sano Nggoang, dengan waktu kelahiran pada Selasa, 25 Agustus 2026. Anak kerbau lahir mati dengan satu badan dan dua kepala, sehingga dinyatakan sebagai kembar siam oleh petugas Puskeswan.
Penanganan oleh Puskeswan
Menurut Syprianus, petugas awalnya berupaya menyesuaikan posisi anak kerbau dengan kondisi di dalam jalan lahir. Tim memberikan suntikan hormon perangsang, kemudian merogoh dan mencoba menarik anak kerbau secara perlahan, tetapi upaya tersebut tidak berhasil karena salah satu kepala menghalangi proses kelahiran.
Setelah berkonsultasi dengan pemilik kerbau, petugas memutuskan melakukan fetotomi, yaitu tindakan pemotongan bagian tubuh janin untuk membantu mengeluarkannya dari jalan lahir. Dalam penanganan ini, petugas memotong leher salah satu kepala anak kerbau.
Syprianus menjelaskan, setelah leher salah satu kepala dipotong, kepala kembar lainnya berputar ke posisi normal sehingga anak kerbau dapat dikeluarkan dari jalan lahir. Ia menambahkan bahwa proses tersebut rumit dan berisiko karena peralatan yang tersedia di lapangan terbatas.
Konteks dan penjelasan ahli
Peristiwa kelahiran anak kerbau berkepala dua di Kampung Pinggong menarik perhatian warga dan kemudian mendapat tanggapan dari dokter hewan. Seorang ahli kesehatan hewan yang diwawancarai media menjelaskan bahwa kerbau yang lahir dengan dua kepala termasuk kelainan bawaan atau congenital malformation yang sangat jarang terjadi.
Menurut ahli tersebut, kasus anak kerbau kembar siam di Manggarai Barat dapat diklasifikasikan sebagai derodymus, yakni salah satu bentuk kelainan bawaan pada hewan. Penjelasan ini diberikan untuk membantu masyarakat memahami bahwa kasus seperti ini terkait proses perkembangan janin dan bukan kejadian biasa dalam usaha ternak.
Peristiwa di Sano Nggoang ini menambah catatan kasus kelahiran hewan dengan kelainan bentuk di Manggarai Barat. Petugas Puskeswan dan pejabat otoritas veteriner di wilayah itu sebelumnya juga menjelaskan kepada media pentingnya pemeriksaan kesehatan reproduksi ternak dan mitigasi perkawinan berisiko untuk mengurangi kemungkinan kelainan bawaan, meski dalam kasus anak kerbau berkepala dua ini belum dipaparkan rinci faktor pemicunya.
Sumber
Berita berikutnya

Bulog Bongkar 150 Ton Beras Movenas di Pelabuhan Labuan Bajo
Perum Bulog membongkar sekitar 150 ton beras mobilisasi nasional (Movenas) di Pelabuhan Labuan Bajo pada 21 Agustus 2026.
Baca juga





