NTT Hari Ini

Senin, 21 September 2026

Tradisi Etu Nagekeo, Tinju Adat yang Menjaga Persaudaraan

Tradisi tinju adat Etu di Nagekeo dilaksanakan sebagai ritual syukur panen dan pengikat persaudaraan. Pelestarian Etu didorong sejalan dengan pengembangan kampung adat Boawae sebagai daya tarik budaya dan wisata.

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· Peristiwa: · 4 menit baca

Buka foto ukuran besar. Foto arsip: Pulau Kinde Terletak di Utara Flores, Desa Tendakinde Kecamatan Wolowae Kabupaten Nagekeo Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Foto arsip: Pulau Kinde Terletak di Utara Flores, Desa Tendakinde Kecamatan Wolowae Kabupaten Nagekeo Provinsi Nusa Tenggara Timur. · Foto: Niko Segu Do / Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0

Kupang — Tradisi tinju adat Etu di Kabupaten Nagekeo, Flores, didorong untuk terus dilestarikan sebagai bagian dari identitas budaya dan daya tarik wisata daerah. Tradisi ini tetap rutin digelar di Kampung Adat Boawae, Kecamatan Boawae, sebagai rangkaian ritual panen yang sakral bagi masyarakat setempat.

Etu adalah pagelaran tinju adat yang dilakukan para pemuda di alun-alun tengah kampung (kisanata) di hadapan tiang adat peo, simbol persatuan masyarakat. Pertarungan dilakukan dengan sarung tinju tradisional dari sabut kelapa atau ijuk yang dipintal, dikenal sebagai kepo, dan menjadi bagian dari upacara syukur atas hasil kebun.

Berbagai kajian dan laporan pariwisata menyebut tradisi ini terus dipertahankan sebagai warisan leluhur sekaligus atraksi budaya yang menarik wisatawan ke Nagekeo. Tradisi Etu juga dijalankan di sejumlah kampung adat lain di sekitar Boawae dengan penamaan berbeda, seperti Sagi di wilayah Ngada dan Mbela di Riung, yang tetap berada dalam lingkup tinju adat Flores bagian tengah.

Ritual syukur dan pengikat persaudaraan

Sejumlah peneliti dan tokoh adat Boawae menjelaskan Etu sebagai ritus ungkapan syukur kepada Tuhan dan leluhur atas panen, sekaligus sarana mempererat persatuan dan persaudaraan antar-suku. Darah yang menetes ke tanah dalam pertarungan dipandang sebagai persembahan bagi bumi dan leluhur agar tanah tetap subur dan panen berikutnya melimpah.

Etu dilaksanakan setahun sekali berdasarkan kalender adat, umumnya pada bulan Juni–Juli ketika masyarakat memasuki masa panen. Di Kampung Boawae, pelaksanaannya hanya boleh dilakukan pada bulan Juni sesuai aturan adat. Sebelum pertunjukan utama, masyarakat mengikuti rangkaian ritual, doa, dan pertunjukan seni musik serta tari dero di halaman kampung.

Penelitian tentang nilai-nilai Etu di Boawae menekankan bahwa tradisi ini memuat nilai penghormatan kepada leluhur, solidaritas, keberanian, dan kedisiplinan. Pertarungan berlangsung dalam bingkai hubungan kekeluargaan: para petarung berasal dari kampung-kampung sekitar, saling menguji ketangkasan, tetapi tetap terikat kewajiban menjaga rasa hormat dan kedamaian setelah acara.

Pelaksanaan dan peran kampung adat

Berbagai sumber menjelaskan bahwa Etu hanya dapat digelar di ruang adat yang ditetapkan, yakni kisanata di depan rumah adat (sa’owaja) dan tiang peo. Ketua adat menjadi penanggung jawab pelaksanaan ritual bersama para kepala suku dan tokoh masyarakat. Keputusan tentang waktu pelaksanaan, peserta, dan tata cara pertarungan diambil melalui musyawarah adat.

Laporan pariwisata daerah mencatat bahwa Etu di Kampung Adat Boawae tetap digelar dan menarik kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara. Informasi resmi pariwisata menyebut atraksi Etu sebagai pengalaman khas Nagekeo yang hanya dapat disaksikan pada periode panen, dengan pengaturan waktu yang mengikuti perhitungan posisi bulan.

Kajian akademik tentang partisipasi masyarakat dalam tinju adat Etu menggambarkan keterlibatan warga pada setiap tahap, mulai dari pertemuan persiapan, penentuan aturan, hingga pelaksanaan. Partisipasi itu dipandang penting untuk memastikan bahwa pengembangan Etu sebagai atraksi budaya dan wisata tetap menempatkan masyarakat adat sebagai pemilik dan penentu tradisi.

Pelestarian di tengah perubahan

Peneliti yang mengkaji tradisi Etu di Boawae menyebut tradisi ini telah mengalami evolusi, tetapi eksistensinya tetap dipertahankan hingga sekarang. Perubahan yang terjadi antara lain berkaitan dengan cara pementasan, penyesuaian aturan keselamatan, dan pembukaan akses bagi penonton dari luar kampung.

Pemerhati budaya dan pengelola pariwisata daerah mendorong agar Etu terus dilestarikan sebagai identitas lokal dan daya tarik wisata, dengan menjaga makna ritus dan peran kampung adat. Pelestarian menuntut keterlibatan generasi muda dalam memahami nilai-nilai adat, tata cara pelaksanaan, dan batas keselamatan yang disepakati komunitas.

Dalam konteks pengembangan pariwisata, sejumlah tulisan menekankan perlunya pengaturan yang menjamin bahwa Etu tidak semata menjadi tontonan fisik, melainkan tetap menjadi medium penghormatan kepada leluhur dan pengikat persaudaraan masyarakat Nagekeo.

Sumber

Berita berikutnya

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.