NTT Hari Ini

Senin, 21 September 2026

RIPPARDA Kupang 2026–2030 Dikaitkan dengan Wisata Religi Semau

Pemerintah Kabupaten Kupang menyiapkan RIPPARDA 2026–2030 bersamaan dengan rencana pembangunan Patung Kristus di Pulau Semau sebagai ikon wisata religi.

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· Peristiwa: · 4 menit baca

Buka foto ukuran besar. Foto arsip: Tanjung Kupang Memorial Park, Kebun Teh, Johor Bahru, Johor, Malaysia.
Foto arsip: Tanjung Kupang Memorial Park, Kebun Teh, Johor Bahru, Johor, Malaysia. · Foto: Chongkian / Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0

Kupang — Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Daerah (RIPPARDA) Kabupaten Kupang 2026–2030 tengah disiapkan sebagai dasar pengembangan pariwisata, bersamaan dengan rencana pembangunan Patung Kristus di Pulau Semau dan pengembangan destinasi lain di wilayah Kabupaten Kupang.

Pemerintah Kabupaten Kupang menargetkan Pulau Semau sebagai salah satu lokomotif baru pariwisata daerah melalui pembangunan Patung Kristus di Bukit Hansisi, yang dijadwalkan mulai dikerjakan pada 2026. Bupati Kupang Yosef Lede menyebut patung ini sebagai ikon wisata religi yang diharapkan menarik wisatawan dan membuka peluang ekonomi bagi masyarakat Semau.

Rencana pembangunan Patung Kristus di Hansisi telah beberapa kali disampaikan pejabat daerah. Sekretaris Daerah Kabupaten Kupang Mateldius Soleman Jilis Sanam menjelaskan patung setinggi sekitar 40 meter akan dibangun di Tanjung Batu Kong, Desa Hansisi, Kecamatan Semau, sebagai bagian dari program Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) dengan tujuan wisata rohani. Bupati Kupang Yosef Lede menyatakan anggaran sekitar Rp 30 miliar telah disiapkan dari APBD untuk pembangunan patung tersebut.

Pulau Semau Diproyeksikan Jadi Destinasi Unggulan

Pemerintah Kabupaten Kupang memproyeksikan Pulau Semau menjadi destinasi unggulan pariwisata dengan prioritas pada wisata religi Patung Kristus Hansisi, pengembangan Pantai Liman, dan pemanfaatan Bendungan Uikiban di Letbaun. Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Kupang, Marthen Timate, menyatakan patung di Hansisi akan menjadi ikon baru pariwisata Kabupaten Kupang dan diharapkan meningkatkan kunjungan wisatawan sekaligus membuka peluang usaha bagi warga sekitar.

Dalam kunjungan kerja ke Pulau Semau, Bupati Kupang menegaskan bahwa pengembangan destinasi di Semau merupakan bagian dari strategi mempercepat pertumbuhan sektor pariwisata dan ekonomi lokal. Pemerintah daerah menyiapkan belanja infrastruktur dan fasilitas penunjang, termasuk akses jalan dan penataan kawasan sekitar lokasi patung.

Di luar Semau, Kabupaten Kupang juga mengaitkan pengembangan pariwisata dengan proyek nasional Observatorium Timau di wilayah Amfoang, yang disebut sebagai salah satu daya tarik baru berbasis observatorium dan ilmu pengetahuan. Proyek ini dipandang dapat memperkuat citra kawasan savana dan pegunungan sebagai destinasi yang berbeda dari wisata pantai dan religi.

Arah Kebijakan dan Keterbatasan Fiskal

Pemerintah Kabupaten Kupang menyatakan pembangunan Patung Kristus Hansisi merupakan program prioritas bidang pariwisata dalam RPJMD, dengan fokus pada wisata religi sebagai salah satu penggerak ekonomi daerah. Pejabat daerah menekankan bahwa pengembangan pariwisata perlu diikuti penguatan infrastruktur dasar agar wisatawan dapat tinggal lebih lama dan aktivitas ekonomi lokal meningkat.

Kabupaten Kupang menghadapi keterbatasan fiskal sehingga alokasi anggaran untuk proyek patung dan penataan kawasan perlu dipadukan dengan pengembangan akses jalan, fasilitas dasar, dan dukungan bagi pelaku usaha lokal. Pemerintah daerah menyebut belanja untuk Semau sebagai investasi jangka panjang agar pulau tersebut dapat menjadi tujuan wisata premium dengan dampak ekonomi yang lebih luas.

RIPPARDA 2026–2030 diharapkan menjadi payung kebijakan untuk memilih kawasan prioritas, mengintegrasikan wisata religi di Semau, wisata alam di pantai dan savana, serta potensi observatorium di Amfoang. Arah kebijakan kepariwisataan kabupaten, menurut dokumen-dokumen perencanaan umum, mencakup pengembangan destinasi, pemasaran, industri pariwisata, dan kelembagaan.

Manfaat Ekonomi dan Keterlibatan Masyarakat

Sejumlah akademisi Undana dalam kajian kepariwisataan daerah menekankan pentingnya orientasi kebijakan yang tidak hanya mengejar jumlah kunjungan wisatawan, tetapi juga memperhatikan lama tinggal wisatawan dan keterlibatan tenaga kerja lokal, UMKM, dan kelompok masyarakat. Pendekatan tersebut dinilai lebih relevan untuk meningkatkan pendapatan asli daerah dan kesejahteraan warga di sekitar destinasi.

Pariwisata berbasis masyarakat, seperti pengembangan homestay dan kuliner lokal, disebut sebagai cara untuk memperpanjang masa tinggal wisatawan dan memperluas manfaat ekonomi. Kelembagaan lokal seperti kelompok sadar wisata (Pokdarwis) dan pelatihan sumber daya manusia dipandang penting agar warga mampu mengelola layanan dan usaha yang muncul dari arus wisatawan.

Dalam kerangka RIPPARDA dan RPJMD, pemerintah daerah dan akademisi mendorong agar indikator keberhasilan pariwisata mencakup penyebaran manfaat ekonomi kepada masyarakat, bukan hanya pembangunan fisik atau ikon wisata. Tantangan ke depan adalah memastikan koordinasi lintas sektor berjalan dan keterbatasan fiskal tidak menghambat penguatan akses, amenitas, dan pelaku usaha lokal.

Sumber

Berita berikutnya

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.